Istri Yang Disimpan

Istri Yang Disimpan
72. Usaha Endaru


__ADS_3

...SELAMAT MEMBACA...


Adhisti menangis sambil menatap jalan raya, tukang ojek yang membawanya sampai takut sendiri melihat penumpang cantiknya menangis.


"Mbak, mbak kenapa menangis? baru di pecat kerja ya mbak atau di tolak?" pertanyaan tukang ojek membuat Adhisti bicara.


"Iya, bukan hanya di tolak kerja jadi istri tapi juga di hina!" jawaban apa ini.


Tukang ojek hanya menelan salivanya dengan kasar, kasihan sekali daftar jadi calon istri tapi di tolak juga.


"Mbak, saya sarankan jangan ikut-ikutan ajang seperti itu mbak. Mbak nanti menyesal loh seperti sekarang ini." Saran yang salah tangkap.


"Sudah terlambat pak, lagian calon suami yang belum baik untuk saya makanya saya keluar dengan buru-buru. Bisa lebih cepat tidak pak, ingin adrenalin Pak?" menepuk pundak tukang ojek padahal tepukan di lengan kanan artinya belok kanan sedangkan kiri belok kiri dan untuk berhenti tepuk keduanya.


"Maaf mbak, ini sudah peraturan dari sana untuk memastikan keselamatan mbak jadi saya tidak berani mengemudi secara ugal-ugalan di jalan saya bisa kena masalah mbak jika ada yang tau perilaku saya di tambah lagi sekarang jaman semakin canggih takut ada yang merekam lalu melaporkan saya pada atasan mbak, sekali lagi maaf ya mbak!" tukang ojek hanya berbicara sesuai dengan peraturan yang ada.


"Baiklah ... baiklah ikuti saja peraturannya." Adhisti membatin lain kali bawa motor sendiri saja berjaga-jaga jika mau pergi dan melampiaskan kemarahannya tapi tetap waspada saat di perjalanan.

__ADS_1


Endaru merutuki kebodohannya kenapa bisa-bisanya ia membuat Adhisti memutuskan hubungannya, bagaimana ini padahal baru juga kemarin pacaran satu hari kemudian putus.


"Nasib-nasib, coba aku susul di tempat kosan dia siapa tau dia ada di sana." Endaru mengambil kunci mobilnya yang berada di dalam kamar.


Melati berdoa semoga pertemuan mereka tidak di persulit dan segera di mudahkan, rasanya Melati kembali ke masa-masa muda saat suaminya Septian masih ada dan sehat.


Adhisti yang baru saja sampai di tempat kosan kini berjalan-jalan sebentar membeli beberapa kebutuhan yang kebetulan kemarin ia terlupa membeli tepung dan telur ia ingin membuat gorengan untuk makan siang dan sorenya sambil menumis sayuran yang ia beli sekalian.


Endaru yang berada di depan pintu membuat Adhisti malas menatap mantannya barusan, kenapa orang ini ada di depan kosnya.


"Kenapa kesini?" ketus Adhisti.


Adhisti yang masih kecewa dengan Endaru langsung menepis tangan Endaru.


"Maaf Aru, tidak bisa untuk sekarang. Aku mau masuk dan kamu pulanglah." Perkataan Adhisti terasa sangat dingin.


Benar-benar kecewa Adhisti baru kali ini dirinya di hina seperti ini oleh orang yang ia cintai, ternyata cinta ini bodo* ya bisa-bisa nya ia di tipu oleh cinta lagi dan lagi.

__ADS_1


"Adhi ... Adhi ... aku mohon Adhi," mengetuk pintu terus menerus.


Tiba-tiba ada orang yang langsung menegur Endaru yaitu tetangga sebelah.


"Hey berisik banget kamu, cari sana wanita lain yang lebih baik jika ia jual mahal." Saran seorang pemuda.


Endaru menatap saja tanpa mengiyakan saran gila itu.


"Saya yang salah kenapa harus mencari yang lain, sepertinya anda tidak tau permasalahan kami jadi saya harap anda jangan ikut campur urusan kami berdua," Endaru mengabaikan pemuda itu dan mengetuknya lagi dan lagi.


"BERISIK TAU." Teriak ibu-ibu di sebelahnya lagi yang kemarin memuji wajah Endaru namun dalam sekejap ia di lempar sendal.


"Maaf Bu ... maaf tapi ini demi masa depan kami berdua bu," sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


"Dasar anak muda jaman sekarang, cari sensasi sana sini awas saja berbuat memalukan di wilayah kosan ini." Gertak Bu Maryam dengan memejamkan matanya sambil mengayunkan tubuhnya di kursi ayunan.


Endaru menatap kakinya yang mulai kram dan sakit sebab Adhisti tetap bersih kukuh tidak mau membuka pintu, biarkan saja ia merenungi kesalahannya dulu salah sendiri menyebut Adhisti sang kekasih seperti bajing4n.

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2