
Endaru langsung duduk dengan tenang dari pada di tertawakan Adhisti.
"Sudah selesai menertawakanku?" mendengus kesal, padahal dia yang mulai duluan tapi dia duluan juga yang marah, lucu sekali.
"Sudah Aru, bahkan kakiku saja sampai hilang rasa sakitnya!" tapi guratan senyum di wajahnya masih terlukis jelas.
Endaru melengos lagian apa lucunya sih menertawakan orang, seperti Ryan saja Adhisti ini kalau menertawakan orang. Sakitnya sampai tembus lapisan jantung.
"Benarkah? coba aku tekan." Tangannya hendak menyentuh tapi dengan cepat Adhisti elak tangan Endaru.
Plak
"Sakit kalau di tekan, apa kamu tidak lihat jika kakinya sudah benjol membiru," tunjuknya pada kaki kirinya.
"Tapi gak usah menampik keras tangan aku juga sayang." Mengusap-usap lengannya yang sakit.
Tidak ada bicara lagi setelah ini dan hanya ada keheningan di antara mereka berdua.
Krik
Krik
Krik
Sunyi dan hening, mereka dalam pikirannya masing-masing.
Tok
__ADS_1
Tok
Tok
Suara ketukan pintu mengagetkan Endaru dan Adhisti.
"Aku bukain." Endaru dengan sigap langsung berlari ke arah pintu sebab saat masuk tadi ia kunci.
"Hem," Adhisti membuka ponselnya dan mengetik beberapa tulisan di dalam sana, sebenarnya Endaru tidak melarang Adhisti menulis tapi apa boleh buat dirinya melarang Adhisti yang gampang ceroboh untuk berkerja di luaran sana, takutnya sang bos tempatnya berkerja tidak menyukainya dan menganggapnya karyawan yang merugikan perusahaan.
Sudah beberapa kali di ajak berkerja di tempat Endaru tapi ia menolak, tidak mau karyawan Endaru menganggapnya numpang cari popularitas di kantor, jadi serba salah jika punya pendamping seperti ini bingung harus berbuat apa padahal makan juga gak minta tetangga atau orang lain.
Melati membawakan makanan untuk Adhisti padahal Endaru sudah melarangnya namun tetap saja Melati membiarkan ocean Endaru yang melebihi sarang lebah.
"Oma ... bukannya sudah aku larang Oma membawa makanan sendiri, kan sudah ada Nita dan Tutik Oma yang mengerjakan ini. Lagian buat apa sih Oma seperti ini?" rasa hawatir pada Melati nampak jelas di wajahnya.
"Maaf ya Oma, tapi tolong Oma lihat baik-baik itu. Bukannya itu lift yang menghubungkan dari kamar ini sampai lantai paling bawah Oma." Memutar badan Melati sambil menunjukkan lift yang memang ada di rumah.
Melati tersenyum kecut.
"Sejak kapan ada lift, kamu pakai jasa jin ya membuat lift mendadak di rumah kamu ini. Kenapa Oma tidak tau di rumah ada lift?"
"Astaghfirullah Oma, su'udzon banget sama aku. Sekaya-kayanya aku tidak mungkin lah Oma aku pakai jasa begituan, namanya menyekutukan Allah Oma. Bukannya Oma sendiri yang mengajarkan aku untuk mencari rejeki yang halal dan baik!" wajah Endaru jadi pucat.
"Tuh, wajah kamu saja sudah menunjukkan jika kamu pakai jasa jin." Melati benar-benar mengintrogasi cucu dekilnya.
"Sumpah Oma, gak pakai jasa jin. Aku cuma pakai jasanya Ryan yang aku suruh buat senatural mungkin ko Oma," tangannya melambaikan jika dirinya benar dan tidak sedang berbohong pada Melati.
__ADS_1
"Sudah jika tidak mau mengaku, jangan harap bisa romantis-romantisan dengan Adhi malam ini. Malam ini Adhi hanya akan Oma temani dan kamu tidur di kamar tamu bagian samping." Ancaman yang begitu membuat Endaru tercekik lehernya.
