
...SELAMAT MEMBACA...
Adhisti berpikir keras otaknya terpecah belah kemana-mana belum lagi ia memikirkan naskah yang harus ia kerjakan, tapi apa salahnya jalan-jalan siapa tau dapat ide dan inspirasi dari luar rumah.
💬 Oke, kapan
Endaru yang permintaannya di setujui langsung jingkrak-jingkrak kegirangan.
"Hore ... hore ... hore ... hore ..., pintu sudah di buka menunggu pemilik hati menerima tamu." Sambil menggoyangkan badannya ke kanan dan ke kiri sambil putar-putar.
💬 Nanti siang, bisa???
2 menit kemudian.
💬 Bisa
Balasan Adhisti membuat Endaru tambah tidak karu-karuan senangnya, ia loncat-loncat di atas tempat tidur sebelum ia terjatuh di lantai.
Brugh
"Aw ...." Mengusap lengan dan pant4tnya.
"Senangnya hatiku, nanti ketemu Adhi," menciumi potret Adhisti yang ia curi diam-diam.
Melati yang hendak mengetuk pintu langsung mendobraknya.
Brag
__ADS_1
Endaru menatap ke arah pintu.
"Kenapa tiduran di lantai?" Melati menatap heran.
"Enggak kenapa-kenapa Oma!" duduk bersila.
Makan siang.
Endaru meletakkan garpu dan sendoknya dengan kasar usai makan siang.
Klotak
Adhisti terperanjat kaget tidak menyangka Endaru bersikap seperti itu, kenapa dia marah lagi benar-benar laki-laki labil ternyata.
"Kenapa begitu keras meletakkan sendok dan garpu, ada dendam pribadinya dengannya?" ketus Adhisti.
Menggeleng.
"Caper nih ceritanya, tapi sayang akunya gak bisa seperti yang kamu harapkan. Terimakasih." Mengambil tisu dari tangan Endaru dengan cepat.
"Gak mau di bersihkan itunya?" tunjuk pada sudut bibir Adhisti.
"Tidak usah, tanganku masih sehat dan bisa di gunakan!" membuang ke piring yang baru ia kenakan.
Adhisti di ajak Endaru jalan-jalan lagi, antara modus dan tulus tidak ada bedanya untuk sekarang.
Suasana sejuk dari alam membuat Adhisti memejamkan matanya, angin berhembus kuat sebab siang mulai pudar dan kini berganti sore selain menikmati pemandangan Adhisti juga memesan makanan dan minuman yang ada di tempat ini.
__ADS_1
"Aru."
"Apa sayang?" kata-kata yang membuat Adhisti berada di atas awan.
"Bagaimana jika suatu hari nanti aku mengecewakan kamu Aru, setelah kita menikah nanti." Adhisti menatap ke arah bawah.
"Tergantung mengecewakan atas perbuatan dan tindakan seperti apa," helaan nafas berat Endaru terdengar.
"Misalnya selingkuh gitu." Pertanyaan yang terlontar dari mulut Adhisti langsung di serang ciuman mendadak.
"Aku akan tunjukkan seberapa hebatnya aku ini di depan selingkuhan kamu dan akan aku buat dia serangan jantung mendadak seketika itu, biar sekalian malaikat maut menjemputnya jika dia tetap bersih kukuh ingin denganmu, bahkan aku tidak akan segan-segan membuat kamu tidak bisa berpaling dari pesonaku ini," bisiknya memperingati dan mengancam.
"Gak jadi selingkuh kalau gitu, kalau terjadi sepertinya diam-diam saja." Rencana gila apa yang di bicarakan Adhisti, Endaru geram sedari tadi kenapa bahas ini terus selingkuh dan selingkuh lagi.
"Tapi jika kamu selingkuh rasanya aku gak bisa terima deh Aru." Adhisti tidak sanggup.
'Dasar wanita, mau menang banyak ternyata mau selingkuh gak mau di selingkuhi dasar. Tapi sampai kapan pun aku tidak akan membiarkan kamu jauh di tangan laki-laki lain Adhi.' Endaru menatap dalam diam.
Apa tidak ada tema yang lain apa bosan ini ini terus yang di bahas dan pada akhirnya balikan atau menyesal usai kehilangan dia.
"Aduh sakit." Tangan Adhisti tergores paku yang ada di bawah meja tanpa sengaja.
"Kenapa Adhi, coba sini aku lihat," langsung menarik tangannya, benar-benar suka sekali dengan kecerobohan tubuhnya ini.
Endaru segera mengobati luka di jari Adhisti dan ia membeli plester atau handsaplast tapi sebelum itu ia membersihkan luka Adhisti dengan air bersih yang mengalir di tempat cuci tangan.
"Lain kali hati-hati sayang, jangan sampai ceroboh dan terluka lagi apa gak capek badan terkena luka terus?" mengomel tapi perhatian, benar-benar sweat banget perilaku Endaru.
__ADS_1
"Enggak capek Aru, justru senang malahan!" cengengesan lagi padahal luka di jarinya ini darahnya baru saja berhenti.
"Dasar wanita yang suka cari perhatianku." Endaru mencubit hidung Adhisti.