
Hari persalinan Bintang bertepatan dengan hari liburan sekolah anak-anak.
Bintang dan Dipa terlihat tidak tega melihat anak-anak menghabiskan liburan mereka di rumah karena hari persalinan Bintang yang semakin dekat.
"Mas, aku dan Dina ada rencana akan membawa anak-anak berlibur ke Bali.. bagaimana Mas, boleh tidak ?" tanya Leon pada suatu hari.
"Iya Mas..biar anak-anak kami bawa saja, biar kalian bisa fokus sama hari kelahiran si kembar..lagian kasian juga kalau selama liburan sekolah mereka tidak pergi kemana-mana" timpal Dina.
"Tapi nanti Lu repot Na..ada tiga anak loh, lagi aktif-aktifnya lagi terutama Langit, belum lagi Bunga dan Lana yang suka bertengkar " Bintang mengingatkan.
"Gue yakin bisa Bi, karena sebetulnya gue..hhmm.." Dina tampak ragu untuk melanjutkan ucapannya.
"Sebetulnya apa ?" sambar Dipa.
Dina dan Leon saling lirik dan terlihat ragu untuk berbicara.
"Sebetulnya aku sudah janjian sama Mbak Elsa. Kita mau liburan bersama di Bali sambil ngasuh anak-anak...Mbak Elsa tidak berani bilang ke Mas Dipa karena takut dilarang setelah kejadian membawa Bunga diam-diam ke Surabaya " akhirnya Dina melanjutkan ucapannya.
"Iya Mas..kata Mbak Elsa mau bantu jagain anak-anak sambil berlibur jadi kalian bisa fokus sama kelahiran si kembar " Leon menambahkan.
Dipa dan Bintang saling tatap. " Bagaimana Neng ?" tanya Dipa minta pertimbangan Bintang.
"Aku sih tidak mungkin melarang Mas, Mbak Elsa kan ibunya Bunga, dia juga berhak bertemu dengan Bunga " jawab Bintang.
Dipa tampak terdiam dengan alis nyaris bertaut.
"Baiklah aku ijinkan..tapi kalian yang harus bertanggung jawab sepenuhnya atas anak-anak. Aku tidak mau Elsa sampai mengulangi perbuatannya membawa Bunga pergi diam-diam " tutur Dipa tegas.
"Iya Mas..kita yang akan bertanggung jawab " jawab Leon yakin.
Setelah mendapat ijin dari Dipa keesokannya Dina dan Leon pun membawa Bunga, Langit dan Lana ke villa mereka di Ubud.
Papa Ardi dan Mama Niken memutuskan tetap di Jakarta untuk menemani Bintang.
Sejak keberangkatan Dina, Leon dan anak-anak ke Bali, Mama Niken dan Papa Ardi memutuskan menginap di rumah Bintang bersama besan mereka. Mereka kompak menjadi Orangtua siaga karena Bintang bisa melahirkan kapan pun.
Setiap pagi Dipa menemani Bintang jalan-jalan diseputaran taman komplek. Karena Bintang mengandung anak kembar perut Bintang pun terlihat lebih besar dibanding kehamilan normal.
"Kakinya pegal tidak Neng ?" tanya Dipa sambil memijit kaki Bintang yang sedang berselonjor diatas pahanya sepulang jalan-jalan pagi.
"Lumayan " jawab Bintang sambil meringis ketika kedua bayi mereka bergerak sangat lincah didalam perutnya.
"Jangan berantem ya di perut Bunda " Bintang mengelus perutnya.
__ADS_1
"Jangan seperti Kak Bunga dan kak Lana yang suka berantem " Dipa ikutan mengelus perut Bintang.
"Hust..jangan nyalahin Bunga dan Lana " omel Bintang.
"Baiklah..jangan seperti Bunda dan Aunty Dina ya yang suka berantem " ralat Dipa.
"Sayang kenapa ngomongnya begitu ? tidak lucu tau " Bintang langsung cemberut.
"Loh memangnya begitu kan kenyataannya, kamu dan Dina suka berantem "
"Itu kan dulu Mas " jawab Bintang.
Bintang menurunkan kakinya dari pangkuan Dipa, kini kepalanya yang bersandar di dada Dipa membuat Dipa semakin leluasa mengelus perut buncit Bintang.
"Anak-anak sedang apa ya sekarang ?" tanya Bintang. Baru beberapa hari yang lalu Dina dan Leon membawa mereka pergi Bintang sudah merasa rindu sekali.
"Aku bel Dina ya " Dipa mengambil gawainya dan menghubungi Dina melalui sambungan video.
Tidak lama kemudian wajah Dina pun muncul.
