Istri Yang Disimpan

Istri Yang Disimpan
94. Niat romantis malah menangis


__ADS_3

Saat di dalam mobil, Adhisti dan Endaru saling menggenggam erat jari jemari. Namun Adhisti hendak melepaskan tangannya namun tertahan oleh tangan besar Endaru.


"Lepas dulu deh Aru, keringetan nih telapak tangan aku." Adhisti protes namun bukannya di lepas justru tangannya di tempelkan di depan AC mobil, haduh ... ini namanya lebih dari suami posesif yang takut istrinya di genggam orang lain, ada rasa sakit menjalar di tangan Adhisti sebab terlalu lama di genggam Endaru.


"Sudah gak keringetan kan?" pertanyaan Endaru membuat hawa panas mendadak masuk di dalam kepala dan ingin sekali membuat Endaru merasakan ledakan dari kepalanya.


"Aru ...," tajam sekali Adhisti berbicara bahkan penekan katanya begitu menusuk sampai-sampai Endaru reflek melepas genggamannya.


"Eh ... iya, kenapa sayang?" pura-pura bodo4.


"Sebel sama kamu Aru, masa sedari tadi pegangan terus kayak mau nyebrang jalan tau!" mengerucutkan bibirnya.


"Biar romantis gitu, lagian apa salahnya menggenggam erat tangan kamu. Kamu kan istri aku satu-satunya yang paling cantik." Meraih tangan Adhisti dan menciumnya beberapa kali.


Sesampainya di rumah Endaru menggendong Adhisti.


"Eh, mau ngapain Aru. Turunkan aku malu." Menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Kenapa malu? aku masih kuat ko mengendong kamu sampai masuk rumah," dengan riang gembira Endaru mengendong sang istri.


Melati yang melihat kemesraan mereka berdua hanya bisa membantu lewat doa semoga mereka segera dianugerahi seorang anak.


Di tempat lain.

__ADS_1


Adinda menuliskan tulisan di tab dan menyuruh suaminya untuk menyelidiki siapa gadis itu dan dari mana asalnya, sebenarnya sang suami enggan mencari keberadaan wanita asing itu tapi demi sang istri supaya cepat pulih ia akan lakukan meski harus bertarung nyawa pula.


"Kamu yakin jika dia putri kita? dari mana Adinda. Bukannya putri kita sudah hilang dari sejak ia lahir, bahkan kita kehilangan jejak siapa yang menculik putri kecil kita." Menenangkan sang istri yang air matanya sudah jatuh di pipi bahkan untuk menangis saja ia tidak bisa berteriak.


Ingin sekali Adinda menemui dia dan memeluk dia dan menanyakan siapa orang tua dia. Gerry hanya bisa pasrah, baginya sekarang yang terpenting adalah kesembuhan dari sang istri dulu semoga benar jika dia putrinya.


Gerry berpamitan pada sang istri.


"Ma, papa pergi dulu ya. Mama banyak-banyak istirahat biar suster yang menjaga Mama di sini, Papa mau mencari informasi gadis yang pagi tadi kita temui." Mengecup dahi istrinya.


Gerry segera menuju ruangan CCTV yang ada di rumah sakit, mumpung hari ini bukan jadwal prakteknya menangani pasien dan kebetulan juga satpam di rumah sakit amanah dan jujur dalam berkerja.


Gerry menatap ke arah CCTV sekitar jam 9 sampai 10 pagi apakah ada seorang pengunjung pasien yang mengunjungi ruang perawatan pasca melahirkan atau Ruang nifas dan ruang bayi.


Gerry hafal dengan pakaian yang di kenakan gadis muda yang seperti Adinda waktu muda dulu dan juga suaminya yang sepertinya pernah ia lihat sebelumnya tapi siapa Gerry tidak tau yang jelas wajah laki-laki itu seperti orang yang entahlah intinya ia lupa.


"Siap pak Gerry," satpam tersebut langsung menekan mouse.


Gerry mengerenyitkan dahinya.


