Istri Yang Disimpan

Istri Yang Disimpan
48. Meluluhkan hati Endaru


__ADS_3

...SELAMAT MEMBACA...


Saat di perjalanan Endaru tidak henti-hentinya memuji sang istri sampai ke langit tuju padahal langit satu saja belum sampai.


"Bicara lagi dan muji-muji aku lagi awas." Ancamnya dengan berani.


Cup


Endaru mencium bibir mungil yang sedari manyun tanpa bicara apa-apa usai membungkam mulut Tisha di pemakaman tadi, bahkan orang-orang di pemakaman malah memuji dan menyemangati Adhisti, padahal dulunya mereka membenci Adhisti justru sekarang kebalikannya. Hanya ada kekaguman dan bangga pada Adhisti, tapi ia tidak menganggapnya serius andai tadi Endaru tidak ada pasti di usir secara tidak hormat lagi dengan kata-kata kasar yang menyakitkan telinga dan hatinya.


"Lagian memang benarkan kamu wonder woman Adhi." Lagi-lagi pujian yang terlontar dari mulut Endaru.


"Memang, dari pada kamu tidak," Adhisti di buat kesal.


Entah apa yang ada di pikiran Endaru, kenapa ia tidak menolak Tisha dengan cara seperti itu. Bahkan ia menerima perlakuan Tisha waktu itu di rumah meski di luar rumah bukan di dalam. Tapi seharusnya sebagai laki-laki dia harusnya juga waspada bukan, bukan malah membawa percikan api di atas kayu bakar yang akan meluluh lantahkan kayu tersebut.


"Aru, bolehkah kita berhenti sebentar?" Adhisti menatap mata Endaru yang jernih yang berwarna kelabu.


"Ada apa? jangan bilang kamu mau buang air kecil di tepi got kecil itu, apa tidak malu!" Endaru menebak-nebak.

__ADS_1


"Dasar pikiran anak kecil, siapa juga mau buang air kecil. Yang ada mau buang perasaan jauh-jauh, gimana bisa turun tidak." Hendak melepas sabuk pengamannya.


"Iya," Endaru mengisyaratkan sang sopir untuk berhenti.


Di tepi sawah.


"Aru, bolehkan aku meminta satu hal lagi?" kali ini Adhisti tidak merah jari kelingking Endaru dan mengajaknya berjanji.


"Apa, jangan bilang mau meminta kepastian Adhi!" Endaru menebak dengan benar.


Adhisti menganggukkan kepala yang berarti ia.


"Belum ada kalau sekarang, tapi yang pasti aku ingin melindungi kamu dari laki-laki itu!" Endaru berjalan lebih dulu meninggalkan Adhisti.


'Sepertinya aku harus mengubur harapanku padanya, laki-laki seperti Endaru tidak dapat menjamin kebahagiaan dan cinta darinya. Kenapa dia seperti ini, pengalaman apa yang membuatnya enggan memiliki hubungan lebih dengan orang lain.' Adhisti segera menyusul sang pangeran.


"Baiklah Aru, aku berjanji akan meluluhkan hati kamu dan membuat kamu jatuh hati padaku, bahkan kamu tidak bisa menolak pesonaku yang paripurna seperti ini." Dengan penuh keyakinan Adhisti berucap.


Endaru yang berada di depannya hanya tersenyum kecil, ia sedikit senang dengan ucapan Adhisti meski terdengar ia seperti wanita bar-bar.

__ADS_1


"Aku tunggu Adhi," jawabnya membalikkan badannya sambil tersenyum.


Dag


Dig


Dug.


"Kondisikan dong pesonanya, jangan tebar pesona di sini. Kasihan padi dan rumput yang tumbuh bisa merana kamu PHP-in Aru." Seolah mewakilkan perasaannya sekarang.


Bukannya diam saja Endaru justru tersenyum sangat manis bahkan gigi taring yang menjadi daya pikatnya kini muncul juga di sudut bibirnya.


"Ada drakula, lari ...." Sambil berlari meninggalkan Endaru yang masih tersenyum manis sekali.


'Sungguh menggemaskan tingkah laku Adhisti ini, rasa-rasanya aku tidak bisa pergi darinya.' Endaru tidak lepas pandangannya dari Adhisti yang kian menjauh darinya dan sudah masuk ke dalam mobil.


...BERSAMBUNG...


...Ayo dukung karya Emak dengan memberikan like, favorit atau love, dan rate bintang 5 ya. Jika memberi hadiah Emak juga mau, bahkan boleh ya memberi vote jika suka. Terimakasih banyak ya. ...

__ADS_1


__ADS_2