
Adhisti menyibakkan kelambu yang ada di jendela dan matanya seperti satpam yang sedang mengawasi tempat kerjanya kesana kemari menyapu semua halaman yang ada, namun tidak menemukan siapa-siapa ada rasa kecewa saat melihat suasana begitu sepi tanpa ada orang yang berisik lagi, seperti ada yang hilang dari dekapan pandangannya.
"Ya sudah jika sudah pergi, lanjut makan lah ... dari pada makanannya jadi dingin dan basi." Membuka kotak makanan tersebut, Adhisti mengerenyitkan dahinya makanan apa ini? aneh sekali bentukannya halal enggak ini makanan di tambah lagi saus merah bersemu coklat kehitaman apa ini.
"Ya Allah semoga halal, aamiin." Adhisti segera berdoa dengan mengangkat kedua tangannya.
Adhisti mencongkel makanan tersebut dan melihat bagian bawah makanan itu apa isinya, ternyata nasi putih bahkan aromanya saja sangat nikmat, jangan bilang nasinya di campur sesuatu pengharum makanan.
"Entahlah halal atau tidak, semoga berkah untuk aku dan yang ngasih. Awas saja kalau makanan ini gak halal, aku remas wajahnya besok." Mengancam secara tidak langsung tapi mulut tetap ikut mengunyah makanan dengan ganasnya dan sangat tidak sopan sekali saat masuk ke dalam mulut bahkan sekali masuk dengan takaran besar.
"Em ... enak banget lagi, gratis. Coba saja besok-besok gini terus, bisa hemat pengeluaran." Melanjutkan acara makan enaknya dan tidak peduli dengan suara deringan ponsel yang sedari tadi berdering terus menerus, benar-benar di teror dirinya semenjak punya ponsel.
Keesokan harinya.
Suara sepatu memasuki loby kantor dan beberapa karyawan sedang menyapa kedatangan seorang laki-laki paruh baya dengan hormat juga.
Endaru sedari tadi merasakan ada hawa-hawa tidak enak, ia merasa akan ada seseorang yang akan datang ke kantornya pagi ini.
Tok
Tok
Tok
Endaru menatap malas, tapi sebelum itu ia mengecek bagian CCTV yang ada di luar ruangannya siapa yang datang ke ruangannya.
__ADS_1
"Ngapain ini orang datang ke sini, longgar gak ada kerjaan atau pengangguran sekarang. Setelah mendzolimi anaknya." Endaru sebenarnya sungguh malas melayani orang ini, hatinya marah dan benci jika melihatnya ada di dekat dirinya.
Suara ketukan pintu masih terdengar, Endaru terpaksa menerima tamu.
"Masuk." Lantang ucapan Endaru, ia hari ini memang sibuk jadi tamu datang pun tidak ia tanggapi keberadaannya seperti angin lalu saja.
"Apa seperti ini caramu menyambut tamu kamu Endaru?" Malik duduk di salah satu sofa panjang, ia menatap seluruh penjuru ruangan yang sangat sepi tidak ada hiasan atau apa pun kecuali buku-buku tebal.
"Ya seperti yang anda lihat, tuan Malik!" jawabnya sangat angkuh.
Malik tersenyum melihat putranya yang tumbuh seperti ini, salahnya juga kurang perhatian sejak dia lahir makan dari itu inilah buah yang ia petik dari hasil yang ia tanam.
"Baiklah jika kedatangan Papa menganggu kamu Endaru, jangan lupa nanti malam berkunjunglah di rumah Papa ajak sekalian Adhisti." Malik pergi usai berbicara sedikit ke putranya.
Andai waktu dapat di putar lagi, tak ingin ia egois dan membiarkan sang istri menderita bukan salahnya jadi istri tapi salah sahabat egoisnya itu.
Ia segera masuk ke dalam mobil dan menuju ke tempat pemakaman keluarga Septian, Lidia di makamkan di tempat itu sebab ia menantu kesayangan keluarga Septian tentunya.
Endaru menggigit bibir bawahnya, dan badannya mulai bergetar dan hendak menangis. Hatinya begitu rapuh ia menutup kedua matanya dengan kedua telapak tangannya, ia menangis sesenggukan.
Ryan hendak masuk namun tidak jadi saat mendengar suara isak tangis Endaru di dalam ruang kerjanya, kenapa setiap selesai di kunjungi papanya ia selalu menangis lagi dan lagi. Ryan memutuskan menghubungi Adhisti namun lewat pesan singkat dahulu sebelum menelponnya.
💬 Adhisti, sibuk tidak???
Ting
__ADS_1
💬 Tidak kak Ryan, ada apa?
💬 Bisa datang ke kantor, ada yang sedih ini di ruang kerjanya!
💬 Siapa??? (pura-pura bodo4)
💬 Siapa lagi kalau bukan mantan suami siri kamu! cepat datang kemari ya jangan lupa bawa apa gitu untuk menghiburnya.
💬 Iyaaaa
Adhisti menghela nafas, Endaru sedang sedih dan ia di suruh Ryan untuk menghiburnya. Berasa dunia jungkir balik loh ini, masa cewek mengubur cowok yang sedang sedih terkesan gimana gitu di diri Adhisti.
"Ya sudah deh, lagian gak ada salahnya mengibur laki-laki yang sedang sedih dan galau hatinya." Adhisti memperbaiki dandanannya dan ia menggunakan pakaian yang rapi, malu dong masa di kantor Endaru pakaiannya amburadul kayak mau bakar sampah.
Sesampainya di kantor ia mengetuk pintu.
"Aru."
Tok
Tok
Tok
"Boleh aku masuk?" menanti jawaban namun terasa hening.
__ADS_1
"Nih orang kemana sih, sepi banget." Adhisti masuk begitu saja.