Istri Simpanan

Istri Simpanan
Ada Yang Tertinggal


__ADS_3

Papa Ardi terlihat senang ketika akhirnya Ia berkesempatan bertemu dengan besannya. Kalau dengan Daniel Papa Ardi pernah melihat sekali ketika Daniel mengantar Bintang ke resort pada saat ulangtahun Bunga.


Papa David dan Papa Daniel terlihat memisahkan diri ke ruangan kerja Dipa. Mereka cukup lama ngobrol disana, Papa Ardi tampak serius mendengarkan ketika Papa David menceritakan alasan dirinya meninggalkan Bintang di Panti Asuhan Kasih Ibu.


"Bintang itu teman sekolah Dina, saya minta maaf atas apa yang sudah anak-anak saya lakukan kepada Bintang " ucap Papa Ardi.


"Awalnya saya merasa sakit hati, tidak ada seorang Ayah pun yang rela jika putrinya diperlakukan seperti itu..namun akhirnya saya sadar mungkin itu adalah cara Tuhan untuk mempertemukan Bintang dengan Dipa " jawab Papa David.


"Saya bersyukur sekarang hubungan kami sudah mulai membaik setelah cukup lama Bintang memusuhi kami , sekarang saya merasa seperti mempunyai dua anak perempuan yang sering membuat pusing karena mereka sering bertengkar " ujar Papa Ardi sambil terkekeh. Papa David pun ikut tertawa.


Obrolan keduanya terjeda ketika Mama Niken mengantarkan dua cangkir kopi ke ruangan itu untuk menemani acara ngobrol kedua pria itu.


"Dulu Langit sangat antipati pada Oma nya, bahkan istri saya pernah dipukul dengan sapu dan sandal oleh Langit " oceh Papa Ardi sambil tertawa mengingat bagaimana Langit memperlakukan Mama Niken.


"Papa..kenapa harus diceritakan sih ?" Mama Niken mendelik kearah Papa Ardi. Papa David hanya menanggapi dengan senyuman.


"Itu dulu Pak David waktu hubungan kami belum baik..tapi sekarang Langit sudah lengket kepada saya, kalau menginap pun sering tidur dengan kami " ucap Mama Niken.


Disaat Papa Ardi dan Papa David mengobrol di ruangan kerja Dipa, tiga pria tampan memilih teras belakang sebagai tempat untuk mengobrol. Daniel dan Dipa tampak mengobrol sambil menyesap rokoknya, hanya Leon disana yang tidak merokok karena ia bukan perokok aktif. Di meja kecil di dekat mereka sudah tersedia tiga cangkir kopi yang ikut menemani sesi santai ketiga pria itu.


Dipa dan Daniel buru-buru mematikan rokoknya di asbak ketika Langit tiba-tiba muncul dan merengek ke pangkuan Dipa.


"Kalau sudah begini biasanya dia ngantuk " ujar Dipa sambil mendudukan bocah tampan itu di pangkuannya kemudian ia usap-usap punggungnya dengan lembut. Tidak butuh waktu lama Langit pun tertidur di pangkuan Dipa.


Disaat Langit baru tertidur dari ruang tengah terdengar suara keributan. Bunga dan Lana terdengar menangis kencang rupanya mereka bertengkar karena berebut mainan. Daniel dan Leon segera memisahkan kedua bocah yang hampir saling cakar itu sebelum tangisannya membangunkan Langit.


Dipa membawa Langit yang sudah tertidur ke kamarnya, setelahnya kini tinggal meredakan tangis Bunga yang sedang mengadu kepada Daniel.


"Sama saudara tidak boleh bertengkar, harus saling menyayangi " nasehat Daniel.


"Tapi Lana rusakin mainan aku Uncle " adu Bunga.


"Tapi Lana tidak sengajaa " jawab Lana sambil menangis dalam gendongan Dipa.


"Tidak apa-apa..nanti Uncle belikan lagi mainannya yang baru untuk kalian " Daniel mengusap punggung Bunga.

__ADS_1


"Buat aku saja..Lana jangan dikasih " jawab Bunga yang masih kesal karena mainannya rusak oleh Lana.


"Papaaa..kak Bunga pelit " tangis Lana semakin kencang dalam.pangkuan Leon.


"Kalau kalian bertengkar terus, Uncle tidak akan mau membelikan mainan untuk kalian " ancam Daniel tegas.


Lana dan Bunga langsung diam karena takut dengan ancaman Daniel.


"Lana minta maaf sama kak Bunga karena sudah rusakin mainan kak Bunga " Leon mendekatkan Lana kearah Bunga.


"Kak Bunga..maafkan Lana ya " Lana mengulurkan tangannya kepada Bunga dan Bunga pun menyambutnya. Kedua bocah itu pun saling bersalaman kemudian saling berpelukan.


