
...SELAMAT MEMBACA...
"Bukannya lebih baik kecebur, hitung-hitung mandi kesekian kalinya." Ledek Adhisti yang masih saja tertawa.
Ryan yang sedari tadi diam ikut tertawa dan membuat Endaru kesal, tidak sahabatnya tidak istri simpanannya sama-sama menyebalkan sore-sore begini.
Endaru menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan memanyunkan bibirnya. Adhisti masih saja tertawa, benar-benar anak kecil yang sedang ngambek terlihat lucu dan sangat menggemaskan.
"Lucu banget ngambek dan marahnya." Langsung mencubit kedua pipi Endaru dengan gemasnya.
Ryan terkejut dengan sikap berani Adhisti yang menyentuh wajah Endaru, padahal Endaru tidak suka jika bagian wajahnya di sentuh orang lain. Berarti Adhisti adalah pengecualian di dalam diri Endaru, benar-benar berbeda Adhisti dari perempuan-perempuan yang lain.
"Endaru, itu--." Belum juga selesai bicara namun sorot mata Endaru sudah setajam pisau baru di asah.
Ryan menghela nafas panjang dan langsung memencet tombol dan menutup bagian belakang joknya dengan cepat dari pada kena semprot lagi. Ryan memberikan instruksi jika perjalanan di tambah satu jam kepada semua body guard Endaru.
"Untung selamat, pantas saja dia di sembunyikan dari publik dan dunia luar. Ternyata ... oh ... ternyata ... dia gak bisa nahan nafsu yang membludak, sudahlah lanjut mengemudi dan jalan-jalan selagi Mega gak minta ini itu, tapi sayangnya satu kenapa tidak bisa melihat secara langsung ingin tau gue seganas apa Endaru pada istrinya." Ryan tersenyum-senyum sendiri sambil berpikir kotor.
Di jok belakang.
__ADS_1
"Aru kamu mau ngapain, kenapa tirainya di tutup?" menunjuk tirai tebal berwarna hitam mirip dengan rolling dor.
"Aku juga tidak tau Adhi! kenapa di tutup tirai nya. Padahal kita gak ngapa-ngapain," sambil mengangkat kedua bahunya bersamaan.
"Sepertinya Kak Ryan salah sangka deh."
"Kamu itu gara-garanya kenapa mencubit kedua pipiku sampai sakit, saat Ryan tanya malah ia salah sangka. Perlu di gedor ini tirainya," Endaru memukul pembatas tersebut dengan keras sampai Ryan terkejut dan mengerem mendadak di tepi jalan.
Ciitt
BRUGH
"Aduh." Bicara bersamaan.
Ryan segera membuka tirai penyekat dan menatap Endaru penuh dengan perasaan bersalah membuat terkejut sahabat sekaligus Bosnya itu.
"Sorry Endaru, gak sengaja rem mendadak." Sambil menangkupkan kedua tangannya.
"Mau bikin gue masuk Rumah Sakit apa?" Omelnya yang menggelegar di telinga sambil menggosok kepalanya yang terbentur pada kepala Adhisti.
__ADS_1
"Tidak, jika iya lebih baik Endaru biar gak ada yang ngomel-ngomel dan buat gue sengsara lagi!" spontan Ryan menjawab dengan candaan khasnya.
"Dasar kamu ya, potong gaji mulai besok sebanyak sepuluh ribu rupiah perharinya selama satu bulan penuh." Ancamnya yang tidak pernah main-main jika menyangkut uang dan uang.
Benar-benar tega jika memotong gaji karyawan.
"Tega banget Lo sama gue, apa Lo gak tau gue pejuang rupiah sekarang. Apa gak kasihan dengan Mega sahabat sekaligus istri kesayangan gue," kasihan sekali nasibnya.
Adhisti menepuk punggung tangan Endaru sambil memohon agar mengurungkan niatnya, Ryan masih saja berkaca-kaca meski hanya 300 ribu tapi uang segitu lumayan untuk ngopi di warung kecil pinggir jalan depan kantor saat senggang.
"Enggak kasihan, lagian salah sendiri kenapa bisa-bisanya kamu itu berpikiran negatif dengan menutup sekat mobil ini dan di tambah lagi ini, lihat nih kepala gue ke jedot dengan kepala Adhi. Sakit tau." Protes sambil menunjuk dahinya yang terlihat berwarna merah.
"Kualat kamu sama gue, aku doain kamu segera taubat dan gak semena-mena potong gaji gue. Aku doain semoga gajian naik bukan malah di potong seperti potong bebek angsa, masak di kuali. Kasihan dan enak kalau sudah di masak," Ryan memperbaiki duduknya sambil berkomat-kamit agar gajiannya tidak terpotong bulan depan.
"Gak usah nyanyi suara fals."
Adhisti tersenyum-senyum melihat kelakuan konyol dua orang laki-laki yang terlihat kaku dan dingin namun kocak jika bersama-sama, saling bercanda namun juga serius saat berkerja.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1