Istri Yang Disimpan

Istri Yang Disimpan
56. Terpaksa pergi


__ADS_3

...SELAMAT MEMBACA...


Adhisti menatap bangunan megah bergaya Spanyol itu dengan tatapan rasa tidak percaya, semudah ini ia pergi. Dulu ia masuk dengan mudah lantaran sang mantan menjualnya pada pemilik rumah ini yang mengikatnya dalam pernikahan siri, namun hari ini pernikahan itu sudah usai dan tidak ada kata kita yang tersemat lagi.


"Semoga kamu bahagia Aru, melepaskan aku dari dekapanmu jangan menyesal nantinya. Ajarkan aku membenci dan melupakan rasa cinta ini Aru. Padahal kemarin kamu bicara melindungi istrimu, tapi apa yang aku dapatkan hari ini." Adhisti beranjak pergi dan segera masuk ke dalam taxi yang kebetulan lewat di depan rumah.


Endaru menatap kepergian Adhisti dari balik jendela yang tertutup gorden putih.


Saat berada di dalam taxi ia tidak mendengar lagu yang menggambarkan kesedihan hatinya yang mendalam, lagu lama tahun 90an terus saja terngiang-ngiang dalam hati dan juga pikirannya.


Penggalan lagu Exists, Mengintai Dari Tirai Kamar.


Siapalah aku ini


Untuk meminta buih


Yang memutih


Menjadi permaidani


Seperti mana yang tertulis dalam novel cinta


Juga mustahil bagiku


Mengapai bintang dilangit


Menjadikan hantaran


Syarat untuk milikimu


Semua itu sungguh aku tak termampu

__ADS_1


Silap aku juga


Karna jatuh cinta


Insan sepertimu


Seanggun bidadari


Seharusnya aku


Cerminkan diriku


Sebelum tirai kamar


Aku buka untuk mengintaimu


'Kenapa lagunya pas banget sih, nyesekkan jadinya.'


"Pak, apa masih jauh sampai ke tempat itu?" tanyanya sambil menunjuk secarik kertas yang di berikan oleh Akasha beberapa minggu yang lalu.


"Sebentar lagi sampai mbak!" jawab sang sopir dengan tersenyum.


Benar, Adhisti menyimpan kartu nama Akasha waktu ia bertemu tanpa sengaja di mall waktu itu saat keluar bersama Nita, jika dirinya butuh bantuan bisa datang ke alamat yang tertera di kartu nama. Padahal ia belum kenal dengannya tapi apa bedanya Akasha dengan Endaru, sama-sama orang berada dan terpandang.


Jadi jatuh ke jurang yang sama tidak masalahkan, tapi jika nanti di tolak ya sudah cari tempat lain yang lebih baik. Sebenarnya ia terpaksa lantaran ini sudah malam dan tidak mungkin ia bisa mencairkan uang yang berada di ceknya itu.


"Nol rupiah lagi, kalau lapar makan apa dong?" tanyanya pada diri sendiri sambil menggigit bibir bawahnya.


Seorang satpam kediaman ini yang sepertinya rumah milik Akasha.


"Maaf, Nona cari siapa?" tanya seorang satpam bernama Dodi dengan ramah tamah.

__ADS_1


"Saya cari Tuan Akasha, apa beliau ada di rumah dan apa benar ini rumah beliau?" balik bertanya.


"Iya benar ini rumahnya, tapi sebelumnya Nona ini siap. Apa orang bayaran dari Bapak Akasha." Penuturan satpam itu membuat terkejut Adhisti.


Ternyata di dunia ini banyak sekali orang yang seperti ini, dengan uang bisa menaklukkan manusia di belahan dunia mana pun yang ia mau dan sukai.


Tin


Tin


Tin


Suara klakson dari luar gerbang terdengar nyaring berkali-kali di tekan, satpam yang tadinya menanyai Adhisti langsung berlari dan membuka gerbang besar tersebut.


Akasha tanpa sengaja menatap sorotan lampu yang mengenai tubuh Adhisti, ia tersenyum gembira. Bahan wanita yang ada di sampingnya sudah tidak menarik lagi untuk di sentuh malam ini.


"Dia siapa?" tanya wanita yang bergelayut manja di dada bidang Akasha.


"Dia? tidak seperti kamu tentunya!" Akasha menyingkirkan tangan wanita itu dengan sekali tepis saja. "Ini uang sebagai gantinya, pergi." Perintah Akasha dengan keras.


"Nah, gini dong dari tadi. Call me baby jika ada perlu yang lebih panas lagi dari wanita itu," sambil tersenyum menerima cek.


Akasha melebarkan kedua tangannya berharap Adhisti seperti wanita lain yang senang hati menyambut kedatangannya. Eh, kenapa hal ini justru tidak berefek pada Adhisti.


"Apa kamu baru datang adik kecil?"


"Mentang-mentang tinggi sekali bicara seenak jidat, ngatain adik kecil ke saya!" omel Adhisti.


"Lagian, badan sekecil ini pantas di bilang adik kecil. Ayo masuk." Hendak merangkul pundak Adhisti namun sorot mata Adhisti yang tajam membuat Akasha begidik ngeri menatapnya.


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2