"Tapi Oma ..., jangan merebut Adhi dari aku dong Oma. Dia kan istri aku Oma," memohon sambil bersimpuh.
Adhisti terkejut melihat Endaru bersimpuh di di bawah kaki Melati, benar-benar Oma Melati adalah orang yang paling penting dalam hidup Endaru sejak kecil sampai sekarang, dia begitu hormat pada orang tua yang membesarkannya. Tapi jika ia hormat pada Melati tapi kenapa tidak pada Malik yang jelas-jelas adalah Papa kandungnya, mungkin luka dalam hati tidak sembuh sampai-sampai Endaru memperlakukan Papanya dan Omanya berbeda 180 Drajat.
"Coba Oma pikirkan, jika Oma berubah pikiran nanti bakalan Oma kasih tau. Tapi demi menunjukkan rasa cintamu pada Adhisti coba deh kamu belanja keperluan kita berdua sekarang, ya ... kalau cinta pada istriku dan juga Oma sih ... Oma gak maksa." Melati memberikan daftar belanja, sebenarnya sedikit sekali hanya beberapa benda saja tapi kenapa rasa-rasanya benda yang hendak di beli aneh, tapi tak apa demi rasa cinta pada Adhisti dan juga Melati ia sanggup menerima tantangan ini, capek saat berkerja ia hiraukan demi bisa tidur bersama sang istri.
Setengah jam kemudian.
Endaru pulang tapi saat belanja tadi ia menepis rasa malunya yang bahkan tidak bisa di tutupi, ia membeli roti tipis untuk Adhisti dan juga popok dewasa untuk Omanya, tidak malu sih tapi banyaknya benda yang di beli ini loh yang membuatnya malu bahkan dua troli yang harus ia beli, apakah air kenc*ng dan dar*h saat datang bulan begitu banyak. Kenapa tidak sekalian beli pabrik pembuatan benda-benda tersebut sekalian di beli juga karyawan dan memuat pabrik yang lebih besar lagi biar orang-orang punya pekerjaan.
"Cepet banget belanjanya?" Melati menatap kantong kresek yang terlihat sedikit sekali, bukannya tadi di suruh beli yang banyak deh. "Ko sedikit?" Melati menatap kesana kemari.
"Di bawa Tejo, Oma. Sisanya!" jawabnya pasrah, padahal dalam hati jika mengingat kejadian tadi ia malu bukan main.
Benar saja Tejo membawa banyak barang, tau begini tadi Tejo dan yang lainnya ia sita buat sesekali si Dekil merasakan susahnya jadi bawahan yang di perintah tuannya seenak jidatnya.
Adhisti hanya tersenyum, setiap hari Endaru pasti menderita di buat oleh Oma Melati. Tapi suasana rumah jadi indah dan tidak terkesan sepi.
'Semoga ini terus terjadi dan tidak ada masalah kedepannya, aku sudah terlalu nyaman di dalam keluarga ini. Ya Allah tetap utuhkan lah hati suami hamba dan juga hati hamba juga ya Allah agar pernikahan ini sampai di Surgamu ya Allah.' Adhisti berdoa dalam hati.
Tapi senyumnya tidak pernah lepas dari wajah cantiknya yang manis.
*
Sedangkan di tempat lain Gerry sedikit menemukan titik terang jika gadis itu bernama Adhisti Rosa Septian istri dari Endaru Septian.
__ADS_1
"Septian, kenapa aku merasa tidak asing dengan nama ini. Bukannya Septian adalah nama yang sering Adinda sebutkan dalam mimpinya, tidak ... tidak ... pasti bukan orang yang sama. Pasti orang lain, lagian di kota sebesar ini nama Septian banyak kan tidak cuma satu saja nama yang sama." Gerry menepis jika Septian yang ia kira adalah mantan Adinda yang dulu ia tinggalkan saat akan akad nikah terjadi.