
Setelah menyelesaikan urusan bisnisnya Dipa pun kembali ke tanah air. Dari Bandara Dipa langsung menuju rumah orangtuanya dimana anak istrinya berada.
Ketika sampai di rumah Dipa mendapati rumah dalam keadaan sepi. Menurut pelayan Papa Ardi dan Mama Niken sedang pergi ke acara pembukaan restoran milik temannya dan Dina sedang menjemput anak-anak di sekolah.
Leon jam segini pasti sedang sibuk di rumah sakit..sedangkan Neng geulisnya pasti sedang malas-malasan di dalam kamar.
Dengan mengendap-endap Dipa perlahan membuka pintu kamar yang kebetulan tidak dikunci. Di dalam kamar Dipa mendapati Bintang sedang meringkuk dibawah selimutnya.. tertidur.
"Hmm..males banget istri aku ini " bisik Dipa seraya mencium bibir Bintang lembut membuat Bintang merasa terusik dan langsung membuka matanya.
"Sayang..kapan pulang ?" tanya Bintang dengan suara serak khas bangun tidur.
"Baru saja " jawab Dipa sambil ikut merebahkan diri disebelah Bintang.
Mereka memiringkan tubuhnya saling berhadapan. Tangan Bintang melingkar diperut Dipa sedangkan tangan Dipa membelai rambut Bintang yang sedikit berantakan karena baru bangun tidur. Meskipun begitu Bintang terlihat sangat cantik.
"Selama kamu tidak ada Langit hampir tiap malam rewel, dia nangis terus katanya ingin nyusul kamu ke Singapura" Bintang mengadu.
"Kamu pasti kerepotan"
"Untung ada Leon yang bantuin nenangin dia. Setiap malam Langit tidur sama Dina dan Leon " Bintang terus mengoceh melaporkannya kelakuan si Aa gantengnya yang sedang mode rewel.
"Harus dijewer itu anak " ujar Dipa sambil terkekeh.
"Jangan dong, awas saja kalau berani " Bintang mendahului menjewer telinga Dipa.
"Loh..yang rewel kan si Aa, kenapa aku yang dijewer ?" Dipa langsung protes.
"Tadi katanya mau jewer si Aa " jawab Bintang.
"Tidak dong Neng, mana berani aku " jawab Dipa. " Kalau Bunga aman kan ?"
"Bunga aman sikap ngemongnya sudah mulai kelihatan, dia terlihat lebih siap menjadi kakak dibanding si Aa " jawab Bintang.
"Kalau yang ini ?" Dipa beralih menatap perut Bintang yang sudah semakin menonjol karena sudah hampir memasuki bulan ke empat.
"Aman juga dong, cuma kalau malem suka kangen juga sama Ayahnya. Biasanya setiap hari Ayahnya rajin nengokin " jawab Bintang.
"Yang kangen ditengok dedek bayi atau Bundanya ?" tanya Dipa sambil menyatukan ujung hidung mereka.
__ADS_1
"Dua-duanya " jawab Bintang seraya mengelus dada Dipa.
Dipa memiringkan wajahnya kemudian melu mat bibir Bintang dan Bintang pun membalasnya. Bintang dan Dipa larut dalam ciuman yang panjang dan memabukan.
Saat ciuman mereka semakin panas, tangan Dipa pun mulai tidak bisa diam menyusup dibalik baju Bintang untuk mencari kedua benda pavoritnya yang begitu menggemaskan untuk ia remas.
"Mmnnhh..Mash..kamu ketemu Pa..Pah tidak ?" tanya Bintang sambil mendesah tertahan karena Dipa sudah menemukan dada montoknya dan mere mas nya lembut.
"Iya, aku tidur di rumah Papa, Daniel juga ada " jawab Dipa sambil merunduk untuk mengecup dua benda bulat yang baru ia keluarkan dari sangkarnya. " Aku kangen ini "
Bintang tertawa sambil menggelinjang kegelian " geli Mas " ucapnya.
Dipa yang berniat untuk mengeksekusi istrinya saat itu juga terpaksa harus menundanya terlebih dahulu ketika terdengar suara anak-anak yang baru pulang dari sekolah.
"Anak-anak pulang, udahan dulu nyusunya " Bintang mendorong kepala Dipa dari dadanya sebelum Bunga dan Langit memergoki mereka karena Bintang yakin jika Dipa belum mengunci pintu kamarnya.
"Dasar pengganggu mereka " Dipa pura-pura menggerutu kemudian turun dari ranjang.
