
...SELAMAT MEMBACA...
Adhisti mengusap bulu kucing itu dengan lembut, tatapannya beralih pada kakinya yang di perban oleh Dokter.
"Kenapa?" Endaru sedikit ada curiga pada Adhisti.
"Harus tanggung jawab dan merawatnya loh kamu Endaru, saat ia pulang nanti!" jawaban yang paling di takuti Endaru keluar juga dari mulutnya, harus pakai alasan apa ini supaya Adhisti tidak memaksa dirinya untuk mempertanggung jawabkan masalah ini.
Endaru langsung memalingkan wajahnya, bukannya tidak mau merawatnya tapi dari dulu sampai sekarang baru tadilah dia menyentuh seekor kucing itu pun dengan terpaksa ia gendong sebab kasihan pada makhluk kecil berkali empat itu.
"Em ... itu." Sambil memikirkan cara Endaru menatap kesana kemari.
"Itu apa coba, aku ingin tau bentuk tanggung jawab kamu Aru," Adhisti sungguh-sungguh mengintimidasi Endaru dengan tatapan tajam sekali, bahkan ketajaman pisau tersebut tidak ada bandingannya dengan tatapan Adhisti.
"Aku jijik dengan bulunya." Endaru berbicara sangat lirih bahkan mahkluk kecil seperti serangga akan butuh pengeras suara untuk mendengarnya.
Padahal Adhisti sudah memasang telinganya rapat-rapat agar dapat mengetahui alasan-alasan Endaru untuk mengelak tapi justru yang ia dengar perkataan yang kurang jelas di ucapkan.
Adhisti memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
"Alasan yang tidak jelas, sudahlah jika tidak mau merawatnya. Biar aku saja yang merawat, lagian gak dosa ko merawat kucing malah bagus untuk kita di doakan yang baik-baik oleh kucingnya." Adhisti sedikit memancing namun Endaru tetap tak bergeming sama sekali.
"Ya ... ya ... ya ..., lebih baik kamu saja yang merawatnya, lagian waktu ke jadian kamu juga satu mobil dengan aku," sambil mengibas-ngibaskan tangannya dan senyum di wajah Endaru sangat bersinar-sinar.
Adhisti menundukkan wajahnya dengan ekspresi sangat suram, ada rasa kesal di dalam dada melihat Endaru yang seenak jidatnya menyerahkan hak merawat hewan kecil tanpa dosa ini.
"Awas saja kalau gak ngasih duit untuk merawat kucing ini, bakalan aku teror siang malam." Menggertakkan giginya, meski ia merawat kucing ini tapi Endaru harus tetap bertanggung jawab soal biaya.
"Iya ... iya ... bakalan ngasih bulanan ko untuk si meong, tenang saja oke," Endaru memberikan kepastian pada Adhisti jika ucapannya tidaklah main-main.
Adhisti memberikan jempolnya.
"Sip deh kalau gitu."
Ryan menyopiri Endaru dan Adhisti, sejak kejadian waktu itu tidak sengaja mobilnya kejatuhan kucing, Endaru jadi enggan naik mobil sendiri dan tidak mau menyetir bahkan.
"Kucingnya dimana?" menatap kesana kemari.
Adhisti menunjuk bangku depannya.
__ADS_1
"Tuh, di depan kamu!" sambil tersenyum penuh makna.
"Gak bisa di pindah tuh kucingnya?" Endaru menahan geli di badannya rasanya jiwanya mau melayang dari tempatnya, sungguh pengalaman yang tak terduga lagi jika bersama Adhisti.
"Enggak, sebenarnya tadi itu malah mau aku tempatkan disini!" tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba langsung meletakkan kandang kucing dari tas itu di pangkuan Endaru.
"TIDAK ...." Endaru hendak pingsan di tempat.
Adhisti malah tersenyum jail mengambil dari pangkuan Endaru sambil menyodorkan terus- menerus pada Endaru.
"Jangan ... jangan ... di letakkan di situ, geli tau." Menolak juga tidak bisa.
Ryan yang berada satu mobil ingin tertawa renyah saat melihat sahabatnya ini mau pingsan di tempat, kasihan sebenarnya tapi mau di tolong ini kesempatan langka dimana seorang Endaru yang ketakutan bukan main dengan hewan berbulu itu.
"Aa ... ha ... ha ...." Ryan tertawa keras pada akhirnya baru kali ini ia bisa bebas tertawa selagi ada Adhisti ia akan aman menertawakan Endaru sampai ia memukul stir mobil berkali-kali saking lucunya ekspresi Endaru sekarang dan ini akan jadi momen yang tak terlupakan sepanjang sejarah Ryan bersama dengan Endaru.
Endaru mendengus kesal kenapa harus di tertawakan seperti anak kecil kecebur comberan, sial. Endaru mengepalkan tangannya rasanya ingin sekali meremas wajah Ryan yang sumringah itu.
Bugh
__ADS_1
"Mampus Lo, makan tuh sepatu sama kaos kaki bau gue. Aa ... ha ... ha ...." Endaru tertawa lepas juga sedangkan Ryan menahan sakit di pundak dan wajahnya akibat lemparan sepatu Endaru yang tepat sasaran, entahlah nanti bertemu klien bagaimana yang jelas pipinya terasa panas dan telinganya berdengung sekali.
Adhisti jadi ikut tertawa bersama, ramai dalam mobil pagi ini tidak seperti kemarin-kemarin bahkan kuburan umum jauh lebih ramai dari pada suasana mobil Endaru.