
Pagi hari
Adhisti menatap dirinya di depan pantulan kaca, kaki nya masih sakit tapi ia tahan agar suaminya tida hawatir berlebihan pada dirinya serta obat perda nyeri sudah ia oleskan.
"Mau ke mall?" sambil memeluk pinggang ramping Adhisti.
"Iya, temani ya."
"Oke aku temani sayang," melepas pelukannya dan berjalan mengambil hair dryer di laci.
Saat belanja Adhisti bingung dengan pakaian yang harus ia beli bahkan beberapa kali ia bertanya pada pelayan toko cari pakaian tertutup yang kekinian, meski ia sudah punya ponsel tapi tentang pakaian ia kudet alias kurang update tapi meski begitu Endaru sangat menghargai istrinya dan tidak merendahkan Adhisti, maklum saja hidup masa lalunya yang kejam tanpa pernah merasakan kebahagiaan sedikit pun.
"Nanti jika aku gak pantas pakai beginian jangan kamu ketawain ya." Memegang salah satu baju panjang.
"Tidak akan, justru aku ingin melihat istriku menutup badannya dan aku juga berharap kamu bisa mengenakan cadar jika keluar dari rumah," Endaru sedikit banyak tau tentang menutup aurat bagi perempuan.
"Kalau masalah cadar, bisa enggak aku belajar pelan-pelan Aru. Kalau tidak, bisa enggak aku pakai masker wajahku yang ini dulu?" menunjukkan masker penutup hidung dan ikut yang saat ini ia kenakan.
"Iya sayang, ayo di coba dulu pakaiannya." Menyuruhnya segera berganti di bilik ganti.
__ADS_1
Adhisti langsung mengenakannya sesuai yang ia tau, untung saja jilbabnya langsung masuk tidak usah pakai ini dan itu jadi pakaian ini mempermudah Adhisti yang masih belajar, dulu pernah ia pakai sewaktu ia mengaji namun tidak saat ia di rumah maupun bermain bersama teman-temannya.
Endaru terpesona saat melihat wajah Adhisti istrinya yang begitu berbeda 180 Drajat dari sebelumnya, nampak indah dan juga sangat cantik serta anggun di pandang mata. Tidak bisa di biarkan jika ia tidak menutup sebagian wajahnya pasti wajahnya akan membuat orang lain menikmatinya, bukannya ini akan menjadi amal jariyah yang dosanya akan mengalir terus jika ada yang memotret wajahnya.
"Cantik bidadariku, tapi pakai ini dulu." Mengayun-ayunkan masker pada Adhisti.
"Terimakasih Aru," tersenyum lalu mengenakannya.
Kebahagiaan ini tak bisa di nilai dengan materi, sungguh hidup saling rukun dan baik-baik saja sangat indah. Semoga ikatan baru ini menjadi lembaran demi lembaran cerita baru yang selalu di ingat sampai kapan pun.
2 bulan kemudian
"Apa jangan-jangan aku mandul." Adhisti berpikiran buruk tentang dirinya.
Ia menatap lekat-lekat tes pack yang ia pegang sudah puluhan kali ia coba namun hasilnya negatif, ia kira ia telat 2 Minggu hasilnya positif namun nyatanya negatif lagi dan lagi ia pikir ia sedang berbadan dua namun lagi-lagi itu hanya mimpi belaka, kenapa bisa begini sih nasib hidupnya. Bukannya jika ia tidak bisa memberikan keturunan ia akan di tinggal pasangan kemungkinan besarnya.
"Aku harus bilang apa ke Aru, jika hasilnya negatif lagi. Aku takut Aru meninggalkan aku di dalam kondisi aku seperti ini, aku harus ke kantornya hari ini." Adhisti segera mengusap air matanya dan memberikan sedikit bedak untuk menutupi wajahnya yang sedikit sembab.
Endaru berada di Rumah Sakit lebih tepatnya ia membuka kembali operasi kecilnya waktu itu dan ia akan menjelaskan semua pada Adhisti tentang dirinya selama ini, bukan pura-pura lupa atau apa tapi ia bingung harus memulai dari mana membicarakan masalah ini.
__ADS_1
Adhisti yang sudah di kantor Endaru langsung menuju ruangannya namun telponnya sedari tadi tidak bisa di hubungi, Ryan yang menggantikan Endaru berkerja di luar ruangannya.
"Kak Ryan, Aru kemana?" tanyanya yang hendak masuk ke ruangan Endaru sebab sedari tadi telponnya tidak aktif.
"Em ... dia ada di rumah sakit Adhisti!" jawabnya ragu-ragu tapi ia tidak bisa bohong lagian tadi Endaru bilangnya kan gak ada pesan untuk berbohong pada Adhisti.
"Kenapa Kak, dia sedang sakit atau apa. Kenapa kakak juga tidak mengabari aku dan ponselnya kenapa juga ikut-ikutan mati." Adhisti panik.
"Tapi kamu tenang dulu Adhi, jangan panik oke," menenagkan namun bukannya tenang Adhisti malah jadi tambah panik. Pasti ada yang tidak beres ini dengan Endaru.
"Kak di rumah sakit mana Aru di rawat?" pertanyaan ini membuat Ryan bingung juga, masa iya ia bilang jika sekarang ini Endaru sedang berada di Singapura.
"Dimana kak?" mengulangi pertanyaannya.
"Di Singapura Adhi, kemungkinan nanti besok lusa baru kembali!" jawabnya hampir mati di cekik Adhisti.
Pertanyaan yang menggebu dan juga banyak tekanan membuat Ryan tidak kuat menghadapi ini.
"Sakit apa sih kak. Endaru, kenapa ia sembunyi-sembunyi seperti ini?" Adhisti tubuhnya merosot ke lantai dan ia menangis di tempat.
__ADS_1
Antara sedih dan kecewa pada diri Adhisti, kenapa suaminya berada di rumah sakit ia tidak tau. Dan yang lebih parahnya kenapa tidak bilang dulu jika ia pergi dadakan ke Singapura, apa arti dirinya ini di hatinya, atau jangan-jangan ia sudah di anggap orang lain lagi yang tidak ada kepentingan dan menyuruh kembali seperti kehidupan sebelum-sebelumnya yang mengurusi diri sendiri.