
...SELAMAT MEMBACA...
"Aku menanti kamu pulang Adhi, hati-hati di jalan." Ucap Endaru saat telponnya sudah di
matikan Adhisti lebih dulu.
Adhisti merasa tidak enak hati harus seperti ini tapi buat membalas perbuatannya yang sungguh-sungguh keterlaluan.
"Jangan-jangan perhatian untuk sekarang, aduh ... tapi hati ini gampang baper nanti di sakiti lagi. Pusing ini." Memijat kedua pelipisnya.
"Mbak, mbaknya sakit kepala?" tanya ibu-ibu pedagang kelapa muda.
"Eh, tidak Bu saya baik-baik saja!" ia berbicara dengan canggung.
Adhisti segera membayar kelapa muda yang ia pesan dan pergi melanjutkan perjalanannya menuju kosan. Sepeda yang ia gowes sangat ringan dan nyaman jadi membuat Adhisti enggan untuk turun.
"Baru kali ini beli sepeda seenak ini saat di ayunkan, ringan seperti naik di atas kapas lembut sekali." Sambil tersenyum-senyum sendiri.
Endaru yang menatap ke bawah tersenyum saat sang pujaan datang, ingin peluk dan cium Adhisti sampai puas tapi apa boleh buat dia mantan, bukan istri dalam Agama maupun kekasihnya.
'Nyesek banget jadi gue, gara-gara emosi hancur semua.'
Adhisti mengambil kunci dari kantong tasnya tapi terjatuh tepat di bawah kaki Endaru, ia hendak mengambil namun kalah cepat oleh Endaru.
"Izinkan aku masuk, baru aku kasih kuncinya." Mengoyangkan gerombolan kunci itu Ke kanan dan ke kiri beberapa kali.
Krincing
__ADS_1
Krincing
"Iya, tapi mana dulu kuncinya," mengulurkan tangannya.
"Cium dulu." Menyodorkan pipi kanannya.
Bukannya mendapat ciuman tapi kakinya di injak Adhisti dengan keras.
Bugh
"Aduh." Memegang kakinya yang sakit.
"Rasain, makanya jadi orang jangan jail. Sakit kan kakinya pasti berdenyut ngilu," Adhisti membuka pintu sambil tertawa renyah.
Endaru yang tadinya jingkrak-jingkrak karena kakinya sakit kini tersenyum saat mendengar Adhisti tertawa bahagia. Endaru bersyukur sekali Adhisti sudah bisa tertawa saat di depannya meski posisi nya membelakangi dirinya tapi ia tau jika suasana hatinya berangsur-angsur membaik.
"Rindu kamu Adhi!" menampilkan wajah yang begitu imut bahkan anak kucing saja kalah imut darinya.
'Nih orang kenapa jadi sebucin ini, apa sekarang jadi pengangguran gak mengurus kantornya lagi?' Membatin saja.
"Rindu ... rindu ... aku enggak tuh, tidak ada kata-kata rindu kalau sudah jadi mantan." Adhisti selalu mengungki-ungkut status mantan lagi.
Hati Endaru rapuh dan sedih dengan kenyataan hasil emosi sesaat itu.
"Sedikit saja gak rindu?" memperjelas pertanyaannya.
Adhisti mengangguk yakin.
__ADS_1
"Aku akan buat kamu rindu aku terus!" percaya diri sekali Endaru.
"Budak cinta, kalau sudah selesai protesnya silahkan anda pergi ke pintu dan keluar dari kosan ini." Mempersilahkan Endaru untuk segera meninggalkan tempat.
"Padahal kamu sudah tau kalau aku bucin dan ingin selalu dengan kamu tapi kenapa seolah-olah kamu membentengi hubungan kita?"
"Aku mau kamu mengoreksi diri sendiri, coba kamu jangan selalu terbawa perasaan saat emosi pada sesuatu ataupun pada orang lain contoh seperti kamu emosi pada Papa kamu!" mengingatkan lagi dan lagi.
Endaru mengangguk.
"Iya Adhi, aku sadar betul dengan sikapku ini. Seharusnya aku tidak gegabah. Maaf Adhi, bolehkan kamu tetap membuka hati kamu untuk aku, biar aku berjuang demi kamu yakin kembali padaku." Endaru hendak memegang tangan Adhisti.
Adhisti yang reflek langsung menarik tangannya.
"Iya, tapi di pikir-pikir dulu," Adhisti lebih memilih memaafkan saja dari pada dendam berlama-lama yang ujung-ujungnya menyesal dan sama-sama terluka.
"Terimakasih sudah mau menerima aku Adhi." Senyum Endaru langsung terbit lagi dan lagi.
Tidak ada pembicaraan yang hangat lagi, semua kembali seperti semula seperti dulu tidak mengenal satu sama lain. Adhisti bukan sengaja membentengi tapi ia memang sengaja menghindar biar ia bisa mengontrol perasaannya lagi dan lagi, terus terang saja ia tidak mampu untuk menghadapi kisah cinta yang terukir indah dalam hatinya.
Endaru menatap pintu kosan yang baru saja tertutup usai ia keluar dari tempat Adhisti, ia tersenyum saat mendengar kunci pintu terdengar nyaring saat menutupnya.
'Semoga hati kamu selalu ada untuk ku Adhi, aku mencintai kamu dan baru kali ini aku berjuang hanya demi kamu. Tapi ... Adhi kenapa kamu menolak dan tidak percaya dengan usahaku ini?'
Endaru menatap amplop yang ia berikan pada Adhisti tadi pagi.
***
__ADS_1
Up 1 bab setiap hari, harap teman-teman sabar menunggu sebab Emak sibuk. Kalau sehari bisa up 2 bab berarti Emak gak sibuk, terima kasih sudah berkenan mampir.