Istri Yang Disimpan

Istri Yang Disimpan
37. Siapa Adinda


__ADS_3

...SELAMAT MEMBACA...


Kediaman Malik Septian.


Adhisti dengan dress selututnya terlihat sangat cantik dan menawan.


Malik yang duduk di sofa ruang tamu langsung menatap ke arah sumber suara. Betapa terkejutnya dia saat melihat wajah ini, wajah wanita ini kenapa mirip seperti orang yang pernah ia lihat.


"Adinda .... Apa kamu Adinda?" Malik berjalan mendekat lalu ia hendak menyentuh pipi Adhisti dan langsung di tampik Endaru.


"Jaga tangan anda, dari istri saya tuan Malik!" Endaru geram melihat Papanya yang ternyata sampai sekarang masih sangat suka dengan wanita yang terlihat menarik hati.


"Siapa dia? kenapa wajahnya terasa familiar di mata Papa?" tanyanya sambil menunjuk Adhisti.


"Dia istriku, jangan macam-macam dengannya Papa!" Endaru merangkul pinggang Adhisti.


"Papa, menanyai istrimu bukan kamu. Kenapa kamu yang menyahut Endaru." Malik jadi kesal dengan sikap yang putranya tunjukkan.


"Aku ada hak atas istriku, jadi jika anda bermasalah dengan keputusan saya. Itu terserah anda," Endaru menarik tangan Adhisti dan mengajaknya keluar dan pulang dari rumah panas ini.


Saat berada di mobil.

__ADS_1


"Aru, kenapa kamu begitu marah dengan Papa kamu?"


"Tidak apa-apa, hanya kesal saja saat melihat dia belum berubah juga menyakiti hati orang. Dan si pak tua kenapa selalu doyan daun muda, aku tidak suka itu Adhi!" Endaru menyentuh dagunya sambil menyandarkan kepalanya di jendela mobil.


"Iya Aru." Terus terang saja Adhisti memang tidak pandai menghibur orang, ia cenderung penutup dan akan menjawab dan bertanya sekedarnya, terkesan dingin cuek sekali.


Di dalam perjalanan hanya ada keheningan, bahkan 2 body guard Endaru merasa heran. Biasanya dua orang ini akan beradu argumen, tapi tadi hanya sekedar pertanyaan saja yang terlontar, terasa sangat sepi dan mengheningkan cipta sore ini.


Malik yang berada di rumah meratapi nasibnya, ternyata api di hati Endaru putranya masih membara sampai sekarang, ini pelajaran yang dapat di petik dari masa lalu. Perbaiki diri dan jaga perasaan pasangan apalagi jika sudah memiliki anak, jaga perasaan mereka. Mereka lebih peka dari akibat perbuatan orang tua, dan akan selalu membekas di ingatannya.




Adhisti menoleh.


"Iya, ada apa Aru?" sambil tersenyum.


"Apa kamu pernah bertemu Papa sebelumnya?" pertanyaan Endaru langsung di gelenggi Adhisti.


Dirinya memang belum pernah bertemu dengan Papanya Endaru yang bernama Malik itu dan baru sore ini ia bertemu.

__ADS_1


"Benarkan? tapi kenapa pak tua itu menyebutmu dengan nama Adinda, nama yang hampir sama dengan kamu Adhi. Siapa Adinda, Adhi?" Endaru merasa sangat terusik sekali.


Apa benar Adhisti dan Adinda sama wajahnya? atau jangan-jangan Adhisti istrinya itu ternyata Adinda yang sedang menyamar, tapi.


'Jika dia menipuku, awas saja. Sampai ke ujung dunia akan aku cari, tidak peduli dimana pun ia berada.' Endaru berpikir.


"Aku juga tidak tau Aru, bukannya di dunia ini ada tujuh wajah serupa milik kita!" perkataan Adhisti memang benar adanya, manusia di lahirkan memiliki rupa yang hampir sama dan itu sebanyak 7 selain saudara kembar.


"Benar juga, tapi sudahlah." Endaru beranjak pergi dan meninggalkan Adhisti yang tergopoh-gopoh jalannya.


Kakinya terasa berdenyut saat menaiki anak tangga, sebab beban dari tubuhnya kian melonjak saat menaiki anak tangga.


Nita yang melihat Adhisti berjalan kesusahan, langsung berlari dan membantunya.


"Mbak Adhi, saya bantu." Mengulurkan tangannya dan memapahnya naik tangga pelan-pelan.


"Terimakasih mbak Nita," Adhisti tetap tersenyum di depan Nita, tapi tidak di depan Endaru.


Hatinya selalu sedih dengan sikap yang Endaru berikan, antara senang dan sedih selalu beriringan secara bersama di hidupnya.


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


...Emak minta doanya ya dan dukungannya semoga Emak sehat terus. Terimakasih atas dukungannya, jangan lupa pencet like love atau favorite lalu bintang 5 ya....


__ADS_2