"Hayoo..Ayah sama Bunda lagi pacaran ya ?" serbu Bunga dan Langit yang langsung muncul di pintu kamar.
"Tidak, Ayah baru selesai pijitin kaki Bunda " kelit Dipa sambil menggaruk tengkuknya. Kecil-kecil sudah tau pacaran sungutnya.
"Bunda bilang selama Ayah di Singapura Aa rewel ya ?" Dipa mencubit ujung hidung Langit yang mancung.
"Iya " dengan takut Langit mengangguk. " Aa kan ingin ikut sama Ayah "
"Ayah itu kerja Sayang, lagian Aa kan harus sekolah " ujar Dipa.
"Tapi Aa sedih kalau jauh sama Ayah " jawab Langit manja sambil memeluk leher Dipa dan menyembunyikan wajahnya disana.
"Jagoan Ayah manja banget sih ! " Dipa menepuk-nepuk punggung Langit dengan lembut.
"Bunda kenapa Aa jadi cengeng ?" tanya Bunga berbisik ditelinga Bintang.
"Lagi kangen sama Ayah, Kakak juga kalau kangen sama Mommy kan suka tiba-tiba murung " jawab Bintang sambil mencolek hidung Bunga.
"Iya.. hehe " jawab Bunga malu.
Ketika hari mulai sore seluruh anggota keluarga berkumpul lengkap. Mereka berkumpul di ruang keluarga sambil menemani Bunga, Langit dan Lana yang sedang menonton film kartun sore.
__ADS_1
"Aa malam ini mau tidur sama Om lagi tidak ?" tanya Leon mencolek lengan Langit yang duduk di pangkuan Dipa.
"Tidak, aku mau tidur sama Ayah " jawab Langit.
"Duuh..mentang-mentang Ayahnya sudah pulang jadi sombong deh sama Om Leon " ledek Dina.
"Iya..padahal semalam janji mau tidur sama Om lagi " timpal Leon.
"Tapi Aa mau tidur sama Ayah saja " jawab Langit kekeh.
"Aku saja sama Lana yang tidur sama Om Leon dan Aunty Dina " celetuk Bunga sambil anteng nonton tv.
"Baiklah, tapi kalian jangan berantem kalau berantem nanti aku pindahin ke kamar mandi tidurnya " jawab Dina membuat bibir Bunga dan Lana mengerucut seketika.
Langit tampak tertawa lucu dalam pangkuan Dipa.
Sampai malam menjelang Langit tidak mau turun dari pangkuan Dipa. Mau apa-apa harus sama Ayah, bahkan makan pun maunya disuapin oleh Dipa.
Dipa begitu menikmati dengan sabar momen manjanya putra tampannya itu. Sampai menjelang tidur barulah Langit baru mau turun dari gendongan Dipa.
"Aa cepetan tidur dong, Bunda juga kan kangen sama Ayah " Bintang mencolek-colek pipi Langit menggoda.
"Bunda jangan ganggu, Ayah cuma punya Aa " jawab Langit sambil memeluk leher Dipa posesif.
"Neng..sabar dong, sebentar lagi juga Aa tidur " ucap Dipa dengan gerakan bibir saja.
"Kapan tidurnya? orang matanya seger gitu "
Dipa terlihat sedikit keteteran karena Langit dan Bintang seolah berlomba mencari perhatian darinya. Namun yang Dipa utamakan tentu saja si Aa gantengnya. Dan itu membuat Neng geulisnya cemburu.
Setelah mendengarkan Dipa bercerita tentang kancil dan buaya akhirnya Langit pun tertidur.
Perlahan Dipa mengurai tangan Langit yang membelit lehernya kemudian ia pun beringsut mendekat kearah Neng geulisnya yang sejak tadi terus mencolek-colek lengannya mencari perhatian.
"Sekarang giliran Ayah kelonin Bundanya " Dipa merangkak keatas tubuh Bintang. Bintang menyambut tubuh kekar Dipa dengan melingkarkan tangannya dilehernya dan kedua kakinya melingkar di pinggangnya.
Dipa menahan bobot tubuhnya dengan sikunya agar tidak menindih tubuh Bintang. Hanya pinggulnya saja yang bergerak menekan dan menggesekkan miliknya kearea sensitif Bintang.
"Yaang, ahhh..aku kangen " Bintang mengulurkan tangannya untuk mere mas sesuatu dibawah sana yang sudah mengeras dibalik celana piyama Dipa.
__ADS_1