"Uncle..beli mainannya ayo sekarang saja !" Bunga langsung menagih janji Daniel barusan.


"Nanti ya tunggu Langit bangun " jawab Daniel.


"Kakak mau nya sekarang Uncle..!!" Bunga mulai merengek kepada Daniel.


Daniel tidak bisa menolak keinginan keponakannya akhirnya membawa Bunga dan Lana pergi ke toko mainan.


"Bisa dek..kamu tenang saja " jawab Daniel sambil menggiring kedua bocah itu ke mobil.


"Biar Papa temani kalian " ujar Leon.


"Tidak mau..aku ingin pergi sama Uncle Daniel saja " Lana melarang Papanya ikut.


"Papa itu cerewet, kalau jajan juga banyak tidak bolehnya katanya tidak sehat..Papa tidak asik " sungut Lana setelah berada di dalam mobil Daniel.Daniel tersenyum mendengar ocehan Lana barusan.


"Uncle akan belikan mainan yang kalian inginkan, tapi jika Uncle melihat kalian bertengkar lagi mainan itu akan Uncle ambil lagi dan akan Uncle kasih ke Panti Asuhan Bu Dewi " ancam Daniel.


"Tidak Uncle..kita janji tidak akan bertengkar" jawab Bunga dan Lana kompak.


"Kita bertengkar nya kalau Uncle Daniel sudah pulang ke Singapura saja " bisik Bunga.


"Uncle dengar apa yang kalian bisikan, kalau begitu kita batal beli mainannya karena kalian mau bermain curang " ancam Daniel.

__ADS_1


"Jangaaan ..iya kita janji tidak akan berantem " jawab kedua bocah itu.


Setibanya di toko mainan, Daniel membiarkan kedua bocah itu memilih mainan yang mereka sukai.


Bunga dan Lana sibuk memilih mainan di rak khusus mainan perempuan, sedangkan Daniel mencari mobil-mobilan remot untuk Langit yang tidak ikut karena sedang tidur.


"Kakak Bunga..sama siapa kesini ?" sapa seorang wanita yang tampak anggun dengan hijabnya.


"Kak Miraaa..aku kesini sama Uncle Daniel..ayo temani aku beli mainan !" Bunga menarik tangan Amira untuk membantunya memilih mainan yang ia inginkan.


Amira yang sedang mencari kado untuk keponakannya yang ulangtahun akhirnya tidak dapat menolak ajakan bos kecil itu yang menurutnya seperti perintah.


Karena mainan yang dipilih Bunga dan Lana cukup banyak, Amira pun membantu mendorong troli yang penuh dengan mainan itu kearah Daniel karena kedua bocah itu mendekat kearah Daniel.


"Uncle..itu belanjaan kita " Bunga menunjuk troli yang sedang di dorong oleh Amira.


Mata Daniel menyipit ketika menatap Amira. Daniel masih ingat Amira adalah perempuan yang pernah ia lihat bersama Dipa waktu itu.


"Maaf pak..saya Amira sekertaris nya pak Dipa. Barusan saya tidak sengaja bertemu dengan kak Bunga disana " Amira memperkenalkan diri khawatir Daniel mencurigainya. Daniel mengangguk.


Daniel membawa dua buah mobil remot untuk Langit ke meja kasir diikuti Amira yang mendorong troli berisi belanjaan milik Bunga dan Lana.


Amira memisahkan barang belanjaannya karena ia akan melakukan pembayaran secara terpisah.


"Kenapa dipisah ?" tanya Daniel.


"Maaf pak .ini barang belanjaan saya " jawab Amira.


"Satukan saja..biar saya bayar sekalian !" Daniel menyuruh kasir untuk memasukan belanjaan Amira kedalam tagihannya.


"Terimakasih Pak " ucap Amira setelah Daniel selesai melakukan pembayaran.


Karena hari sudah semakin gelap Daniel pun membawa kedua bocah itu pulang. Namun sebelumnya ia memaksa mengantarkan Amira pulang ke rumahnya sebagai ucapan terimakasih karena Amira sudah menemani Bunga dan Lana membeli mainan.


Setelah mengantarkan Amira pulang Daniel pun melajukan mobilnya menuju rumah Bintang. Dari 100m berlalu, Daniel tiba-tiba menangkap satu paperbag kecil teronggok di jok mobilnya, sepertinya Amira lupa membawa salah satu belanjaannya.

__ADS_1


Meskipun belum terlalu jauh nanum Daniel tidak berniat untuk langsung mengantarkan barang itu, Daniel melanjutkan perjalanan pulang mengantarkan kedua bocah yang tampak mulai mengantuk itu. Biarlah urusan barang Amira yang tertinggal akan ia antarkan besok tanpa membawa Bunga dan Lana.


__ADS_2