Istri Yang Disimpan

Istri Yang Disimpan
21. Hanya status simpanan


__ADS_3

...SELAMAT MEMBACA...


"Adhi." Panggilnya terdengar lembut.


Adhisti menatap Endaru.


"Iya, ada apa tuan?" Adhisti memperbaiki duduknya sambil menutupi dadanya dengan selimut.


"Bagaimana jika kamu kuliah Adhi, mau tidak?" penawaran yang di berikan Endaru memang sangat menggiurkan namun ia tidak mau gegabah saat mengambil keputusan penting seperti ini.


Rasa bimbang dan galau menyelimuti dirinya, antara kuliah atau mengurus rumah. Bukannya sama saja jika jadi seorang wanita sekolah tinggi pasti ujung-ujungnya di dapur dan mengurus seorang anak jika sudah menikah.


"Kenapa melamun, jangan pikir kamu mau jadi ibu rumah tangga tanpa punya prestasi sedikit pun." Tebakan Endaru mencekal leher Adhisti.


"Bagaimana bisa tuan tau tentang apa yang saya pikirkan?" menghela nafas panjang.


Endaru menyentil dahi Adhisti.


"Dasar pemikiran sempit, bukannya tadi kamu bilang kita seperti jungkat jungkit. Jadi ... dari pada kita seperti itu, kenapa kita tidak menyetarakan status saja biar pas!" saran Endaru tidak langsung di telan mentah-mentah olehnya.


"Em ... jika saya kuliah, ambil jurusan apa?" Adhisti ragu-ragu bertanya.

__ADS_1


"Terserah, yang penting kamu suka dan happy dengan mata kuliah yang kamu masuki. Buat apa kuliah karena terpaksa, oh ... ya kemarin kamu melukis kenapa tidak masuk ke jurusan Desain saja!" jawaban Endaru membuat Adhisti bertanya-tanya, darimana ia tau jika kemarin dirinya melukis.


"Darimana tuan tau jika saya melukis kemarin, tuan memata-matai saya." Adhisti tidak suka jika barang pribadinya di usik meski itu Endaru yang mengetahuinya.


Puk


"Heh ... wanita, apa kamu lupa jika kamu tinggal di rumah saya?" menepuk dahi Adhisti.


"E ... he ... he ... iya saya lupa jika saya hanya simpanan tuan!" jawaban Adhisti mengingatkan pada dirinya sendiri yang hanya status simpanan yang masih buram dan ia sadar diri.


"Terus, mau atau tidak. Jika tidak saya cari yang lain yang mau saya biayai kuliah dan kehidupannya." Endaru niatnya mengiming-ngimingi Adhisti supaya tertarik namun....


Jawaban Adhisti.


"HEY ... WANITA MUNGIL KENAPA MARAH?" Teriakan Endaru dianggap angin lalu oleh Adhisti.


Adhisti masuk ke dalam kamar mandi, terus terang ia memang tidak bisa menahan pesona Endaru Septian. Semakin ia menyangkal pesona Endaru, semakin besar pula rasa yang tumbuh di dalam hatinya.


Tes


"Untuk apa menangis dan berharap, seharusnya aku tau diri kita tidak sama. Pasti suatu hari nanti dia akan menikah dengan wanita lain dan itu bukan aku wanitanya, lagian orang tuanya apa setuju dengan wanita yang asal usulnya buruk sepertiku ini?" gumam lirih Adhisti lalu ia mencuci wajahnya dan membenarkan pakaiannya.

__ADS_1


Setelah keluar dari kamar mandi.


"Tuan, apa saya pulang dengan taxi atau apa?" Adhisti berbicara di dekat Endaru yang sudah menghisap rokoknya.


"Dengan taxi saja, sudah saya pesankan!" jawab Endaru dingin.


"Oh ...." Ada rasa kecewa di dalam hatinya, ia pikir Endaru akan mengantarnya pulang tapi tidak.


Adhisti menganggukkan kepala dan berpamitan pulang lebih dulu.




Saat berada di dalam taxi.


Adhisti menatap jalanan dengan pandangan kosong, pikirannya melayang kemana-mana. Keputusan apa yang harus ia lakukan kedepannya, saat berada di jalan ia melihat Andy dengan wanita sangat mesra dan penuh cinta.


'Heh ... kenapa masih ada makhluk hidup seperti itu, demi keuntungan bajinga* itu tega berhianat. Sepertinya dia korban selanjutnya, tapi benar tidaknya aku juga tidak tau.'


Andy yang tidak sengaja melihat Adhisti yang menurunkan jendela kaca mobil menatap tidak suka saat Adhisti berhenti di lampu merah, Andy hendak menghampiri namun ternyata lampu segera berubah hijau dan taxi yang di tumpangi Adhisti melaju pergi meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


...Terimakasih pembaca setia karya Emak....


__ADS_2