Istri Yang Disimpan

Istri Yang Disimpan
33. Gara-gara pot bunga


__ADS_3

...SELAMAT MEMBACA...


Tejo mengirim pesan singkat pada Endaru dan menunjukkan amplop berisi surat dari Adhisti.


Endaru yang menerima pesan singkat langsung melihat dari siapa, sebenarnya ia malas membuka tapi setelah tau jika istri mungilnya yang membuat surat ia jadi bersemangat sekali padahal ia belum tau isinya.


Ryan menatap ekspresi wajah Endaru yang senyum-senyum sendiri persis seperti orang dapat bonus dari hasil kerja kerasnya. Tidak ada setengah jam perjalanan Tejo dan Baron sudah kembali, sesuai amanah dari Adhisti untuk memberikan surat pribadi itu.


Endaru segera membukanya dan menatap isinya apa, antara terkejut dan lucu di lihatnya surat yang aneh. Mana ada orang mengirim surat seunik Adhisti istri mungilnya.



"Ini berikan pada Adhi dan suruh Nita untuk menemaninya belanja." Memberikan kartu debitnya.


Tejo menerimanya dengan sopan.


"Nanti sampai di rumah langsung telpon saya." Endaru memberi kode pada 2 body guardnya untuk segera melaksanakan tugasnya.


"Siap Pak bos," Tejo dan Baron segera berpamitan, inilah tugas baru untuk mereka menjaga dan memastikan istri tercinta bosnya bahagia.

__ADS_1


Kediaman Septian.


Nita memberikan kompres pada kaki Adhisti yang bengkak akibat benturan pot bunga yang tidak sengaja tersenggol pada lututnya.


"Aw ... pelan-pelan mbak Nita." Adhisti meringis kesakitan, kenapa luka memarnya harus di kompres.


"Iya, kenapa sih mbak Adhi bisa terkena luka? padahal pot bunga juga sebesar itu sampai menggelinding dan semua isinya bertabur kemana-mana?" Nita sedikit mengurangi tekanannya.


"Enggak tau mbak Nita, mungkin potnya memberi salam untuk saya supaya di perhatikan. Eh, bukannya dapat perhatian malah dia ketendang kaki saya sampai isinya bertabur! mbk Nita kira-kira bunganya menangis enggak ya mbak?" pertanyaan konyol membuat Nita pusing mendadak.


Nita juga tidak tau apakah bunga itu menangis atau tidak, yang jelas Eko tukang kebun rumah ini sudah membereskan kekacauan barusan. Untung saja Adhisti juga tidak ikut-ikutan menggelinding dari lantai 2 rumah ini, jika iya dirinya berada antara hidup dan mati sekarang.


"Saya kurang tau mbak Adhi, sepertinya iya mbak. Dia menangis tersendu-sendu sebab akarnya tercabut dari tanah tempat ia bertahan hidup selama ini!" jawaban yang tidak masuk akal tapi membuat Adhisti merasa bersalah.


"Mbak Nita, berarti saya berdosa membuat bunga itu tercabut dari tempat dia hidup. Mbak bagaimana ini, saya harus apa. Haduh ... pasti dia kesakitan sekarang, mbak antar saya ke tempat Pak Eko yuk. Mau lihat bunganya menangis tidak." Ucapan bodo* yang Adhisti lontarkan.


Nita mengangguk saja, mungkin pohon bisa menangis jika ia terluka tapi dirinya juga tidak tau, tau begini seharusnya mulutnya tadi di rem tanpa bicara jika perlu di lakban juga supaya tidak timbul kesalah pahaman yang hakiki.


Belum sempat melangkah 2 orang body guard Endaru kembali.

__ADS_1


"Mbak Adhi, kakinya kenapa?" tanya Baron yang cukup terkejut dengan kaki yang bengkak di bagian kanan betisnya.


"Tidak apa-apa, tadi saya menabrak pot bunga!" jawabnya sambil cengengesan.


Sementara Tejo sudah Vidio call saat masuk ke dalam rumah dan langsung melihat Adhisti secara langsung, karena Tejo memutar kamera belakang.


"Tejo, langsung bawa ke Rumah Sakit sekarang. Sebentar lagi saya menyusul jangan lupa lokasi rumah sakit yang dekat saja." Endaru memberi perintah.


Adhisti yang mendengar suara Endaru di balik telepon memutar bola matanya.


'Hah ... mentang-mentang banyak duit, seenak jidat bilang a b c.' Omelnya dalam hati Adhisti namun tetap melaksanakan perintah Endaru.


"Mbak Nita, temani saya ya. Takut ada singa mengaum." Bisiknya namun terdengar jelas di telinga Endaru yang belum mematikan sambungan telponnya.



...BERSAMBUNG...


Jempolnya ya biar makin semangat ngetiknya, love love untuk semua.

__ADS_1


__ADS_2