Istri Yang Disimpan

Istri Yang Disimpan
55. Di beri kebebasan


__ADS_3

...SELAMAT MEMBACA...


Endaru hanya menatap sekilas pintu yang sudah tertutup rapat, pintu yang tadi di lalui oleh Adhisti. Endaru tau jika wanita itu pasti sangat terluka hatinya, namun dengan cara seperti ini maka Adhisti setidaknya bisa bebas dari cengkraman nya dan tidak terluka lantaran rasa cinta yang dalam. Biarlah berjalan sesuai dengan takdir yang sudah di tentukan di garis tangannya.


"Maaf Adhi, maafkan aku." Meremas kuat rambutnya.


Adhisti menyibakkan gorden dan menatap gelapnya langit malam, seperti dirinya sekarang. Entah esok ia harus seperti apa padanya saat bertemu dengannya, kata-kata apa yang harus di ucap dan di sampaikan para sang pujaan. Tapi satu yang jelas sekarang, yaitu kepedihan yang teramat dalam di hati kecilnya sakit sungguh sakit pedih dan dilema melanda.


1 Minggu telah berlalu.


Sikap Endaru tambah parah ia sering menyendiri dan juga sulit di ajak bertemu. Entah mengapa ia tidak peduli sama sekali dengan dirinya, semenjak saham perusahaannya hancur dan mengalami kebangkrutan dari hari ke hari. Mungkin ini karma yang ia dapat lantaran ia memendam amarah pada Papa kandungnya sebab kematian ibunya dulu.


Tok


Tok


Tok


"Aru, apa aku boleh masuk. Aku ingin bicara dengan kamu Aru." Adhisti menanti jawaban dari dalam kamar.


"Masuk," Endaru hanya menatap sekilas wajah cantik dan anggun Adhisti dengan balutan kemeja dan celana pendeknya yang terlihat putih dan tinggi tubuh Adhisti.

__ADS_1


"Aru, bolehkah aku bertanya masalah pribadi kita?" duduk di sebelah Endaru.


"Masalah apa? sepertinya kita tidak ada masalah sama sekali Adhi, lagian mulai hari ini kamu aku bebaskan Adhi. Carilah laki-laki yang lebih baik dariku yang lebih mapan dan segala-galanya, tidak sepertiku yang miskin dan tidak punya apa-apa lagi!" suara putus asa Endaru membuat Adhisti bersimpati padanya lebih lagi.


Untuk apa diri ini pergi jika hati selalu stay di tempat ini dan enggan untuk beranjak pergi.


Adhisti menggelengkan kepalanya tanda ia tidak setuju dengan ini.


"Aku tidak akan pernah setuju Aru, aku ... aku ... akan tetap menemani kamu meski di titik paling dasar, aku tidak sanggup harus berjauhan dari kamu Aru." Memeluk erat tubuh Endaru, lalu ia menatap wajah Endaru dan meraih pipinya.


Cup.


"Aku mencintaimu Aru."


Endaru langsung membalas Adhisti dengan memeluk erat tubuhnya dan memberikan ciuman di seluruh wajahnya tapi dalam sekejap ia teringat jika dalam hatinya ia sudah berjanji akan memberikan kebebasan yang utuh pada Adhisti.


"Kenapa berhenti? bukannya baru saja kamu menikmatinya Aru." Adhisti kebingungan usai mendapatkan ciuman dari Endaru.


"Iya, tapi ini yang terakhir Adhi. Pergilah aku memberikanmu kebebasan mulai hari ini," Endaru beranjak berdiri lalu menarik pergelangan tangan Adhisti dan menyuruhnya segera pergi dari ruangannya.


"Kamu jahat Aru, kamu akan menyesal sudah melepaskan aku Aru." Sambil menunjuk-nunjuk pintu ruangan Endaru.

__ADS_1


Hatinya benar-benar terluka dengan sikap yang Endaru tunjukkan sekarang, baik jika ini kemauan dirinya untuk pergi maka ia akan mengabulkan harapannya.


Nita langsung menghampiri Adhisti.


"Mbak Adhi, kenapa marah-marah pada Pak bos. Apa Pak bos tidak mau di temui lagi mbak?"


'Nita terlalu banyak tau tentang masalah pribadi ini, tidak sepantasnya ia tau masalah suami istri yang hancur seperti vas bunga yang pernah di tabrak dirinya dan di lempar oleh Endaru waktu itu.'


"Iya, mbak Nita. Oh ya mbak saya titip Pak bos kamu ya mbak, jangan lupa ingatkan untuk makan dan jaga kesehatannya juga!" Adhisti memeluk Nita sebentar lalu melepaskannya.


Nita membeku di tempat, antara bingung dan tidak mengerti tentang situasi para bosnya.


"Tapi ... mbak Adhi." Nita mengekori Adhisti yang masuk ke dalam kamar.


"Mbak Nita, tidak usah mengikuti aku lagi. Aku bukan siapa-siapa di tempat ini mbak, jadi aku mohon dengan hormat. Tolong tinggalkan aku dan biarkan aku mengemasi barang-barang yang aku bawa waktu datang kemari dulu," Adhisti berbicara dengan nada santai namun dingin dan tajam.


"Mbak Adhi jahat ke Nita, kenapa pergi mendadak sih mbak?" Nita protes.


Adhisti menyunggingkan senyum.


"Iya, saya jahat namun tidak kejam seperti bos kamu. Maaf mbak Nita jika ada kata-kata yang salah, saya pamit dan anggap saja saya tidak pernah hadir di rumah ini dan anggap hanya angin lalu saja mbak Nita!" Adhisti memberikan sepucuk surat pada Nita tapi di tujukan pada Endaru.

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2