
Dina dan Bintang kembali ke mobil setelah menyerahkan Bunga ke tangan Elsa. Sejak meninggalkan Bunga bersama Elsa dan suaminya di hotel mereka tidak ada yang bersuara.
"Lo dan Mbak Elsa tadi ngomongin gw ya !" tebak Bintang ketika Dina mulai melajukan mobilnya.
"Siapa bilang..kepedean Lo " kilah Dina.
"Telinga gw masih normal jadi gw tau kalian ngomongin gw..tapi gw sebenarnya ga peduli sih kalian mau ngomongin gw juga " ujar Bintang. Dina pun memilih diam untuk menghindari pertengkaran.
"Bi..kita makan bakso di dekat sekolah yuk !" ajak Dina memecah kesunyian diantara mereka.
"Boleh..tapi Lo yang traktir " jawab Bintang.
"Ck..Lo itu ga dulu ga sekarang sukanya minta traktir " cebik Dina.
Meskipun kesannya menggerutu namun Dina terlihat senang karena Bintang merespon ajakannya.
"Gw bukan ga punya uang , cuma gw kangen saja ditraktir sama Lo seperti dulu " jawab Bintang.
"Oke..gw traktir Lo makan bakso sepuasnya. Dulu juga Lo kan kalau makan bakso ga cukup satu mangkok " ujar Dina.
"Iya gw suka nambah tapi Lo juga suka ikut yang ngabisin " bela Bintang. Dina pun terkekeh.
Dina dan Bintang secara tidak sadar sedang mengenang masa-masa kebersamaan mereka dulu.
Bintang yang merupakan anak panti asuhan dengan keterbatasan keuangan sering ditraktir oleh Dina. Sebagai imbalannya Bintang sering mengerjakan tugas sekolah milik Dina.
Hubungan mereka adalah simbiosis mutualisme. Kedekatan keduanya tidak jarang membuat teman-teman mereka iri.
Ketika kedua sahabat itu akhirnya sama-sama dikeluarkan dari sekolah karena hamil tidak sedikit teman-teman mereka yang mencibir dan menghujat.
Mobil Dina berhenti tepat di depan warung bakso tempat mereka dulu nongkrong setiap pulang sekolah. Biasanya disana Dina menemani Bintang yang sedang menunggu dijemput oleh Leon.
Turun dari mobil mereka masuk dan memesan dua porsi bakso. Bintang dan Dina beruntung mendapat bangku ditempat yang dulu biasa mereka duduki.
"Bi..Lo inget ga dulu kita pernah berantem disini sama si Iren comel ?" tanya Dina.
Memori Bintang kembali pada peristiwa beberapa tahun yang lalu ketika mereka bertengkar dengan Iren teman sekelas mereka karena Dina dan Iren rebutan Felix si ketua OSIS.
Dina dan Iren pernah Nasir cowok yang sama dan mereka pernah bertengkar di warung bakso ini. Saat itu Bintang tentu saja membela Dina karena Dina adalah sahabatnya.
Karena pertengkaran itu Iren, Dina dan Bintang mendapat hukuman skorsing selama dua hari karena pemilik warung mengadukan kepada pihak sekolah atas pertengkaran mereka yang mengakibatkan beberapa kerusakan di warung bakso itu.
Bintang dan Dina yang sedang menikmati baksonya melotot ketika orang yang mereka bicarakan tiba-tiba muncul di depan mereka.
"Ck.. ck..ga nyangka bisa bertemu dengan dua sahabat sejati ini." Iren melipat dada berdiri di depan Bintang dan Dina.
__ADS_1
"Kenapa, iri ? maaf gw ga level temenan sama Lo " jawab Dina pedas. Dari dulu Dina memang termasuk anak yang bermulut pedas.
'Tentu saja gw tidak selevel dengan kalian..kalian kan gadis-gadis nakal yang dikeluarkan dari sekolah karena bunting.. segitu kompaknya kalian sampai hamil pun barengan " cibir Iren.
Dina dan Bintang yang bersumbu pendek pun langsung tersulut emosi dan pertengkaran pun tidak dapat dihindari.
Adu mulut ketiga wanita itu pun berkembang menjadi adu jotos. Iren pun tentu saja kalah karena harus menghadapi Bintang dan Dina.
Keributan ketiga wanita itu baru berhenti setelah ketiganya digiring ke kantor polisi karena pemilik warung bakso yang tidak bisa melerai akhirnya memilih melapor ke kantor polisi terdekat karena ketiga wanita itu sudah membuat keributan diwarung bakso miliknya dan mengganggu pembeli yang lain.
Dipa dan Leon yang diberitahu jika Bintang dan Dina sedang ada di kantor polisi buru-buru menyusul. Mereka meninggalkan Langit dan Lana bersama Papa Ardi dan Mama Niken.
Dipa dan Leon tampak kaget melihat penampilan Bintang dan Dina yang berantakan bersama seorang wanita sebayanya yang terlihat lebih berantakan daripada Bintang dan Dina.
