
...SELAMAT MEMBACA...
Melati masih berada di rumah Endaru, biasanya ia akan tinggal selama 1 bulan jika lama tidak ke rumah Endaru. Memang Melati jarang menyambangi rumah cucunya sebab Endaru yang sering datang ke rumahnya bersama gerombolan sahabat-sahabatnya maksudnya cuma Ryan dan Mega.
"Gimana, mau memaafkan tidak Adhisti?" Melati tidak yakin jika dia memaafkan Endaru dengan cepat.
"Atau gagal lagi." Menebak dengan benar, ternyata cucunya ini tidak bisa membujuk calon cucu mantu.
"Gagal Oma," menangis keras sampai gak ketulungan sambil guling-guling di lantai. Beberapa asisten rumah tangganya tertawa lirih sebelum nanti di belakang pecah suara tawanya, lucu sekali bos dinginnya mendadak cengeng seperti ini dan jadi kekanak-kanakan.
Melati pusing dengan tingkah Endaru yang semakin anak kecil, berharap saja Adhisti segera menerimanya pusing lama-lama mendengar suara tangisan Endaru yang kencang.
"Oma tega banget gak nolongin malah pergi, apa Oma senang aku terpuruk seperti ini?" menyeka air matanya.
Ternyata di balik ketegasan dan galaknya Endaru tersimpan hati yang rapuh dan butuh penguat.
Adhisti mensekroll layar ponselnya sambil mencari-cari pekerjaan melalui ponsel pintarnya tapi gak ketemu dan pada akhirnya ia baca novel lagi siapa tau dapat inspirasi usai membaca, sebenarnya Adhisti tertarik di dunia literasi tapi ia bingung harus di mulai dari mana dan pada akhirnya ia jauh cinta pada salah satu plat from dan mulai mencari tau di aplikasi itu cuma iseng-iseng saja, lalu ia bergabung dalam grub plat from tersebut dan menggali informasi yang lebih dalam lagi untuk terjun sebagai penulis dadakan. Karena terlalu banyak menghalunya menjadikan Adhisti terinspirasi untuk menulis dan akan menuangkan beberapa kisah nyatanya dalam menulis.
"Coba nulis saja, lagian gak ada salahnya mencoba suatu hal yang baru meski nanti hasilnya amburadul gak apa-apa." Adhisti membuat judul lalu ia membuat sinopsis bingung bercampur galau.
Ternyata membuat suatu karya tidaklah mudah, padahal tadi ia hampir saja menjelek-jelekkan karya orang untung ia tahan unek-uneknya dan tidak ia ungkapkan.
*
"Beb." Manjanya bumil satu ini dan hampir terlupa bahkan tidak masuk dalam bab.
__ADS_1
"Iya beb, ada apa? mau di buatin apa Bebeb." Ryan sudah siap siaga dan menggunakan celemek motif polkadot.
Mengangguk.
"Puding beb, di kasih buah strawberry sama ceri yang banyak dan satu lagi di tambah susu kental manis yang putih dan banyak jika sudah jadi," mengusap dagunya di atas meja ruang makan yang ada di dapur.
"Iya siap untuk istriku tercinta yang pakai love love satu rumah." Sembari mengaduk serbuk puding yang sudah larut di dalam panci berisi air sesuai takaran yang ada di belakang kemasan, puding warna putih ia bagi 2 dan lalu salah satunya di beri pewarna makanan berwarna merah dan ungu.
Sedikit heran dengan ngidam ala Mega ini, suka sekali dengan warna warni saat memakan sesuatu tapi meski begitu ia tetap mengutamakan kesehatan setiap makanan yang ia konsumsi dan kandungannya apa saja, karena ini mode ngidam jadi semua makanan masuk begitu saja.
Tring
💬 Sayang.
"Beb ini siapa? pacar baru."
Ucapan Mega bagai ribuan tusukkan belati, ia langsung membalikkan badannya dan menatap ponselnya yang sudah di hadapkan pada dirinya.
"Aku gak punya pacar beb, satu saja sudah cukup dan bahagia," mendekati Mega dan menampilkan senyum mautnya.
"Dasar bajing4n gak mau ngaku, istri hamil tega-teganya kamu mendua. Gila ya kamu Ryan." Mega memukul wajah Ryan tanpa ampun.
Bugh
Bugh
__ADS_1
Bugh
"Dasar laki-laki gak bersyukur." Masih mengomel dan Ryan tidak menolak pukulan dari istrinya dan ia lebih memilih diam lagian jika ia bicara sekarang juga tidak ada gunanya sang istri terlanjur marah-marah juga.
"Kenapa kamu tega Ryan," Mega yang emosinya naik turun akhirnya menangis sejadi-jadinya di pelukan Ryan.
"Beb, percaya denganku apa pernah aku selama ini bermain dengan wanita lain, gak pernah sayang hanya dengan kamu saja meski terkadang aku marah tapi tidak pernah sedikit pun di benakku untuk menduakan cinta kita, tidak pernah Mega." Mengusap surai rambut Mega.
Mega belum tenang hatinya ia masih galau dan resah.
Pagi hari.
💬 Sayang
💬 Ketemuan yuk
💬 Adhiiiiii, jangan lama-lama dong cueknya. Katanya mau ngasih aku kesempatan
Adhisti yang baru selesai mandi membaca pesan itu.
💬 Baru selesai mandi, kenapa berisik sih Aru. Kamu pengangguran ya sekarang sampai-sampai banyak waktu mengirimkan ku pesan singkat???
💬 Iya Adhi, jalan yuk
Adhisti menelan salivanya.
__ADS_1