Istri Yang Disimpan

Istri Yang Disimpan
92. Tak sengaja bertemu


__ADS_3

Endaru segera minum air putih banyak-banyak sebab masakan Oma sangat asin, sedangkan punya Adhisti enak tapi dagingnya alot seperti gak di masak saja, bayangkan betapa mengerikan masakan-masakan ini.


Adhisti langsung menatap suaminya begitu juga Melati yang hawatir bukan main saat Endaru terbatuk-batuk sambil memegang dadanya.


"Dekil, kamu baik-baik saja? jangan membuat Oma hawatir Dekil." Melati merasa bersalah pasti masakannya tidak enak sampai-sampai Endaru begini, ia mulai mencicipi masakannya sediri ia langsung menjulurkan lidah sebab terasa sangat asin masakannya sendiri.


"Asin." Melati meminum air mineral yang ada di dekatnya.


Endaru yang melihat ekspresi Omanya ingin tertawa tapi tidak jadi dari pada kakinya kena pukul tongkatnya, lebih baik diam dan dipendam saja tawanya. Adhisti juga ingin tertawa ia sampai memalingkan wajahnya sambil tersenyum-senyum menahan tawa. Melati mendekati Endaru lagi.


"Maafkan Oma ya Dekil, lain kali biar Tutik saja yang masak dan Oma janji tidak akan menantang Adhisti saat memasak supaya makanannya tidak gagal seperti ini." Melati menanti jawaban Endaru.


"Tidak apa-apa Oma," lemah lembut tutur katanya.


"Oma keluar dulu ya, lapar perut Oma." Segera bergegas menggunakan tongkatnya dan berjalan cepat sekali, sebenarnya tidak terlalu butuh tongkat tapi dari pada Endaru hawatir lebih baik iya iya saja.


"Iya Oma, hati-hati jalannya," melambaikan tangannya.


Adhisti hanya melihat saja, lalu ia menatap suaminya dirinya juga merasa bersalah.


"Aru, maaf ya ayamnya jadi alot." Meremas jari jemarinya.


"Tidak apa-apa, tapi masih ada yang lain yang bisa di makan ko," cengegesan sambil melanjutkan makannya, benar-benar makanan sederhana yang selalu ia rindukan dan jadi favorit sedari dulu.

__ADS_1


"Aku suapi mau?"


Endaru mengangguk, ia memang rindu dengan sentuhan tangannya yang lembut dan penuh dengan kasih sayang.


Sarapan pagi serasa indah dan penuh bunga, sebelum terapi ia mempersiapkan dirinya dengan baik, baik mental dan perutnya juga yang harus sudah terisi penuh.


Endaru sedang di tetapi oleh Dokter paruh baya, ia semangat untuk belajar berjalan juga selain memperhatikan pola makannya, tidak banyak ia belajar namun cukup untuk pertama kalinya tetapi di rumah, setelah ini ia akan meminta istrinya yang mendampingi secara langsung di rumah.


Adhisti melihat dari kejauhan, seperti apa perkembangan suaminya hari ini? apakah ad kemajuan atau justru sebaliknya.


"Ternyata suamiku begitu giat dan semangat untuk terapi hari ini, semoga cepat sembuh Aru." Gumam lirih Adhisti.


Beberapa bulan kemudian.


"Ryan Lo dimana?" tanya Endaru yang sedang menikmati secangkir cappucino nya.


"Mau lahiran, gue kesana sama Adhi ya." Endaru mematikan ponselnya.


Adhisti yang kebetulan baru datang langsung menatap suaminya heran.


"Mau kemana Aru, kenapa terburu-buru. Mau aku bantu ambilkan apa? awas jangan di berantakan bajunya kalau ambil pelan-pelan." Ia berjalan mendekati ruang ganti pakaian.


Adhisti bawel jika urusan pakaian yang selalu di acak-acak oleh Endaru, ya kalau di tanya capek? ya jawabannya capek lah. Setiap hari seperti ini pekerjaan Aru kalau cari baju sendiri, satu ruangan ia buat berantakan dan berceceran kemana-mana baik sepatu, tas, dasi dll.

__ADS_1


"Ke Rumah Sakit sayang, ayo kesana. Mega lahiran hari ini," benar saja ternyata Endaru hampir merobohkan satu lemari berisi celana dan sabuknya.


"Awas." Menahan lemari namun belum juga sampa ternyata isinya sudah bertabur dan mengenai tubuhnya.


Endaru panik saat tubuh istrinya terkena celana dan juga sabuk yang begitu banyak, ia membantu menyingkirkannya belum juga semua tersingkir dari badan Adhisti, punggung tangan sebelah kiri terkena gigi sabuk dan mengeluarkan banyak darah.


"Sakit Aru, pelan-pelan." Adhisti meringis kesakitan.


Endaru membantu Adhisti mengobati lukanya, banyak darah yang keluar tapi Endaru tidak merasakan pusing atau mual saat melihat dan mencium baunya.


"Iya, ini sudah pelan-pelan," sambil mengoles dan meniup tangannya.


Setelah mengobati luka Adhisti, mereka berdua pergi ke Rumah Sakit. Sesampainya di sana ia melihat seorang Dokter dan juga pasien yang tengah duduk di salah satu taman, wajah wanita itu. Adhisti hendak menyapa namun tidak jadi, karena ia tidak kenal mungkin hanya mengangguk sebagai ia hormat pada orang tua yang bertemu saat di jalan.


"Permisi." Adhisti tersenyum.


Wajah wanita ini pucat namun masih cantik dan memiliki kulit yang putih. Dokter itu menggenggam erat tangan istrinya, dan terus-menerus mengingatkan sang istri untuk mau makan dan minum obatnya.


'Gadis ini, kenapa mirip denganku saat aku muda. Apa jangan-jangan ia putriku yang hilang itu, tidak ... tidak ... pasti dia bukan putriku. Putriku sudah hilang sejak kecil dan baru lahir mana mungkin dia, lagian jika dia sudah besar pasti wajahnya berbeda denganku.' Adinda membantin saja.


Semenjak sakit dan tidak dapat berbicara membuat Adinda tambah terpuruk, di tambah lagi sampai sekarang ia tidak tau keberadaan putrinya meski ia memiliki putra setelah putri kecilnya menghilang.


"Adinda, ayo kembali ke kamar. Sudah waktunya minum obat, bukannya besok kamu ingin segera pulang." Ucap Gerry pada Adinda istrinya.

__ADS_1


Adinda mengangguk, lagian dia juga baru tiba 3 di Rumah Sakit ini. Ia meminta sang suami untuk membawanya kembali ke kota ini, ia rindu dengan kenangan masa lalu dimana ia di besarkan dan memiliki kenangan cinta yang luar biasa namun ia memilih pergi saat tau sahabatnya Lidia diam-diam ada rasa pada Malik calon suaminya, sebagai sahabat yang pernah menyelamatkan hidupnya selama ini dan rela berbagi makan dan juga tempat tinggal. Adinda mengusap air matanya, terakhir kali ia tau berita jika Lidia meninggal dunia karena kecelakaan tapi ia tidak datang sebab ia tidak sanggup harus bertemu dengan Malik.


Sedangkan Endaru dan Adhisti menelusuri koridor rumah sakit dan menuju tempat Mega sedang di rawat sekarang setelah melahirkan anaknya yang dengan terpaksa harus operasi, selain itu jalan lahir tertutup oleh ari-ari bayi.


__ADS_2