Istri Yang Disimpan

Istri Yang Disimpan
32. Surat dari Adhisti


__ADS_3

...SELAMAT MEMBACA...


Adhisti duduk di taman sambil memijat kakinya yang berdenyut ngilu sekali, apalagi matahari sudah sangat terik sekali di tambah bau asap kendaraan yang berlalu lalang.


"Uhuk ... uhuk ...." Sambil menatap kesana kemari, mau menanyakan tempat tinggal Endaru Septian.


Kemudian datang seseorang yang tadi memberinya sapu tangan.


"Eh, ketemu lagi dengan adik manis." Sambil menepikan motornya dan memarkirkannya ke tempat parkir.


'Haduh, ketemu orang yang sama lagi. Apa dunia ini selebar daun kelor saja?' Adhisti tidak menyukai laki-laki yang sok baik dan ujung-ujungnya menyakiti dirinya dengan cara yang lebih dalam lagi.


'Sepertinya benar-benar selebar daun kelor dunia ini, ngapain dia tersenyum pada istri orang? ups ... istri siri orang lain.' Adhisti menatap malas Akasha.


"Hay, kenapa sendirian di sini?" tanyanya yang hendak menyentuh bahunya Adhisti, namun segera di tepis dengan keras.


"Bukan muhrim, jangan menyentuh!" jawaban dingin Adhisti terdengar menantang Akasha dan membuat simpati pada laki-laki yang ada di samping dirinya.


"Oke ... oke .... Saya tidak akan menyentuh anda adik manis, bagaimana jika kamu menjadi ratuku satu-satunya." Penawaran yang terdengar sangat konyol.


'Jadi ratu, dasar kutu kupret dia ini. Terus kemudian dia menumpuk selir dimana-mana begitu? konyol, yang ada aku korban perasaan. Posisiku saja jadi korban perasaan dan pelampiasan, masa iya buka lebaran baru jatuh ke lubang yang sama. Ya kali aku mau, yang ada ogah.' Sambil mengomel dalam hati.


"Jangan SKSD Om, sok kenal sok dekat. Anda tidak saya kenal, main minta anak orang," ketusnya.


Adhisti berusaha secuek dan seketus mungkin pada orang lain, demi melindungi dirinya.


"Tapi bolehkan jadi teman abadi di hatimu?" tanyanya yang masih ngeyel.


'Ngeyel banget jadi orang, andai dia lebih muda dari aku sudah aku kekepin kepala dan tubuhnya dan aku masukkan ke jala nelayan biar sekalian di jual para nelayan, kesel banget ngadepin (menghadapi) orang yang kurang tata Krama.' Adhisti masih saja hobby mengomel dalam hati.


"Maaf tidak bisa Om!" Adhisti bangkit dari duduknya.


Tiba-tiba ada 2 orang body guard yang ia kenali sebab setiap hari ia melihat dan bertemu.


"Ayo, mbak Adhi pulang." Sambil menunjuk mobil yang sudah terbuka pintunya bagian belakang kemudi.


"Hey, kalian berdua siapa? kenapa kalian membawa Adhi calon pengantin masa depan saya?" Akasha berusaha menghentikan orang-orang tersebut.

__ADS_1


"Anda tidak ada kepentingan, saya harap anda paham. Permisi!" jawab salah satu body guard kemudian menutup pintu mobil segera setelah memastikan Adhisti sudah masuk ke dalam mobil.


Adhisti melipat tangannya di perut sambil menatap jalan raya, sedikit kesal akan sikap Endaru yang cepat sekali meleleh seperti lilin yang di bakar, setelah hasil tetesannya meleleh kebawah di manfaatkan lagi seperti daur ulang yang berputar di tempat yang sama.


"Mbak Adhi, kami berdua di suruh pak bos untuk mengantar mbak Adhi sampai ke rumah dengan selamat." Ucap Tejo sedangkan Baron fokus mengemudi.


"Iya, oh ya Tejo nanti saat kembali menyusul Aru saya mohon sampaikan pesan ini, minta kertas dan pulpennya," sambil mengulurkan tangannya.


Ucapan Adhisti yang memanggil bosnya dengan sebutan sepesial membuat senang di dalam hati mereka masing-masing, pasalnya baru kali ini pak bos menyuruh seorang wanita dengan sebutan nama spesial dari mendiang Ibunya.


Tejo membuka dasbor dan memberikan secarik kertas dan pulpen yang selalu ada di dalam mobil sebab Endaru setiap saat butuh mencatat ini dan itu.


"Ini, mbak Adhi." Memberikan pada Adhisti.



Adhisti menulis mulai dari A sampai selesai tanpa terkecuali.


A. Aku


B. Butuh


D. Dari


F. Fak/Pak


E. Endaru


G. Ganteng/tampan dan


H. Handsome,


I. Ingat


J. Jika


K. Kamu

__ADS_1


L. Lupa


M. Maka suatu saat


N. Nati


O. Oleh Yang Maha


P. Pencipta


Q. Qamu/kamu


R. Rasakan


S. Suatu


T. Takdir


U. Unfaedah (Tidak bermanfaat) dari


V. Vulus / uang dalam jangka


W. Waktu


X. X nya di isi sendiri


Y. Yang lama sampai akhir


Z. Zaman


Sekian rentetan dari surat pribadi Adhisti untuk Endaru.


Adhisti melipat surat tersebut dan memberikan pada Tejo untuk di sampaikan pada Endaru.


"Langsung berikan ke dia." Adhisti kembali cuek setelah menjilat amplop yang berisi permintaan sekaligus amarah terpendamnya melalui huruf A sampai Z.


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


Emak buat surat seperti itu di ketawain enggak ya.


Terimakasih jempol dan dukungannya yang selalu hadir.


__ADS_2