
Mengandung konten dewasa harap bijak dalam membaca 🙏🙏🙏
Suasana haru terasa ketika mobil yang membawa Daniel masuk ke halaman rumah, di teras semua berdiri menyambut Daniel seperti yang sedang menyambut prajurit yang baru pulang dari Medan perang.
"Selamat kembali ke rumah Uncle Daniel " Langit, Bunga dan Lana menyambut Daniel dengan memberikan buket bunga ditangan mereka kepada Daniel.
Daniel menerima buket bunga itu kemudian merunduk mensejajarkan diri dengan ketiga bocah itu dan menciumi pipi ketiganya bergantian.
"Sayang, aku pikir aku akan melihat Daniel pulang dengan dandanan seperti ustadz-ustadz di tv, tapi.." bisik Dipa sambil menatap Daniel yang tampak santai dengan celana jeans dan kemeja putihnya.
Daniel tampak menggendong ketiga bocah itu bergantian karena semua ingin digendong oleh Daniel karena kangen.
"Pakaian itu tidak penting Mas, yang penting ininya " Bintang menepuk lembut pada dada bidang Dipa.
"Untuk apa berpakaian sok religi kalau akhlaknya buruk " lanjut Bintang.Dipa pun mengangguk membenarkan ucapan neng geulisnya itu.
"Daniel menghampiri Mama Niken kemudian mencium tangannya. " Bagaimana disana, betah ?" tanya Mama Niken.
"Alhamdulillah betah Tan " jawab Daniel.
"Alhamdulillah, Tante senang mendengarnya" Mama Niken menepuk-nepuk lengan Daniel.
"Aku juga jadi ingin ikutan mondok di Pesantren " tutur Dina yang langsung mendapat tatapan tidak setuju dari Leon.
"Kalau kamu sebaiknya disini saja, belajar agama sambil ngurus anak-anak " saran Daniel. Leon langsung tersenyum karena sangat setuju dengan saran Daniel.
"Benar apa yang Daniel bilang Na, kamu ikut komunitas pengajian saja sama Mama, waktunya Sabtu Minggu kok " tutur Mama.
"Iya Mah aku mau " jawab Dina.
"Mama tidak ajak aku nih ?" tanya Bintang iri.
"Kamu fokus sama bayi saja dulu, Neng ..bayi kamu kan ada tiga !" jawab Mama sambil melirik kearah Dipa, menyindir.
Dipa menunduk malu dengan wajah yang merah.
"Iya Mah " jawab Bintang.
Untuk saat ini Bintang masih dalam tahap menyesuaikan diri dengan kedua bayi kembarnya. Ia belum bisa meninggalkan kedua bayinya karena mereka masih Asi ekslusif.
Setelah acara kangen-kangenan usai, mereka pun kembali fokus pada acara syukuran kelahiran si kembar yang akan dilaksanakan besok.
Acara syukuran akan diisi dengan pengajian. Dipa mengundang warga sekitar tempat tinggalnya dan komunitas pengajian yang diikuti oleh Mama Niken dan Papa Ardi. Tidak lupa anak-anak panti Asuhan Kasih Ibu yang selalu hadir dalam setiap acara yang diadakan oleh keluarga keluarga Dipa.
Amira termasuk orang yang ikut sibuk dalam acara itu, ia bertanggung jawab untuk urusan catering bersama Dina.
__ADS_1
Amira dan Dina tampak hilir mudik kesana kemari untuk memastikan para tamu undangan tidak kekurangan apapun.
Saking sibuknya bahkan Amira dan Daniel tidak memiliki kesempatan untuk mengobrol, mereka hanya bertegur sapa seadanya karena sibuk dengan urusannya masing-masing.
Pada saat acara pengajian berlangsung Baby Shakila dan Baby Shakira tampak anteng dalam gendongan Dipa dan Papa David, sementara Langit berada di sisi Papa Ardi.
Bunga dan Lana yang biasanya ceriwis dan tidak bisa diam kali ini tampak duduk manis diantara Leon dan Daniel.
Bintang memberikan Asi dalam botol ketika baby Shakira yang berada dalam gendongan Dipa mulai merengek kehausan. Setelah mendapat ASI nya bayi cantik itu pun kembali anteng.
Setelah seluruh rangkaian acara selesai, para tamu undangan pun satu-persatu mulai pulang hanya tinggal keluarga inti saja dan ditambah oleh Amira dan Felix.
Pada saat sedikit lenggang itulah baru Daniel dan Amira mempunyai kesempatan untuk mengobrol, itupun dengan ditemani oleh ketiga bocah yang masih belum puas melepas rindu dengan Daniel.
"Lihat Yang, Daniel dan Amira ngobrolnya direcokin anak-anak" Bintang menarik tangan Dipa untuk melihat Daniel dan Amira yang sedang mengobrol di teras belakang." Kira-kira mereka sedang ngobrolin apa ya ?"
"Jangan kepo " jawab Dipa.
"Gimana ga kepo Yang..lihat Amira nya nunduk terus..aku kesana ah jadi penasaran" Bintang hendak mengintip dari jarak yang lebih dekat.