"Em ... oke terima kasih ya. Tolong pak Joko kirim ke ponsel saya itu datanya, saya ingin mencari informasi melalui orang yang ada di CCTV itu." Ucapan Gerry langsung mendapatkan tatapan tajam dan tidak mengerti oleh Joko.


"Tapi pak, saya tidak bisa mengirimnya ini milik Rumah Sakit. Jika ada apa-apa saya tidak mau kehilangan pekerjaan saya yang sangat penting untuk saya dan keluarga saya di kampung pak," Joko hawatir jika pekerjaannya akan hilang, bagaimana nasib anaknya yang sedang kuliah di kota ini dan juga istrinya yang hanya jualan makanan di warung.

__ADS_1


"Tenang pak Joko, saya sudah meminta izin pada kepala Rumah Sakit pak Burhanudin. Beliau sudah mengizinkannya sebab saya sedang mencari putri saya yang hilang sekitar dua puluh tahunan Pak." Menunjukkan putri kecilnya yang baru lahir, warna hitam putih di ponselnya.


"Baiklah, tapi Pak Gerry tidak membohongi saya kan?" masih saja ragu-ragu Joko memencet mousenya.


"Tidak pak Joko, jika tidak percaya coba hubungi Pak Burhanudin!" Ternyata berurusan dengan satpam jujur seperti ini sangat sulit di tambah lagi dia tidak sepenuhnya percaya jika dirinya sudah mendapatkan izin langsung dari kepala Rumah Sakit.


Gerry menghela nafas panjang, harap-harap ia segera mengirim potongan CCTV tersebut ke ponselnya, ia juga ingin tau data-data pasien itu tapi dengan cara apa ya. Masa harus pergi ke bagian resepsionis diam-diam tapi apa salahnya, dengan alasan ingin tau pasien-pasiennya. Tapi jika di pikir-pikir kan dirinya bukan Dokter yang menangani pasien melahirkan dan nifas, pusing kepala Gerry. Sedangkan rumah sakit ini yang menangani adalah Dokter wanita dan suster-susternya juga wanita.


Kediaman Endaru.


Adhisti berjalan perlahan setelah kakinya terbentur meja lancip.


"Masih sakit?" tanya Endaru yang memapah sang istri.


"Ya jelas sakit lah, kamu besok-besok gak usah romantis-romantisan gendong aku jika ujung-ujungnya kaki aku kamu benturkan ke meja!" jawabnya marah-marah.


"Maaf ... maaf ... sayang, kalau begitu gantian aku kamu gendong dan benturkan kali aku di meja tadi ya, hu ... hu ... hu ...." Seperti anak kucing, tapi Adhisti tidak mau luluh begitu saja padanya. Niat romantis jadi menangis dan gagal lagi deh.


"Enggak, yang ada encok pinggang aku gendong kamu Aru," memalingkan wajahnya sambil menahan kakinya yang di kompres Endaru.


"Tapi, biar aku merasakan juga sakitnya kaki terbentur." Endaru tetap bersih keras meminta sang istri untuk membalas kesalahannya.


"Ya sudah, setelah mengobati kaki aku kamu benturkan sendiri saja kaki kamu. Apa perlu aku suruh Tejo mengendong kamu dan membenturkan kaki kamu?" Adhisti geram sendiri.

__ADS_1


"Enggak mau lah, kalau digendong Tejo nanti di kira itu lagi sama orang-orang. Seorang Endaru Septian mendua dengan body guard nya sendiri dan langsung viral. Kan rugi suamimu ini dalam bisnis bisa-bisa usaha aku langsung seret lagi!" ternyata banyak mengeluh takut bangkrut dadakan lagi.


"Kirain mau, aa ... ha ... ha ...." Tertawa renyah sampai ia terlupa jika kakinya masih sakit, ternyata sakit lebih cepat sembuh saat kita hati dan pikirannya baik-baik saja tanpa memikirkan hal-hal yang buruk.


__ADS_2