Istri Yang Disimpan

Istri Yang Disimpan
10. Penasaran dengan masa lalu Adhisti


__ADS_3

...SELAMAT MEMBACA...


Endaru menyelimuti tubuh mungil Adhisti ia tidak memberikan ciuman selamat malam. Endaru masih ragu akan hubungan ini tapi yang jelas ia nyaman dengan kehadiran Adhisti dan tidak jijik ataupun risih sedikit pun.


"Aneh dengan tubuh ini." Endaru menatap kedua telapak tangannya.


Endaru memutuskan untuk menghisap rokok sebentar di balkon luar kamar ini. Cuaca begitu sejuk malam ini dengan bertaburnya bintang dan satu bulan yang terlihat saling melengkapi satu sama lain.


"Seperti bintang dan bulan yang selalu melengkapi dan menghiasi gelapnya malam. Apakah ini bertanda jika dia jodohku, tapi jika aku menyakiti dia? apakah dia mau memaafkan aku nantinya." Endaru melamun sambil menghisap rokok.


Setelah rokok yang ia hisap habis Endaru mematikan putung rokoknya. Seperti biasa ia akan mandi lagi sebelum tidur, tadi saat ia terkena darah kotor dari istrinya belum mandi cuma membersihkan saja bagian yang kotor.


Endaru tiba-tiba tergugah hatinya, usai mengenakan pakaian tidur ia mengangkat tubuh mungil Adhisti dan membaringkannya di tempat tidur, soal nafsu ia sudah bisa mengontrolnya sedikit dan tidak akan kebobolan saat Adhisti tertidur.


"Selamat malam." Tiba-tiba tidak ada angin tidak ada hujan berucap bagaikan mendapatkan hadiah besar dan langka.


Endaru menyelimuti tubuh Adhisti dan dirinya, tangan Endaru melingkar di perut Adhisti. Adhisti merasa nyaman dengan pelukan di perutnya, serasa ia di peluk oleh kedua orang tuanya. Andai tragedi itu tidak terjadi dimana kedua orang tuanya masuk ke dalam penjara dan meninggal di tahanan.

__ADS_1


Sampai detik ini Adhisti tidak punya bukti apa pun jika dirinya tidak menyebabkan kedua orang tuanya meninggal, padahal orang tuanya meninggal karena serangan jantung usai di kunjungi oleh dirinya.


"Tidak ... tidak ... aku mohon kalian percaya saya bukan pembunuh Ibu dan Bapak, hu ... hu ... hu ... aku mohon kalian semua percaya dan jangan usir saya dari rumah ini." Adhisti menangis dalam mimpinya sampai Endaru terbangun dengan suara Adhisti berteriak dan menangis sesenggukan.


"Adhi ... Adhi ... bangun Adhi ...." Sambil menepuk pipi Adhisti agar ia terbangun.


Seketika Adhisti terkejut dan langsung membuka matanya.


"Astaghfirullah," masih dengan jantung berdegup kencang Adhisti bangun dari tidurnya, ia mengusap air matanya.


"Ada apa? kenapa kamu bisa bermimpi seperti itu Adhisti?" nada hawatir terpancar jelas di mimik wajah Endaru.


Selama ini memang Endaru belum pernah mencari identitas Adhisti yang sesungguhnya, yang ia tau ia adalah seorang yatim piatu yang di jual kekasih gilanya itu.


Endaru mengetik beberapa pesan singkat pada Ryan yang masih berkerja lembur malam ini. Ryan yang menerima pesan singkat ini memijat dahinya yang sudah pusing dan bertambah pusing lagi akibat dari perbuatan bos sekaligus sahabat gilanya ini, Ryan semakin frustasi saat ada panggilan masuk dari istrinya.


"Mampus gue." Ryan mau mengangkat panggilan tersebut merasa tertekan dan ragu-ragu, antara angkat atau tidak.

__ADS_1


"Pulang beb sekarang, kalau enggak aku sama baby gak mau makan sampai bebeb pulang, baby ingin makan nasi kuning dekat pasar itu," sambil merengek Mega memelas.


"Huh ... baik sayangku bebeb Mega, aku segera pulang." Ryan segera menutup pekerjaannya dan membawa pulang dari pada besok pagi di jemur di halaman kantor lagi oleh Endaru.


Pagi hari.


Endaru meminum kopi buatan Adhisti, rasanya biasa malah justru terasa sedikit aneh.


"Adhi kamu mau meracuni aku ya?" Endaru menunjuk kopi yang terasa asin, untung saja ia baru mencicipi sedikit barusan.


"Tidak tuan!" jawabnya sedikit tertunduk, ia memang sengaja menabur garam ke dalam kopi Endaru supaya dia murka dan tidak mengharapkan kehadirannya di dekatnya.


"Sial, kamu mau membunuh saya hah ... dengan memberi garam di kopi saya." Dengan kasar Endaru menyiram kopi tepat di lengan Adhisti.


"Aw ... sakit," keluhnya yang merasakan betapa panas lengannya, sepertinya akan melepuh.


Endaru yang kesal pagi-pagi di buat emosi oleh kelakuan Adhisti yang berani itu. Endaru memerintah beberapa orang untuk menjaga kediamannya jangan sampai Adhisti keluar apalagi kabur dari rumah ini.

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


...Bagaimana dengan bab ini? semoga pembaca setia Emak stay terus ya sampai selesai cerita ini, terimakasih banyak....


__ADS_2