Istri Yang Disimpan

Istri Yang Disimpan
45. Keputusan Endaru


__ADS_3

...SELAMAT MEMBACA...


Nita melanjutkan perjalanannya menuruni anak tangga rumah majikannya.


Adhisti berjalan mendekati aquarium yang berisikan ikan kecil, ia sedikit menaburkan makanan ikan yang berada di bawah meja khusus ikan hias.


"Imutnya." Adhisti gemas sekali dengan ikan kecil yang gembul perutnya.


"Rasanya aku tidak sanggup jika harus pergi dari rumah ini, hanya rumah ini yang membuat aku nyaman dan menghargai aku dengan tulus sekali. Aku ingin selalu berada di rumah ini meski kebebasanku di renggut, aku tidak merasa kesepian lagi semenjak kepergian kedua orang tua aku." Adhisti menatap ikan-ikan dan seolah-olah ikan itu bisa mengerti bahasa manusia.


Di kantor.


Endaru dan Ryan bertemu dengan kolega bisnis perusahaan ini, banyak yang terlibat saat rapat berlangsung tanpa terkecuali hanya orang-orang yang berada di kedudukannya masing-masing.


Usai rapat yang menguras waktu, Endaru menyalami kolega bisnisnya dengan ramah tamah.


"Terimakasih atas kerja samanya Pak Akasha." Endaru menjabat tangan rekan bisnisnya dengan penuh suka cita.


"Sama-sama Pak Endaru, saya juga senang bisa berkerja sama dengan perusahaan ini. Kalau begitu saya pamit dulu," sambil tersenyum ramah juga.


Mereka berdua berpisah di lift.

__ADS_1


Endaru dan Ryan langsung menuju ruangannya masing-masing, Endaru berada di dalam ruangan sedangkan Ryan di luar ruangan. Memang sengaja seperti ini, supaya tidak terjadi fitnah sebab orang-orang taunya Endaru jomblo dan singel sampai detik ini.


"Endaru, kamu yakin dengan keputusan kamu ini?" tidak ada angin tidak ada hujan Endaru memutuskan operasi vasektomi.


"Iya, aku ragu jika hubungan ini terus berlanjut Ryan. Kamu tau sendiri kan pengalaman hidup aku seperti apa, kehilangan Mama dan adik aku yang belum lahir. Aku tidak mau sampai kehilangan orang yang aku sayangi gara-gara aku, andai aku tidak ada pasti Mama masih hidup sampai sekarang. Aku penyebab Papa selingkuh dan Mama meninggal, kamu sudah tau kan waktu itu kita masih kelas 1 SMP!" perasaan Endaru kacau balau.


"Tapi, itu bukan salah kamu Endaru. Bukannya aku menyalahkan Papa kamu, tapi memang Papa kamu penyebabnya bukan kamu Endaru." Masih mendukung dan menguatkan Endaru.


Endaru mengangguk.


"Kapan operasinya, kalau bisa hari ini. Prosedurnya apa saja sebelum operasi, kasih tau aku sekarang." Endaru mulai menormalkan kembali Emosinya.


"Ini," memberikan langsung pada Endaru.


"Endaru, yakin nih gak mau gendong anak dulu baru operasi itu?" sambil memperagakan tangannya menggendong bayi.


Endaru mengangguk yakin sekali.


"Kamu belum pernah punya anak loh, masa iya operasi itu." Sambungnya dengan menunjuk benda ajaib Endaru.


"Ayo berangkat sore ini," Endaru memperbaiki jasnya.

__ADS_1


Ryan pasrah saja, ia mengirim pesan pada istrinya untuk tidak minta macam-macam sebab menemani Endaru dengan bilang jika ada pertemuan klien di Luar Negri sore ini. Padahal dalam kenyataannya Endaru berpesan tidak ada yang boleh tau kecuali dirinya dan tim Dokter.


Beberapa hari kemudian.


Adhisti menatap Endaru dari kejauhan, apa Endaru salah minum obat ya. Kenapa Endaru berbeda beberapa hari ini, nafsuan iya tapi anehnya cuek dan dinginnya juga iya. Ada apa sih? pertanyaan mengelilingi otak kecil Adhisti.


"Aru, ini kopinya." Sambil tersenyum manis.


"Terimakasih sayang," berucap tanpa sadar.


Adhisti membulatkan matanya.


"Sayang?" sambil mengedipkan matanya berkali-kali. "Kamu sehat Aru, berucap seperti itu?" sambil mengecek dahi Endaru.


"Berucap apaan!" sambil menepis tangan Adhisti.


"Sayang, barusan?" memperjelas pertanyaannya.


"Kamu salah dengar Adhi, lagian jika aku bilang seperti itu untuk latihan saja pada istriku nanti!" Endaru menikmati kopi yang terasa enak dan manis itu.


Adhisti tertunduk, ia berjalan menjauhi Endaru.

__ADS_1


'Sakit sekali ya mencintai orang yang tidak mencintai kita, aku yang terlalu kepedean di buat baper olehnya.' Batin Adhisti meronta-ronta.


...BERSAMBUNG....


__ADS_2