"Pasti mau nanyain anak-anak ya ? tuh..mereka mau pada berenang sekarang mereka sedang disuapi makan oleh Mbak Elsa "
Dina mengarahkan kamera ponselnya menuju kolam renang dimana Elsa sedang menyuapi ketiga bocah makan. Ketiganya sudah mengenakan pakaian renang. Tidak jauh dari mereka Leon dan suami Elsa berdiri di pinggir kolam sedang melakukan peregangan otot.
Setelah selesai melakukan panggilan video dan melihat anak-anak ada dalam keadaan baik Bintang pun terlihat lega.
Namun kelegaan di wajah Bintang seketika sirna berganti dengan sebuah ringisan.
"Mereka bergerak lagi Neng ?" tanya Dipa.
"Perut aku sakit Mas " jawab Bintang masih meringis.
"Apa sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang ?" wajah Dipa langsung terlihat cemas.
"Jangan dulu, mulas nya masih jarang-jarang, kata dokter kalau interval waktunya semakin pendek itu tandanya sudah dekat " jawab Bintang.
"Kamu yakin Neng ?" tanya Dipa ragu.
"Iya..sekarang kamu elysin saja perut akunya " pinta Bintang.
"Ini daritadi juga kan aku elus " jawab Dipa.
"Eh iya " Bintang terkekeh. " kalau begitu punggungnya saja !" Bintang duduk dipangkuan Dipa dan memeluk leher pria tampan itu. Dipa pun mengelusi punggung Bintang yang merasa pegal.
__ADS_1
"Kalau berasa sakit lagi kamu bilang ya Neng, aku tidak mau sampai si kembar brojol disini " bisik Dipa.
"Heeumm " hanya itu jawaban Bintang. Berada dalam pelukan Dipa membuat Bintang merasa nyaman dan rasa mulas yang ia rasakan sedikit mereda.
Namun beberapa jam kemudian Bintang pun kembali mengeluh perutnya semakin sakit dan ia tidak menolak ketika Mama Niken dan Dipa memaksa membawanya ke rumahsakit bersalin.
Dipa menggendong Bintang masuk kedalam mobil sementara Mama Niken membawa tas berisi perlengkapan bayi.
Papa Ardi dan Papa David sudah siap di mobilnya siap mengantarkan Bintang ke rumah sakit.
Papa Ardi mengingatkan besannya agar tenang dan tidak gugup saat menyetir sementara Mama Niken dan Dipa menenangkan Bintang yang sedang kesakitan menahan kontraksi.
"Atur napas Neng, sebentar lagi kita sampai " Mama Niken mengusap-usap punggung Bintang.
"Iya Mah " jawab Bintang.
"Di..kamu juga harus tenang dong jangan panik begitu !" Mama Niken memukul tangan Dipa yang terlihat berwajah sangat pucat.
"A..aku cuma gugup Mah, aku belum pernah melihat orang yang akan melahirkan" jawab Dipa.
Dalam keadaan kesakitan Bintang sempat ingin tertawa melihat wajah Dipa yang pucat pasi namun berusaha ia tahan.
Karena jarak rumah Dipa dengan rumahsakit tidak terlalu jauh mereka pun cepat sampai dan Bintang langsung ditangani oleh dokter kandungan yang selama ini menangani kehamilan Bintang.
Bintang langsung dibawa ke ruang bersalin karena pembukaannya sudah hampir lengkap.
"Kalau tidak kuat sebaiknya kamu ga usah nemenin aku Mas " tutur Bintang ketika melihat wajah Dipa yang tampak pucat.
"Kamu ini kenapa sih Neng, aku itu Ayahnya..jadi aku harus menemani kamu melahirkan anak-anak kita " Dipa sedikit marah karena Bintang terkesan mengusirnya.
"Aku cuma kasian saja sama kamu ..aaww aduuuh " jawab Bintang sambil meringis.
Dipa akhirnya menemani Bintang ketika proses persalinan akan dimulai.
Dipa sampai meneteskan air mata ketika melihat perjuangan Bintang untuk melahirkan kedua buah hati mereka. Dipa mengabaikan rasa sakit ditangannya ketika kuku-kuku tajam Bintang menancap di lengannya ketika Bintang berusaha mendorong dengan kuat agar salah satu bayinya keluar.
Dipa terlihat sedikit lega ketika salahsatu bayi mereka lahir dan menangis kencang.
Hanya berselang satu menit bayi kedua pun lahir dan menangis tidak kalah kencang dari kakaknya.
"Sa..sayang..itu bayi kita. Aku seperti mimpi bisa menyaksikan kelahiran mereka Neng " Dipa menangis tersedu sambil menciumi seluruh wajah Bintang. " Terimakasih Neng geulis "
Diluar ruangan bersalin wajah Papa Ardi , Mama Niken dan Papa David yang awalnya terlihat cemas kini langsung terlihat lega.
__ADS_1
"Itu suara tangis cucu kita "