
...SELAMAT MEMBACA...
Akasha langsung menyuruh beberapa pembantu di rumah untuk menyiapkan makan malam spesial untuk tamu yang cantik.
'Haduh, salah masuk rumah ini. Kenapa aku masuk ke dalam rumah seperti penjara lagi, bukannya sama dengan bunuh diri lagi. Pasti kedepannya akan di larang keluar seperti Endaru waktu itu.' Adhisti menatap malas setiap pelayan yang memiliki pekerjaan di bidangnya masing-masing.
Saat makan malam.
"Kenapa diam? ayo di makan. Saya jamin kamu suka dengan makanan di rumah ini." Memberikan sendok bersih pada Adhisti.
Adhisti menatap dan tidak mengambil sendok yang di berikan oleh Akasha.
"Apa semua makanan ini Halal?" pertanyaan Adhisti langsung di sambut tawa oleh Akasha.
"Aa ... ha ... ha ..., kamu pikir saya hobi makan makanan terlarang apa. Meski sering minum-minuman beralkohol sampai tidak sadar, tapi jika tentang makanan saya tetap pilih menu yang sehat dan tentunya Halal untuk kamu makan!" Akasha tersenyum-senyum.
Semua pelayan yang ada di rumahnya ikut tersenyum mendengar celoteh bosnya bersama wanita ini.
"Siapa tau minyak yang digunakan ada bahan terlarangnya sampai makanan bisa lezat saat dinikmati. Atau bahan yang lain yang kamu tidak tau, Om." Masih tidak percaya pada Akasha.
Semua menahan tawa saat Adhisti memanggil bos muda dan tampannya ini dengan sebutan Om padahal Akasha berbeda dan golongan orang terglowing di kota ini.
__ADS_1
Prok
Prok
Akasha mengisyaratkan untuk membawakan semua bumbu yang ada di dapur, apakah ada bumbu dan bahan masakan yang non halal. Sesampainya semua Adhisti terkejut, ternyata benar apa adanya jika semua yang ada itu boleh di konsumsi bahkan bisa di pastikan bahan dan bumbu berkualitas terbaik.
"Sudah selesai kan melihatnya, sudah tidak ragukan jika semua makanan di tempat ini aman dan Halal untuk di konsumsi?"
Adhisti menganggukkan kepalanya.
"Cepat dimakan itu, saya sudah kenyang. Setelah makan malam pergilah ke kamar tamu, biar Nana mengantarmu adik kecil." Akasha masuk ke dalam lift dan pergi menuju ruang pribadinya.
'Nyesek banget hidupku, makanan ini harga berapa ya? jangan bilang sampai puluhan bahkan ratusan juta. Jiwa kemiskinanku meronta-ronta.'
Usai makan malam Adhisti langsung di hantarkan ke kamar tamu.
Di rumah Endaru Septian.
Endaru menatap setiap sudut tempat dimana dirinya dan juga Adhisti menghabiskan malam-malam yang panjang sekali, bahkan sampai Adhisti selalu mengeluh paha dan pinggangnya sakit jika bermain seluncuran terlalu lama.
"Semoga kamu tidak membenciku Adhi, aku ingin bersama kamu dengan cara yang baik dan benar. Bukan karena aku membeli mu tapi tulus karena aku mencintaimu."
__ADS_1
Endaru tersenyum jika ia ingat saat Adhisti memanyunkan bibirnya di tambah ia selalu terkena musibah selain vas bunga dan juga cangkir kopi.
Tring
Endaru menatap ada 1 email yang masuk dari Akasha sepertinya penting, Endaru membuka file tersebut dan apa isinya. Matanya melebar saat ia tau jika itu foto Adhisti yang tengah malam bersama dirinya di satu meja makan.
Brag
Endaru emosi, tau begini jadinya tidak akan melepas Adhisti. Endaru tidak rela jika Adhisti jatuh di tangan seorang casanova seperti Akasha.
"Tidak bisa, aku harus kesana menemui Adhi. Aku tidak mau ia jatuh ke tangan Casanova seperti Akasa itu." Hendak mengambil kunci mobil namun ia urungkan.
"Kenapa aku jadi ragu, apa Adhi akan memilihku jika aku kesana? seharusnya dia tidak suka dan membenciku sekarang, jadi biarkan dulu saja di di sana. Besok barulah aku temui dia." Endaru mengembalikan kunci mobil yang baru ia pegang dan meletakkannya di atas meja kerjanya.
Keesokan harinya.
Ryan malas melayani satu orang ini, kenapa ada manusia seperti Endaru. Tadi saat menjemputnya Endaru banyak cerita di mulai dari ia frustasi sebab kantor berantakan di tambah ia sudah membebaskan Adhisti dari belenggu nya, tapi ia hawatir saat tau Adhisti menemui Akasha.
...BERSAMBUNG...
Haduh mas ... mas ... kenapa setelah kamu suruh pergi baru di cariin, jangan labil ya. Banyak pembaca yang kecewa loh ini dengan sikap kekanak-kanakan kamu mas Aru.
__ADS_1