Petugas kepolisian tampaknya sudah mendamaikan mereka. Bintang, Dina dan Iren sudah membuat surat pernyataan jika mereka tidak akan membuat keributan lagi di tempat umum. Dan mereka bertiga bertanggung jawab atas kerusakan yang terjadi di warung bakso.
"Kalian itu bikin malu saja berantem di tempat umum !" Omel Dipa sambil menggiring Bintang dan Dina ke parkiran setelah ketiga wanita itu berdamai.
"Si Iren duluan Mas yang ngatain kita " bela Dina.
"Ngatain apa ?" tanya Leon.
Bintang dan Dina saling lirik, mereka enggan membuka mulut.
"Ngatain apa ?" tanya Dipa tidak sabar.
Dipa dan Leon pun langsung terdiam. Secara tidak langsung mereka adalah penyebab kemalangan yang dialami oleh Bintang dan Dina karena mereka yang telah membuat Bintang dan Dina hamil sehingga dikeluarkan dari sekolah.
Pulangnya mereka terpisah. Dina pulang bersama Leon sedangkan Bintang pulang bersama Dipa.
"Maaf ya Neng..kalian jadi mendapat ejekan dari Iren " Dipa menyentuh tangan Bintang setelah mereka berada di dalam mobil.
"Kenapa harus minta maaf ? aku tidak kesal sama kamu..aku masih kesal saja sama si Iren " jawab Bintang.
"Jadi kamu dan Dina tadi mengeroyok Iren ?" tanya Dipa.
"Iya..habis mulutnya jahat banget " jawab Bintang.
"Ya ampuun..kamu itu cantik-cantik galak banget sih Neng " Dipa mengacak rambut Bintang dengan gemas.
"Apa sewaktu sekolah kalian sudah bermasalah dengan anak itu ?" tanya Dipa penasaran.
"Iya Mas..dulu aku dan Dina juga pernah berantem dengan Iren di warung bakso itu " jawab Bintang.
"Ya ampuun Neng..aku baru tau kalau kamu dan Dina dulunya bandel " Dipa geleng-geleng kepala.
__ADS_1
Dipa tentu saja tidak tau bagaimana dekatnya Bintang dan Dina dulu karena Dipa lama tinggal di luar negri.
Setibanya di rumah Bintang mendapati Langit sedang tertidur dalam gendongan Mama Niken.
"Langit tadi sempat nangis waktu lihat kalian pergi " ujar Mama Niken kepada Dipa.
"Gimana ceritanya sampai kalian berada di kantor Polisi ?" Papa Ardi menatap tajam kearah Bintang dan Dina.
"Kami berantem Pah..Si Iren ngatain kita hamil diluar nikah jadi kita kesel dan akhirnya berantem " jawab Dina sambil.menunduk.
"Dua lawan satu ?" tanya Papa Ardi.
"Iya Pah " kali ini Bintang yang menjawab.
"Ya Tuhaaan..kalian itu bikin malu saja " omel Papa Ardi.
"Habisnya di Iren yang mancing duluan " bela Dina.
"Iya tapi kalian juga tetap salah " Papa Ardi tidak membenarkan apa yang dilakukan oleh Bintang dan Dina.
"Kalian itu giliran akur malah bikin onar " omel Mama Niken sambil mengusap-usap punggung Langit yang tertidur dalam dekapannya.
"Maaf Mah " jawab Bintang dan Dina lirih.
"Sudah mandi sana..lihat penampilan kalian berantakan sekali " titah Mama Niken.
Bintang masuk ke kamar untuk mandi begitu juga Dina. Bintang tidak mengambil Langit dari gendongan Mama Niken karena menurut Mama Niken Langit belum benar-benar pulas.
"Emang enak dimarahin Mama dan Papa " ledek Dipa yang baru saja menjatuhkan bokongnya di sofa yang ada dikamar mereka.
"Tidak apa-apa, yang penting aku sudah puas karena tadi sempat Jambak si Iren " jawab Bintang sambil meloncat keatas pangkuan Dipa dan memperagakan bagaimana ia tadi menjambak rambut Iren membuat Dipa sampai mendongak ke sandaran sofa.
"Jangan galak-galak dong Neng geulis " pinta Dipa sambil memeluk pinggang Bintang.
"Anggap saja rekontruksi " jawab Bintang sambil terkekeh.
Dipa menurunkan tangannya dari pinggang menuju ke bokong Bintang dan meremasnya.
"Kamu sudah tidak dendam kan sama aku karena sudah membuat Langit terkahir ke dunia ?" tanya Dipa.
"Tidak " jawab Bintang sambil menggigit dagu Dipa namun Dipa dengan cepat malah menyambar bibir Bintang.Keduanya larut dalam ciuman yang panas sehingga lupa menutup pintu kamar.
Mama Niken yang hendak mengantarkan Langit yang sudah tertidur lelap pun langsung mengomel.
"Kalau mau kangen-kangenan jangan lupa tutup pintunya " omel Mama Niken sambil membaringkan Langit diatas kasur.
__ADS_1
"Maaf Mah " Bintang buru-buru turun dari pangkuan Dipa dengan wajah yang merah merona karena malu.