"Ssstt..jangan usil deh, nanti mereka keganggu " Dipa menahan tangan Bintang.
Bintang pun akhirnya mengurungkan niatnya yang ingin mengintip Daniel dan Amira dari jarak yang lebih dekat.
"Habis Shakila giliran Ayahnya ya Neng " pinta Dipa.
"Giliran Ayahnya nanti malam saja " jawab Bintang sambil berlalu.
Dipa tersenyum senang, Ia tidak sabar menunggu malam tiba karena ia akan berbuka setelah empat puluh hari berpuasa.
Sore harinya Daniel mengantarkan Amira pulang, ketiga bocah itu pun masih setia mengikuti kemanapun Daniel pergi termasuk ke rumah Amira.
Setelahnya Papa David dan Papa Ardi pergi entah berdua entah kemana.
Langit, Bunga dan Lana cukup lama berada di rumah Amira. Mereka anteng sampai lupa waktu dan baru pulang ketika hari sudah berganti malam.
"Kamu itu kalau bawa anak-anak harus ingat waktu dong " omel Papa David yang membantu menurunkan ketiga bocah itu yang tertidur di dalam mobil Daniel.
"Aku sudah ngajak mereka pulang, tapi merekanya tidak mau Pah " Daniel membela diri.
Daniel, Papa Ardi dan Papa David memindahkan ketiga bocah itu ke kamar mereka masing-masing sementara Dipa dan Bintang sudah tidak lagi terlihat keluar dari kamar sejak satu jam yang lalu.
Dipa dan Bintang melewatkan obrolan penting antara Papa David dan Papa Ardi yang akan melamar Amira untuk Daniel secepatnya.
Papa David sengaja melibatkan besannya karena ia tidak memiliki saudara yang lain.
__ADS_1
*
"Urusan anak-anak sudah beres, sekarang tugas kamu ngurusin aku " Dipa menggiring Bintang ke kamar mereka dan tidak lupa mengunci pintunya.
Dipa tidak mau sampai ada yang memergoki perbuatan mesumnya dengan Bintang seperti kemarin.
Sebelum nya Dipa menyuruh Bintang menyusui si kembar hingga kenyang, Dipa juga memeriksa stok Asi didalam kulkas dan mematikannya aman sebelum ia mengurung Bintang di dalam kamar semalaman.
Setelah semua dirasa aman, Dipa pun memulai aksi nakalnya dengan melahap bibir Bintang dengan rakus.
Tanpa melepaskan tautan bibir mereka, keduanya bergerak menuju ranjang mereka yang berkasur sangat empuk.
Dipa merebahkan tubuh Bintang disana dan menciumnya dengan segenap perasaan.
Bintang yang juga sudah sangat merindukan belaian dari suaminya itu tampak membalasnya dengan penuh perasaan.
Bintang tampak pasrah ketika Dipa melepaskan semua pakaiannya hingga tidak ada satupun yang tersisa di tubuh putih mulusnya.
Setelah Bintang pun membantu Dipa meloloskan semua baju Dipa hingga keduanya benar-benar polos.
"Cuma empat puluh hari tubuh kamu cepat sekali pulihnya " puji Dipa menatap tubuh Bintang yang sudah kembali langsing, hanya dadanya saja yang terlihat semakin montok karena sedang menyusui.
"Masa sih, perasaan masih gendut deh Sayang " jawab Bintang.
"Benerang Neng, hanya ini saja yang makin besar " Dipa menurunkan kepalanya kearah dada Bintang dan melahapnya dengan rakus. Ini adalah bagian tubuh pavoritnya yang kedua setelah serabi lempitnya.
"Enakan nyusuin anak-anak atau nyusuin Ayahnya Neng ?" tanya Dipa ketika hendak melahap dada Bintang yang sebelah lagi.
"En nak nyusuin Ayahhhnyaaaahh " jawab Bintang bercampur desa han membuat Dipa senang dan semakin semangat.
Sambil menyusu Dipa menekan benda pusakanya dan bergerak menggesekkan di depan mulut serambi lempit Bintang yang sudah cukup lama tidak tersentuh oleh keperkasaan Dipa.
Bintang yang mulai terbakar gairah terdengar merengek kepada Dipa meminta untuk segera dimasuki dan tentu saja Dipa pun mengabulkan nya.
Satu hentakan kuat membobol pertahanan Bintang membuat wanita itu sedikit meringis, begitu juga dengan Dipa.Mungkin karena sudah cukup lama puasa rasanya mereka seperti baru pertama kali melakukannya.
"Sakit Neng ?" tanya Dipa.
"Sedikit " jawab Bintang.
"Aku akan pelan-pelan" bisik Dipa sambil bergerak perlahan diatas tubuh mulus Bintang.
Malam itu Bintang dan Dipa menghabiskan malam yang panjang dengan saling melupakan hasrat yang selama ini cukup lama terpendam.
Menjelang tengah malam Dipa baru terlihat turun dari atas tubuh Bintang yang tampak tergolek lemah tak berdaya dengan peluh membasahi sekujur tubuh mereka dan tidak lama kemudian keduanya langsung tertidur saling berpelukan dengan tubuh masih dalam keadaan polos.
__ADS_1