Istri Yang Disimpan

Istri Yang Disimpan
24. Kepekaan batin seorang istri pada suaminya


__ADS_3

...SELAMAT MEMBACA...


Ryan menerima pesan masuk dari seseorang yang tak ia kenal, lalu istrinya Mega juga mengirimkan pesan pada dirinya. Ryan mengerutkan kedua alisnya, saat Mega membicarakan Tisha apakah sudah mengirimkan pesan atau telpon. Ryan menatap Endaru dari ekor matanya, iya tidak berani membangunkan indukan singa yang mengamuk tiba-tiba.


Ryan meminta sang istri untuk tidak membicarakan Tisha di depan Endaru.


2 hari kemudian.


Seorang wanita cantik dengan pakaian bagus menuruni pesawat, dengan kaca mata dan tas menghiasi tubuhnya. Semua yang memandang pasti beranggapan jika dirinya adalah bule yang berkunjung ke Indonesia. Wajah cantiknya seperti bule, maklum saja Papanya dari Australia sedangkan ibunya dari Jawa Timur yang tinggal di Jakarta.


Bandara Internasional Jakarta tempat yang ia pilih, sebab bandara ini di mana ia kehilangan cinta monyetnya bersama Endaru. Andai orang tuanya tidak pindah ke Singapura saat berkerja mungkin ia tidak akan sesakit ini berpisah dengan Endaru.


"Mega." Tisha memeluk Mega dengan erat namun Mega segera melepas dekapan Tisha.


"Kenapa Mega? apa ada yang salah?" tanyanya tanpa berdosa, memang ia tidak tau jika Mega tegah berbadan dua.


"Aku hamil!" jawaban sederhana Mega membuat Tisha kecewa, pasalnya dulu Mega juga menyukai Endaru.


"Kamu sudah menikah, sama siapa. Apa sama Endaru?" pertanyaan konyol membuat Mega tertawa nyaring sekali.

__ADS_1


"Aa ... ha ... ha ..., gak usah kepo kamu. Kenapa pulang ke Indonesia, baru putus dengan kekasihmu atau perusahaan yang memperkerjakan orang tuamu bangkrut." Mega paling tidak suka basa basi dengan Tisha.


"Gak punya kekasih jadi gak putus cinta, yang ada gue dilema ini. Kenapa sampai sekarang Endaru gak nyariin gue di Singapura, padahal Jakarta ke Singapura gak jauh-jauh banget malah terkesan dekat sekali," Tisha terlihat sangat kecewa dengan Endaru.


"Buat apa nyariin elo, kayak gak ada kerjaan saja. Lo mau tinggal di rumah lama Lo atau ke apartemen?" Mega masuk ke dalam mobil pribadinya yang di supir orang kepercayaannya.


"Rumah lama, lagian banyak pembantu yang masih berkerja di sana!" jawab Tisha santai.


Sepertinya banyak yang sudah berubah bahkan tatanan kota yang begitu indah dan rapi bahkan kemacetan sedikit reda dari sebelumnya hampir tidak ada.


Di rumah Septian.


"Tuan, ini minumannya." Adhisti memberikan secangkir cappucino namun tidak di gubris oleh Endaru.


'Apa yang menggangu pikirannya, kenapa sedari kemarin ia melamun seperti orang terkena masalah berat dalam hidup. Apa kekasihnya pulang ke Indonesia, sepertinya iya.' Dalam hati Adhisti hanya menebak saja.



Dari beberapa novel yang pernah ia baca, kebanyakan cowok jika seperti ini biasanya jika bukan karena pekerjaan pasti gara-gara kekasih lamanya pulang dari luar Negri.

__ADS_1


Pyar


Tidak sengaja Endaru menyenggol gelas berisi cappucino yang masih panas dan pada akhirnya kaki Adhisti terkena imbasnya karena tepat di bawah meja tersebut, sedangkan kaki Endaru tidak terkena sebab ia mengenakan sepatu dan celana training panjang dan siap untuk berolah raga.


"Aw ...." Adhisti menahan kakinya yang terkena kopi dan pecahan cangkir.


Baru juga kakinya sembuh kini harus terluka lagi dan sekarang kaki kirinya yang terkena.


"Kamu tidak apa-apa kan Adhi?" sambil menatap kaki Adhisti yang sudah mengeluarkan darah akibat goresan cangkir yang pecah.


"Tidak apa-apa tuan, hanya perih dan berdenyut ngilu punggung kaki saya tuan!" Adhisti berusaha sok kuat padahal dalam hati ia mengumpat Endaru habis-habisan.


'Dasar orang ini, apa matanya buram mendadak. Apa dia tidak melihat kakiku rasanya mau meledak seperti bom atom, sakit banget lagi.' Omelnya dalam hati.


...BERSAMBUNG...


...Emak up lagi, ayo dong jempol dan rate nya...


...Terimakasih...

__ADS_1


__ADS_2