
...SELAMAT MEMBACA...
"Di ungkapin sana jika suka, entar dia pergi Lo kecewa dan nyuruh-nyuruh gue mencari dia. Ogah gue Lo rugi in lagi." Ryan seperti Emak-Emak yang mengomel saja.
"Berisik tau gak, bukannya bantuin cari solusi malah bikin orang down dan sedih doang," Endaru mendengus kesal.
"Ciye ... ciye yang sedang kasmaran, nanti jika jadian jangan lupa PJ nya ya." Sambil mengangkat kedua alisnya bergantian naik turun.
"Terserah Lo mau bilang apa," Endaru menyalakan korek lalu membakar ujung rokok dan mulai menghisap bagian gabus rokok tersebut.
Suara Endaru menghembuskan asap rokok terdengar berat, ia beberapa kali menghisap tanpa menikmati rasa dari rokok dan cepat sekali habisnya batang rokok padahal baru saja ia menyalakan ujung batang rokok.
"Jangan terlalu memaksakan diri Endaru, jaga kesehatan Lo baik-baik. Apa Lo mau istrimu jadi janda muda." Ryan pandai bercanda.
"Sialan Lo," Endaru langsung melempar bungkus rokok ke wajah Ryan.
"Gue pulang dulu Endaru, Mega lagi ngidam aneh-aneh sekarang." Pamitnya berlalu pergi.
Endaru mengiyakan saja, padahal tadi niatnya ingin menyuruh Ryan mencari informasi tentang orang yang bernama Adinda, sepertinya Ryan tidak bisa terpaksa ia bergerak sendirian saja tapi mulai dari mana selain pak tua itu.
"Sudahlah, dari pada pusing dan konflik berkepanjangan. Selagi Pak tua itu tidak mengusik kediamanku, berati aman." Endaru beranjak pergi menuju kasir langsung dan membayar pesanan yang ada di mejanya.
Endaru membuka ponselnya.
Ada pesan masuk dari nomor tidak ia kenal dan mengirimkan berbagai macam pesan singkat.
π¬ Endaru
π¬ Kamu dimana
π¬ Kenapa, saat aku pingsan kamu tidak menolongku
__ADS_1
π¬ Kamu gak kasihan sama aku
π¬ Endaru, please jawab pertanyaan aku
π¬ Maaf aku waktu itu minta nomor kamu ke Mega, untuk menghubungi kamu
π¬ Tapi ... setelah baca pesan ini please jawab aku Endaru
π¬ Aku sayang dan ingin dekat dengan kamu lagi Endaru
π¬ Aku mohonπ₯Ίπ₯Ί
Tisha melihat pesan singkatnya dari centang 2 sekarang sudah berubah warna biru yang artinya pesan singkatnya terbaca, Tisha tidak ada henti-hentinya mengembangkan senyum di bibirnya.
π¬ Jangan hubungi aku lagi.
Usai membalas pesan dari Tisha, Endaru langsung mengeblok nomor Tisha dan enggan membukanya kembali. Ini adalah tindakan yang harus ia ambil dan berani, dari pada pernikahannya hancur dalam sekejap gara-gara kecerobohan dirinya.
Saat di dalam mobil.
Ia teringat tadi ia memberikan kartu debit pada body guard nya apa sudah di berikan, coba ia tanya pada Nita.
"Nita, apa Adhi sudah menerima kartu debit yang saya berikan lewat Tejo?" Endaru fokus mengemudi.
"Sudah Pak bos, tapi ...!" Nita tidak melanjutkan bicaranya sebab Adhisti sudah memelototkan matanya bahkan tangannya sudah membentuk pisau di leher.
Gluk.
Nita bingung harus jujur atau tidak, jika di pecat dadakan bagaimana. Hancur sudah masa depan indahnya yang ia impi-impikan selama ini.
"Em ... mbak Adhi ingin bicara langsung dengan anda Pak bos, tapi mbak Adhi maunya tidak lewat telpon," lanjutan dari bicaranya barusan.
__ADS_1
"Iya." Endaru mematikan saluran telponnya.
Nita bernafas lega sekali.
Sekitar 15 menit Endaru sudah sampai di rumah.
Tak
Tak
Tak
"Aru." Adhisti menatap suara langkah kaki yang kian mendekati dirinya.
Endaru duduk dengan sangat elegan dan berwibawa.
"Mau bicara apa?" Endaru bertanya pada intinya langsung sambil menyilangkan kakinya.
"Em, ini aku kembalikan!" jawabnya memberikan kartu debit.
Endaru tersenyum. "Apa ini cara kamu membalas budi tanpa menggunakan uang di dalamnya, apa kamu tau banyak wanita di luaran sana ingin di posisi kamu. Tapi kenapa kamu menolah pemberian uangku ini, apa karena uangnya sedikit di mata kamu?"
Adhisti menggelengkan kepala.
"Anda salah tuan, saya tidak butuh uang anda. Permisi!" Adhisti langsung pergi begitu saja.
Endaru langsung melempar vas bunga yang ada di samping duduknya.
...BERSAMBUNG...
...Emak up nya telat terus, Emak harap teman-teman stay membaca ya. Terimakasih banyak dukungannya....
__ADS_1