
...SELAMAT MEMBACA...
Sesampainya di rumah.
"Hati-hati." Adhisti di bantu Endaru berjalan masuk ke dalam rumah, tanpa adanya di tutupin matanya.
Adhisti tergopoh-gopoh jalannya.
"Aru, apa boleh aku bertanya sesuatu hal?" menatap Endaru yang berada di depannya yang sedang membantu dirinya duduk di sofa ruang keluarga.
"Apa!" Endaru menjauh dari Adhisti.
"Apa ..., dia wanita yang kamu cintai?" pertanyaan yang sangat memuakkan di dengar Endaru.
Apa dia tidak merasa jika perhatian dirinya full pada Adhisti. Mulai dari hal-hal kecil dan apa pun yang di lakukan dirinya di rumah ini, apa kurang jelas di lihat.
"Dulu sempat ada sedikit simpati padanya, hanya secuil tidak lebih!" Endaru berjalan ke arah lemari pendingin dan mengambil minuman dingin.
"Oh." Semburat kecewa terpancar di wajah Adhisti.
Berarti perhatian Endaru selama ini padanya cuma ada rasa simpati dan besarnya hanya secuil saja dan tidak lebih dari itu. Betapa sedikitnya harapan untuk memiliki dirinya.
__ADS_1
"Kamu jangan berpikir macam-macam Adhi," seakan Endaru tau pikiran Adhisti yang berpikir bahwa dirinya masih ada rasa pada Tisha.
Padahal dari awal bertemu Tisha tidak lebih dari sekedar teman biasa bahkan bukan teman akrab nongkrong seperti Mega dan Ryan.
"Aku tidak berani berpikir macam-macam Aru, lagi pula jika kamu menyukai bahkan mencintai orang lain, itu adalah hak kamu Aru. Selain itu aku cuma istri yang disimpan bukan? jadi untuk apa aku berharap lebih! bukannya itu tidak boleh." Ucapan Adhisti menyayat hati.
'Lagi pula, aku harus tau diri jika aku berada di titik paling bawah sedangkan kamu berada di atas Aru, tidak layak sebab kamu putra bangsawan dan aku rakyat jelata dan harus banyak-banyak sadar diri akan kekurangan segalanya.'
"Kenapa? apa kamu tidak ingin memiliki aku seumur hidup kamu?" lagi-lagi pertanyaan yang seolah memberi harapan besar sekali.
Adhisti menggelengkan kepalanya.
"Tidak, aku hanya ingin berteman baik denganmu!" Adhisti mengelak.
"Mau kemana, kenapa menghindariku Adhi." Sambil menunjukkan senyum manisnya.
"Jangan mendekat Aru," terus saja menghindar dan sampai pada tepi sofa yang ia duduki dan pada akhirnya ia terpojok.
"Kenapa? apa kamu lebih suka di dekati laki-laki lain seperti Dokter sok kecakepan tadi?"
"Tidak, justru aku takut di dekati dia. Takut khilaf Aru, khilaf akan pesonanya!" jawaban yang langsung mendapat sambutan ciuman manis dari Endaru.
__ADS_1
"Apa dia lebih manis dari ini." Pertanyaan tidak penting lagi.
Dalam hati Adhisti tertekan, kenapa punya suami dengan karakter seperti ini. Calon bucin akut yang sudah mulai terlihat tingkah posesif dan sedikit ada pemaksaan.
"Manisan kembang gula dari pada dia, kenapa sedari tadi kamu selalu membahas dia? apa kamu cemburu Aru?"
Endaru menjitak dahi Adhisti.
"Jangan kepedean Adhi, kamu itu istri orang jangan mencari pendamping lain sebelum berpisah. Lagian menghianati pasangan dapat karma secara instan loh, apa kamu tidak tau!" menceramahi Adhisti.
"Aku tau, seperti sinetron itu kan yang istri terluka dan dihianati suaminya. Kenapa selalu istri yang tertindas, sesekali suami yang tertindas biar istri happy begitu."
"Durhaka itu namanya," enggan kalah dari Adhisti.
"Suami juga jadi durhaka melukai istrinya yang baik dan lemah lembut cuma untuk pelakor." Mulai adu mulut dan melupakan sakit di kakinya.
"Karena dia lebih memuaskan dari pada istrinya di rumah yang kucel," Endaru seakan enggan mengalah justru melayani perdebatan dan ngomporin terus menerus.
"Jadi kamu menghina wanita yang kamu nikahi yang berwujud kucel, dasar laki-laki bajinga* berengse* maunya enak dan cantik tapi gak mau modal sedikitpun, minta di potong itunya." Adhisti memukul badan Endaru dengan bantal yang ada di sofa.
__ADS_1
...BERSAMBUNG...
Teruntuk pasangan, hargailah pasangan kamu meski dia gak seglowing milik orang lain yang masih singel atau tidak.