Istri Yang Disimpan

Istri Yang Disimpan
38. Jatuh cinta


__ADS_3

...SELAMAT MEMBACA...


"Ryan, ada waktu tidak?" Endaru menelpon sahabatnya.


"Ada, memangnya ada apa. Tumben telpon." Ryan terdengar tertawa di balik telponnya.


"Mau ngomong sesuatu, kita ketemu di tempat biasa. Aku tunggu," mematikan saluran telponnya.


Adhisti yang baru sampai di kamar terkejut saat Endaru juga sama-sama memegang gagang pintu.


"Aru, mau kemana?" tumben-tumbenan Adhisti seperhatian ini pada Endaru, tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba bertanya.


"Pergi dengan Ryan, ada sesuatu. Hati-hati di rumah!" pamitnya sambil mengacak-acak rambut Adhisti.


"Iya, kamu juga hati-hati Aru. Jangan lupa makan." Adhisti segera masuk.


Nita berpamitan ke bawah, jika perlu apa-apa tinggal pencet tombol saja atau telpon yang sudah di sediakan di rumah.


Adhisti bingung harus melakukan kegiatan apa, berkerja pasti tidak di izinkan. Melakukan kegiatan di rumah ini pun juga sama, pasti tidak boleh nanti terkena pecahan kaca, tersandung kaki meja atau kursi dll.

__ADS_1


"Bosan." Adhisti pada akhirnya menatap pakaian yang ia kenakan, lebih baik ia pergi ke ruang ganti dan memilih pakaian santai untuk sore ini.


Usai berganti pakaian ia menatap luka di lututnya, ia tersenyum-senyum sendiri jika mengingat sikap dan perilaku yang Endaru tunjukkan tadi.


"Tuan arrogant dan dingin berubah jadi lemah lembut dan seperhatian itu, seperti orang jatuh cinta pada pasangannya. Eh ..., pasti ada yang salah ini, tidak mungkin dia jatuh cinta padaku kan?" gumamnya sambil menggelengkan kepalanya berkali-kali.


"Tapi jika iya, seperti apa ya perhatiannya di tambah lagi hadir seorang anak kecil yang menggemaskan?" Adhisti berangan-angan sambil membayangkan Endaru yang seperti ini.


Cafe


Endaru dan Ryan sedang mengobrol.


"Ada apa sih bro, tumben ngajakin di tempat ini? biasanya aja ke bar tumben-tumbenan di cafe lagi bokek?" Ryan mendapat sambutan pukulan ringan di lengannya.


"Wah, suami takut istri nih ceritanya. Aa ... ha ... ha ..., lanjutkan lanjutkan saya suka saya suka dengan kamu yang seperti ini, dari dulu kek kayak gini." Ryan meminum kopi esnya.


Endaru malas melayani Ryan sekarang, mentang-mentang otw jadi Daddy ia jadi seperti ini.


"Tadi gimana Tisha?" Endaru mengaduk-aduk minumannya.

__ADS_1


Ryan memelototkan matanya, buat apa membahas sesuatu yang gak penting atau jangan-jangan ia masih ada rasa pada Tisha dan rasa itu tumbuh lagi secara perlahan-lahan, oh no ... bagaimana dengan Adhisti istri mungilnya, pasti sangat terluka sekali hatinya.


"Gue gak tau, tadi selepas kepergian Lo Mega telpon dan nyuruh gue pulang dan masalah Tisha yang pingsan tadi gue suruh salah satu pembantu yang ada di rumahnya untuk mengurus dia, enak saja baru datang mau cari perhatian. Ogah banget gue." Ryan memang seperti ini sifatnya, jika bertolak belakang dari apa yang ia harapkan.


Endaru menepuk pundaknya.


"Gue suka gaya Lo, ini baru best friend gue," jawaban bangga dari Endaru.


"Tapi kenapa Lo perduli dengannya sih, masih cinta Lo dengan dia?"


"Tidak, cuma kasihan dia. Sepertinya gak ada yang peduli dengan kehidupannya!" Endaru selalu peduli dengan orang yang telah melukainya.


Ini lah yang paling di takuti Ryan dan Mega, hatinya gampang rapuh dan baperan.


"Bro, gue ingetin ya. Lo jangan terlalu kasihan padanya (Tisha) jika Lo seperti ini terus, hati Lo bisa tergugah tiba-tiba dan akan menyakiti Adhi istri mungil Lo." Ryan memang selalu menggurui Endaru dan menasehatinya jika Endaru hampir salah melangkah dalam mengambil keputusan.


"Iya gue tau, tapi Adhi tidak ada rasa sepertinya. Jadi buat apa," jawaban apa ini.


Ryan menerka-nerka.

__ADS_1


'Ck ... lagi jatuh cinta ternyata.'


...BERSAMBUNG...


__ADS_2