Istri Simpanan

Istri Simpanan
Usaha Shanti Dan Rizal


__ADS_3

Menjelang tidur semua sudah memakai piyama couple nya. Bunga dan Langit sudah selesai menggosok giginya dan bersiap untuk tidur. Namun sebelum tidur Bunga dan Langit tiba-tiba merengek ingin tidur bersama dengan Ayah dan Bundanya.


"Aku ingin kita tidur bersama seperti waktu kita ngikutin Bunda ke Garut itu Yah " pinta Bunga polos.


Mendengar permintaan Bunga, Bintang pun langsung melotot kearah Dipa ternyata benar jika saat itu Dipa memang sengaja mengikutinya.


"Dasar Bunga tidak bisa jaga rahasia " Dipa menggerutu.


"Jangan menyalahkan Bunga, sudah jelas kamu yang salah pake mungkir segala kalau kamu memang sengaja ngikutin aku " Bintang tidak suka Dipa menyalahkan Bunga.


"Hmm belain Bunga..kenapa ya sekarang kok aku merasa jika kalian bertiga itu sengaja mengucilkan aku " keluh Dipa.


"Siapa bilang..itu hanya perasaan kamu saja kali " jawab Bintang.


"Ayaaahh..Bundaaa..sudah berantemnya aku ngantuk " Langit melingkarkan tangan dan kakinya di perut Dipa.


"Bunda tuh yang ngajak berantem duluan " sungut Dipa sambil mengusap-usap punggung Langit.


"Bukan Bunda yang ngajak berantem duluan, tapi Ayah. Bunda hanya belain aku " ucap Bunga dari dalam pelukan Bintang.


"Dasar kalian ya..tidak ada yang belain Ayah . Awas saja nanti uang jajan kalian Ayah potong " Ancam Dipa pura-pura kesal.


Padahal hatinya sedang sangat bahagia karena malam ini mereka benar-benar tidur dalam selimut yang sama dan memakai piyama seragaman. Apalagi melihat Bunga yang tidur begitu nyaman dalam pelukan Bintang.


Bunga dan Langit tidak bergeming dengan ancaman main-main Dipa karena kedua bocah itu sudah tertidur pulas.


Sebetulnya Bintang tidak nyaman berada dalam satu ranjang dengan Dipa terlebih ranjang Bintang terlalu sempit untuk ditiduri berempat. Tapi Bintang tidak tega untuk mengusir Dipa, dan Dipa sendiri sepertinya enggan untuk pindah ke kamar tamu. Akhirnya malam itu mereka tidur berdesakan berempat di kamar Bintang.


Keesokannya Bintang bangun kesiangan. Ketika membuka matanya Dipa sudah tidak ada di ranjang mereka. Bintang pun buru-buru beranjak ke dapur untuk menyiapkan sarapan.


Ketika sampai di dapur Bintang kaget mendapati Dipa sedang sibuk di depan kompor dan wajan.


"Mas sedang apa ?" tanya Bintang.


"Bikin nasi goreng untuk sarapan " jawab Dipa tanpa menoleh sedikitpun kepada Bintang karena sedang sibuk mengaduk nasi didalam wajan.


"Memang bisa ?..aku tidak mau ya sampai anak-anak sakit perut gara-gara makan masakan kamu " Bintang meragukan kemampuan Dipa di dapur.


"Kamu jangan ngeremehin aku Neng, aku tiga tahun di Australia tanpa ada pembantu..jadi aku terbiasa masak sendiri " jawab Dipa.


"Mau icip ?" Dipa mengambil satu sendok nasi goreng dari wajan kemudian ia tiup-tiup sampai tidak terlalu panas dan ia suapkan ke mulut Bintang. "Bagaimana..enak ?"


"Iya enak..Ini aman untuk anak-anak" jawab Bintang.

__ADS_1


Selagi Dipa menyelesaikan pekerjaannya, Bintang menyiapkan piring dan membuat susu hangat untuk Bunga dan Langit.


"Stok susu anak-anak banyak banget Neng, seperti yang mau buka toko saja " Dipa melirik kontener di dapur yang dipenuhi oleh kotak-kotak susu.


"Tau tuh Kak Daniel terlalu rajin ngirim susu " jawab Bintang.


Dipa menghentikan sejenak pekerjaannya untuk menoleh kearah Bintang. " Daniel yang kirim..dia kesini ?" tanya Dipa.


"Orang suruhannya yang kirim, kak Daniel belum berani datang langsung kesini " jawab Bintang.


"Ooh " Dipa bergumam sambil kembali melanjutkan pekerjaannya.


Bunga dan Langit bangun disaat Dipa dan Bintang selesai berjibaku di dapur.


Bunga dan Langit muncul dengan muka bantalnya yang terlihat sangat menggemaskan. Bintang langsung menggiring kedua bocah itu untuk di mandikan namun perhatian Bintang terpecah oleh suara teriakan tukang sayur di depan rumah.


"Neng Geulis..sayuur..!"


"Biar anak-anak aku yang mandiin , kamu ke depan saja berisik daritadi teriak-teriak manggilin Neng Geulis " Dipa mengambil alih pekerjaan Bintang memandikan Bunga dan Langit.


"Beneran bisa ?" lagi-lagi Bintang meragukan kemampuan Dipa.


"Kamu itu selalu tidak percaya sama aku. Jangankan mandiin anak-anak, mandiin kamu juga aku bisa " ucap Dipa menggoda.


"Ayah..jangan suka ledekin Bunda, jadi Bundanya marah kan " omel Bunga.


