Istri Simpanan

Istri Simpanan
Part 14. Istri Simpanan


__ADS_3

...Happy Reading!...


Setelah acara pernikahan usai dan orang tua berserta kedua adik Aleeya pun telah berpamitan pulang ke kota tempat tinggal mereka. Meninggalkan Aleeya seorang diri di kota Jakarta yang akan menjadi tempat tinggalnya sekarang dan kehidupan barunya akan dimulai.


Aleeya menaiki anak tangga dengan berpegangan pada besinya. Aleeya merasa kelelahan dan membutuhkan istirahat untuk mengembalikan tenaganya. Semantara Abigail tengah membersihkan diri dalam kamar mandi. Keluar dari kamar mandi wajah Abigail langsung berubah datar melihat pemandangan yang tak seharusnya dilihatnya.


"Kenapa tidak beristirahat dikamar bawah saja," kata Abigil dingin.


"Astagfirullah." ucap Aleeya beristigfar, kaget melihat pria yang baru saja sah menjadi suaminya bertelanjang dada dihadapannya sekarang.


"Ingat kamu cuma istri simpanan bagi saya. Karena istri yang saya cintai hanya satu," tandas Abigail tetap saja dingin dan ketus terhadap Aleeya.


Aleeya hanya mengangguk mengerti akan posisinya, meskipun hanya seorang istri simpanan, Aleeya tetap berharap suatu saat nanti Abigail berubah dan menganggapnya layaknya seorang istri yang tentu saja ingin dicintai serta diratukan dalam hati suaminya. Harapan harapan yang ingin sekali terwujud dalam benak Aleeya sekarang. Aleeya yakin suatu saat nanti Abigail akan menerima dirinya, untuk itu Aleeya harus sabar menanti semua harapannya, tentu dibarengi doa dan usaha.


"Heh kau dengar tidak barusan saya bilang apa," tegur Abigail ketus.


"Eum i-iya aku mendengarnya," sahut Aleeya gugup berhadapan dengan Abigail membuat Aleeya ketakutan, apalagi menatap mata tajam pria itu membuat ingin menangis seketika.


"Jika dengan, kenapa masih berdiri disini? Sana keluar, saya sangat lelah hari ini dan ingin beristirahat dengan tenang," ucap Abigail mengusir Aleeya keluar dari kamar.


"Ta-tapi aku lelah jika naik turun tangga, bolehkan malam ini aku tidur di kamar ini. Aku janji besok pagi akan bangun lebih cepat," kata Aleeya, sungguh ia merasa sangat lelah sama seperti Abigail.


"Oke baiklah, kali kau saya izinkan tidur diranjang bersama. Tetapi ingat janji mu, kalau sampai saya bangun kau masih berada di ranjang bersama saya ataupun menyentuh tubuh saya sedikit saja. Lihat hukuman apa yang akan kau terima, saya tidak pernah main-main." Abigail jika bicara tak pernah mengancam, sebab pria itu tak suka bermain-main dalam hal menyangkut ketidaknyamannya.


Mendengar itu Aleeya langsung menangguk, sembari lekas pergi masuk dalam kamar mandi membersikah dirinya. Aleeya lupa membawa pakaian, terpaska ia harus mengenakan handuk menutupi tubuhnya, bahkan handuk tersebut hanya mencapai setengah pahanya saja.


"Semoga saja tuan menyeramkan itu sudah tidur," ucap Aleeya berdoa sebelum akhirnya keluar, berjalan sangat pelan kearah tasnya mengambil pakaian daster yang sering digunakan dimalam hari.


Abigail memicingkan mata, melihat istri simpanan, tengah berjalan dengan handuk yang menutup setengah pahanya. Handuk tersebut membentuk lekuk badan istri simpanannya.


'Glek' Abigail menelan ludah kasar, bagaimanapun dirinya tetaplah pria normal pada umumnya. Membangkitkan sesutu dalam dirinya, Abigail mencoba untuk acuh memilih memejamkan matanya menghilang pikiran-pikiran kotor dalam otaknya.


Sedangkan Aleeya dengan santai memakai pakaian ditempatnya mengambil, tanpa berpikir sewaktu-waktu Abigail bangun dan melihatnya. Aleeya yang malas balik ke kamar mandi memutuskan untuk memakai pakaian, sembari memandang kearah ranjang memastikan suaminya telah tertidur.


Aleeya lantas memasukan handuk ke dalam tempat pakaian kotor. Lalu ia merebahkan diri disamping Abigail dengan guling sebagai batasan mereka.


Tak lama kemudian Aleeya tertidur pulas. Abigail membuka matanya ketika mendengar suara dengkuran orang sebelahnya. Abigail merasa tidak bisa tidur mengingat bentuk tubuh istri simpanannya.

__ADS_1


"Sialan, wanita ini mulai menganggu pikirankan," umpat Abigail keras saat sudah berada dilantai bawah. Ia juga mengacak rambut, sehingga menjadi berantakan.


Dreeettt...dreeettt....


Ponsel Abigail bergetar, membuat langsung melihah ke layar handphone, munculah nama dan foto istri tercintanya. Abigail mengangkat telponnya dengan cepat, sebelum panggilan tersebut berakhir.


"*Halo sayang."


"Mas aku kangen kamu, kapan balik*," ucap Ghina manja diseberang sana.


"Besok aku balik sayang, aku juga merindukan mu," ungkap Abigail bicara lembut pada istri tercintanya.


