
...SELAMAT MEMBACA...
"Suami perhatian nih ceritanya ke istri dan melindungi istrinya?" sambil tersenyum.
"Terpaksa, jika aku gak bicara seperti itu pasti kamu tetap di goda oleh dia dan pasti kamu tergoda padanya, di tambah lagi dia lebih kaya dari aku!" Endaru takut kalah saing ternyata.
"Tuhkan negatif mulu pikirannya tentang aku, benar-benar orang tak berperasaan sama sekali di anggap semua orang sama kayak di sinetron yang gila harta dan tahta." Adhisti yang tadinya ingi memberi secangkir kopi pada Endaru kini ia nikmati sendiri.
"Biarin," memalingkan wajahnya.
"Sana pergi ke Pesantren dan mencari Kyai atau Ustaz biar di rukiyah sana pikirannya." Lama-lama bisa darah tinggi menanggapi Endaru yang semakin ngelantur.
"Memang aku ada masalah sampai harus di rukiyah, perasaan gak deh," Endaru merebut cangkir yang di bawa Adhisti dan langsung meminumnya.
Klotek
"Aduh ... panas ... panas ..., kamu mau membakar mulut aku ya dengan kopi itu?" tunjuknya pada cangkir kopi yang hampir tumpah sebab ia meletakkan cangkirnya secara sembarangan.
Adhisti menggelengkan kepala.
"Tidak, salah sendiri langsung minum tanpa cek suhu." Gumam lirih dan sangat jelas.
__ADS_1
"Tidak minta maaf lagi ..., malah ngomel," Endaru meletakkan cangkir tersebut.
"Tidak mau, lagian aku gak salah ko yang salah kamu sendiri. Kenapa gak kamu sentuh dulu cangkirnya." Menyilangkan tangannya di depan dada sambil memalingkan wajahnya.
"Awas saja kamu Adhi," pada akhirnya di minum lagi kopinya.
"Awasi saja terus, tetap sama ko Adhisti yang lemah lembut plus Sholehah dan imut sejagat raya ini." Menampilkan wajah imut dan menggemaskan.
Endaru mendengar Adhisti berbicara seperti orang sedang stand up tapi garing dan gak laku ngelucu nya alias gak bakat dalam bidang komedi.
"Cih ... sok imut dan Sholehah, mana ada di diri kamu ini, yang ada itu cuma satu wa ... ni ... ta ... peng ... goda," sambil menunjuk dada Adhisti.
"Pedes banget ucapan kamu Aru." Adhisti menahan air mata yang hampir jatuh, ia tidak menyangka kata-kata seperti itu keluar dari mulutnya.
Sekuat tenaga ia menahan hinaan dari orang-orang baik orang terdekat maupun orang lain, Adhisti tau diri dan sadar diri jika dirinya memang jauh dari kata sempurna bahkan tidak ada yang bisa di unggulkan dari dirinya. Tapi bukan berarti ia lemah dan menerima begitu saja, ia akan menunjukkan pada dunia jika pendapat mereka tentang dirinya yang buruk adalah salah besar.
"Lagian bukannya benar, orang seperti kamu itu cuma menggandakan wajah dan tubuh untuk menggoda. Bahkan sampai orang baru kenal saja langsung tertarik, bukannya itu penggoda namanya?" Endaru memperjelas pendapatnya pada Adhisti.
"Iya, kamu benar Aru. Wanita seperti aku ini hanya mengandalkan tubuh dan wajah untuk bertahan hidup, contohnya aku sendiri. Seandainya aku terlahir jelek dan tidak menarik mana mungkin aku di tampung di tempat semewah ini dan di jadikan istri simpanan saja!" hendak pergi namun di cegah oleh suara serak milik Endaru.
"Maaf Adhi, aku sudah membatalkan surat pernikahan resmi kita yang ada di KUA." Endaru memang sudah membatalkannya semenjak ia melakukan vasektomi waktu itu.
__ADS_1
Ia menyuruh Ryan untuk membatalkannya dengan seribu alasan jitu dan pihak KUA juga tidak bisa mencegah sebab ini keinginan calon pengantin.
Adhisti hendak membalikkan badan namun ia urungkan, ia tertunduk pasrah jika hal ini terjadi. Setidaknya ia pernah melayani Endaru sebagai suaminya dalam agama yang sah bukan cuma wanita di butuhkan di ranjang saja.
Adhisti menganggukkan kepala.
"Iya Aru," menatap sekilas wajah Endaru dan tersenyum, kemudian ia melanjutkan langkah kakinya keluar dari ruangan tempat Endaru berkerja.
Adhisti berlari masuk ke dalam kamar lamanya dan langsung menguncinya dari dalam, sungguh terluka hati dan tubuhnya dengan ucapan dan sikap Endaru padanya.
"Sakit sekali rasanya." Sambil memegang dadanya.
"Meski aku tau, jika hari ini telah tiba. Dimana kenyataan yang sebenarnya harus aku terima, tapi ... dimana letak kesalahanku? kenapa mendadak!"
Adhisti menatap seluruh penjuru ruangan ini dan mulai menyentuhnya satu persatu benda yang ada di tempat tersebut.
"Mungkin Aru sudah ada wanita lain, besok aku ingin bicara dengannya dan bertanya. Meski esok aku akan menemukan kenyataan yang lebih pahit lagi dari sebelumnya."
Kuat tidak kuat Adhisti berusaha memperkuat dirinya sendiri.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1