"Bunda itu lucu kalau lagi marah " Dipa terkekeh sambil menyabuni kedua buah hatinya. Langit yang tidak bisa diam membuat Dipa harus lebih ekstra mengawasi bocah tampan itu dibanding Bunga. Mungkin karena anak laki-laki batin Dipa.


Setelah selesai dimandikan , Dipa pun memakaikan baju yang sudah disiapkan oleh Bintang sebelumnya. Tidak lupa ia juga memakaikan kayu putih disekujur tubuh Bunga dan Langit sehingga kedua bocah itu sangat wangi khas bayi. Terakhir Dipa menyisir rambut Bunga dan Langit. kali ini Bunga lah yang membutuhkan kesabaran lebih karena rambut Bunga yang panjang dan hampir melewati bahu..dan Bunga tampak meringis kemudian meminta Bintang saja yang menyisir rambutnya.


"Disisir sama Ayah sakit, kalau sama Bunda tidak sakit " Bunga mengadu ketika Bintang melanjutkan pekerjaan Dipa setelah selesai belanja sayuran.


Dipa hanya mendengus karena sekarang Bunga selalu mengadu kepada Bintang. Padahal selama ini Bunga tidak pernah semanja itu kepada Elsa.


Dipa merasa cemburu kepada Bunga yang dapat dengan mudah mendapatkan perhatian Bintang, sedangkan dirinya masih saja tidak ada kemajuan seperti jalan di tempat.. sepertinya ia harus merubah strategi agar Bintang secepatnya menjadi miliknya seutuhnya.


Aktifitas keluarga kecil itu semakin hangat dengan kedatangan Shanti dan Rizal juga Cilla. Mereka datang sengaja untuk menjemput Langit dan Bunga. Rizal dan Shanti mengajak ketiga bocah itu pergi jalan-jalan.


"Mbak yakin ga akan kerepotan megang tiga anak ?" Bintang menatap Shanti ragu.


"Tenang Bi..kan ada Mas Rizal. Kamu ga usah khawatir gitu deh " jawab Shanti.


Sementara Dipa malah terlihat senang anak-anak ikut dengan Shanti dan Rizal. Dengan tidak adanya anak-anak Dipa mempunyai kesempatan untuk berdua dengan Bintang.

__ADS_1


"Aku ga tenang biarin anak-anak ikut Mbak Shanti dan Mas Rizal " Bintang menatap mobil Rizal yang perlahan mulai melaju meninggalkan rumah Bintang.


"Bukannya Langit sudah biasa ikut mereka, kenapa khawatir begitu ?" tanya Dipa.


"Kali ini yang ikut bukan cuma Langit tapi Bunga juga, aku takut Mbak Shanti dan Mas Rizal kerepotan " jawab Bintang.


"Tidak akan , aku tadi udah nasehatin Bunga agar jangan bikin repot Mbak Shanti dan Mas Rizal " Dipa berusaha menenangkan Bintang.


Setelah kepergian anak-anak Bintang langsung mengunci diri di kamarnya membuat Dipa menjadi bosan sendiri. Harapan Dipa untuk bisa berduaan dengan Bintang pupus sudah karena Bintang tidak ada tanda-tanda akan keluar kamar.


Namun Dipa tidak hilang akal, perlahan diketuknya pintu kamar Bintang dan tidak lama kemudian Bintang melongokan kepalanya di balik pintu. " Ada apa ?" tanyanya singkat.


"Aku tidak enak badan , semalam tidur berdesakan jadinya badan aku pegal..bisa minta tolong pakaikan kayu putih di punggung aku ?" tanya Dipa.


Bintang menatap sejenak wajah Dipa ragu. Dipa pun memasang wajah se memelas mungkin. Bintang pun akhirnya tidak tega untuk menolaknya.


Dipa langsung masuk ke kamar Bintang tanpa sempat Bintang cegah. Pria tampan itu langsung membuka kaosnya hingga bertelanjang dada.


"Mas ngapain sih pake buka baju segala " omel Bintang enggan mendekat kearah Dipa.


"Loh..kan mau pakai kan kayu putih " jawab Dipa.


"Tapi kan akunya risi tau soalnya kita cuma berdua di rumah "


"Ya ampun Neng..kita itu suami istri. Mau melakukan apapun kita itu sudah halal " jawab Dipa sambil memberikan punggungnya kepada Bintang.


Karena tidak ada pilihan lain akhirnya Bintang pun mengambil kayu putih milik Langit dan mulai mengolesi punggung Dipa dengan tangan sedikit gemetar.


Untuk sejenak Dipa memejamkan matanya ketika tangan halus itu mulai bergerak di punggungnya dan menghasilkan geleyar aneh yang menjalar di sekujur tubuh Dipa secara tiba-tiba.


Dipa yang takut tidak bisa mengendalikan diri akhirnya meminta Bintang untuk berhenti.


"Kenapa Mas..tidak enak ya ?" tanya Bintang.


"Aku sudah merasa enakan " jawab Dipa sambil memakai kaosnya kemudian buru-buru keluar dari kamar Bintang.


"Ck..aneh sekali " gumam Bintang sambil menatap kepergian Dipa.


Keluar dari kamar Bintang, Dipa langsung mengunci diri di kamar tamu. Bintang dan Dipa baru keluar dari kamar masing-masing ketika Shanti dan Rizal juga anak-anak pulang.


Melihat Bintang dan Dipa keluar dari kamar yang berbeda membuat Shanti dan Rizal saling pandang.


"Sepertinya usaha kita untuk menyatukan mereka belum berhasil Mas " bisik Shanti.

__ADS_1


"Iya " jawab Rizal.


__ADS_2