"Beneran mas?"


"*Iya sayang, kamu mau dibeliin apa? biar mas belikan."


"Engga usah mas, asal mas balik dengan selamat saja udah ngebuat aku senang."


"Kalau kamu engga mau nyebutin apa yang kamu pengen. Biar mas saja yang mencarikannya."


"Jam segini kenapa kamu belum tidur sayang*?" tanya Abigail.


"*Aku gak bisa tidur, gaada kamu."


"Kamu tidur sekarang, sambil mas temanin*."


Ghina yang berada dirumah mewah dan diranjang segera menutup mata, tak lupa menyelimuti dirinya. Abigail masih tetap mengajak istrinya mengobrol sampai akhirnya suara istrinya tidak terdengar lagi. Abigail tahu pasti istrinya telah tertidur lelap, saat dirinya mematikan sambungan telpon dan Abigail memilih tidur di sofa ruang tamu daripada kembali ke dalam kamar melihat istri simpanan yang malah akan menganggu kerja otaknya.


Semantara itu di dalam kamar Aleeya gelisah merasa tidak nyaman dengan perutnya. Mata bumil lantas terbuka, menegok ke sisi kanan ternyata suaminya tidak ada.


"Dimana tuan menyeramkan itu," gumam Aleeya sambil mengelus perutnya.


Aleeya kembali mencoba memejamkan matanya, tetap tidak bisa. Perut terus saja tak nyaman. Aleeya memutuskan turun dari ranjang dan keluar dari kamar, perlahan kakinya melangkah menurun anak tangga satu persatu dengan pelan-pelan, takut kaki tergelincir dan jatuh.


Sampai di lantai bawah, mata Aleeya tak sengaja memandang kearah sofa dan melihat kaki dan rambut seseorang yang ia tebak itu pasti adalah suaminya. Kakinya membawanya melangkah mendekati, perut Aleeya masih terasa tak nyaman. Aleeya malah tidak sadar mengambil telapak tangan Abigail, mengangkat pelan supaya orangnya tidak terbangun. Aleeya mengangkat dasternya keatas, lalu menempelkan telapak tangah suaminya ke perut yang belum keliatan besar. Barulah Aleeya merasakan perutnya menjadi nyaman.


"Ternyata kamu pengen dielus sama ayah ya nak," gumam Aleeya memainkan telapak tangan Abigail, seperti sedang mengelus perutnya.

__ADS_1


Setelah merasa cukup nyaman, Aleeya mengembalikan tangan Abigail. Bukan balik naik ke lantai atas Aleeya memilih melangkah ke dapur. Aleeya membuka kulkas menemukan ayam dan bumbu instan nasi goreng. Aleeya yang tak melihat adanya perbawangan di dapur. Akhirnya memilih menggunakan bumbu instan nasi goreng. Entah kenapa dirinya merasa sangat lapar, tidak ingin balik ke lantai atas sebelum perutnya kenyang.


Dengan cekatan Aleeya memasak nasi goreng, hanya membutuhkan waktu lima belas menit saja nasi goreng buatan telah mateng. Aroma nasi goreng sampai ke hidung Abigail.


"Heum harum sekali," ucap Abigail masih dengan mata terpejam dan tangan mengelus perut.


Abigail semakin mengendus aromanya yang tidak hilang, matanya akhirnya terbuka.


"Siapa yang memasak tengah malam kaya gini," ucap Abigail melangkah ke dapur mendapati istri simpanan sedang menyantap nasi goreng.


'Plak' Abigail menggeplak meja, sehingga mengagetkan Aleeya yang lagi makan, sampai tersedak.


"Uhuk! Uhuk!" Aleeya langsung meminum air yang untungnya telah disiapkannya.


"Kau kenapa memasak tengah malam seperti ini? Menganggu kenyamanan tidur saya saja, bisa tidak kau membuat ku lebih tenang. Kau sudah menghancurkan pernikahan dan mengacaukan hidup saya. Apa itu kurang cukup bagi mu dan sekarang kau arghh." Abigail berteriak kesal, mengepalkan tangannya kuat.


"Hiks, maafkan aku tu-tuan. Aa-aku merasa lapar, engga bisa tidur sebelum perut ku kenyang. Aa-aku juga engga tau kenapa tiba-tiba menjadi lapar tengah malam, padahal aku engga pernah sekalipun kelaparan tengah malam," ucap Aleeya terbata-bata sembari menangis.


"Huh! Apa nasi goreng mu masih ada, jika ada siapkan juga untuk saya. Cepat! Jangan lambat," titah Abigail menetralkan emosi yang ingin sekali meluapkan pada gadis yang tengah menangis.


Aleeya tidak menyahut dan menggeser kursinya. Aleeya dengan cepat mengambil piring dan mengisi dengan nasi goreng buatannya. Menaruh piring tersebut ke hadapan Abigail.


Abigail lantas segera memakannya. Abigail seperti lupa akan dirinya yang tidak pernah makan ditengah malam. Sedangkan Aleeya juga melanjutkan makannya yang sempat terhenti gara-gara Abigail. Mereka berdua menikmati makanan dalam keheningan.


...****************...


Guys! Ayo guys join grup chat antiloversn!!!


Follow ig aku yuk guys : @dianti2609


Bersambung. . .


Follow juga ya!!


Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.


Terimakasih💓

__ADS_1


__ADS_2