Istri Yang Disimpan

Istri Yang Disimpan
99. Detik-detik bertemu


__ADS_3

"Aru, jangan mengabaikan aku." Masih berusaha untuk meluluhkan hati Endaru, tapi kali ini tidak berhasil sama sekali justru zonk yang di dapat.


"Aku ngambek sama kamu, jangan coba-coba merayuku. Gak mempan," marah tapi minta di perhatikan, lucu-lucu menggemaskan.


Adhisti berinisiatif memeluk erat tubuh Endaru, sebagai laki-laki sejati di sodorkan tubuh seperti ini jiwa laki-lakinya mendadak bangkit. Tapi karena ia masih kesal, ia mengabaikan sang istri. Dengan cepat ia melepas pelukan Adhisti dan langsung menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya.


Adhisti hanya meratapi sang suami yang sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar mandi.


"Memang aku yang salah, sepantasnya aku dapat ini. Seharusnya aku dapat yang lebih buruk lagi." Adhisti mengemasi pakaian yang berceceran dimana-mana.


Ia segera memakai bajunya dan menyiapkan pakaian untuk Endaru dan juga dirinya, sekitar 15 menit Endaru baru selesai mandi.


"Aru, sudah aku siapkan piama kamu." Adhisti memberikan piama tersebut dengan senyum tulusnya.


Endaru sedikit menghangat hatinya saat di perlakukan seperti raja oleh istrinya.


Adhisti senang piama tidur yang ia berikan pada Endaru di terima dengan baik meski tidak ada senyum yang merekah indah di wajahnya, tapi tidak apa-apa setidaknya ia tidak menolak kehadiran dirinya.


"Terimakasih, sayang," berlalu begitu saja dan masuk ke dalam ruang ganti.


Adhisti menatap kepergian suaminya, sikap dingin dan cuek yang Endaru tunjukkan menunjukkan yang sesungguhnya diri Endaru jika suatu saat nanti ada apa-apa ia harus siap siaga.


"Semoga pernikahan ini selalu baik-baik saja, maafkan aku Aru yang membuat kamu kecewa lagi dan lagi." Gumam lirih Adhisti lalu ia masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan dirinya.


Pagi hari.


Gerry dan Adinda datang ke rumah Septian atau rumah Endaru, ia tau alamat rumah ini dari kantor.


"Rumahnya pasti yang ini. Ma ... Papa keluar sebentar dan tanya pada satpam dulu ya." Mengusap pipi istrinya.

__ADS_1


Adinda mengangguk dan tersenyum pada suaminya, ia yakin sebentar lagi akan tau kebenarannya tentang gadis itu. Adinda yakin jika Adhisti adalah putri sulungnya yang hilang itu, semoga tidak terjadi kesalah pahaman pada Adhisti dan juga suaminya takut jika masa lalu berimbas pada Adhisti yang secara ia tidak tau apa-apa.


Gerry dan satpam rumah Endaru sedang berbincang-bincang ringan tapi sang satpam tidak bisa mengizinkan masuk sebelum bosnya mengizinkan masuk.


"Bagaimana, apa boleh saya dan istri saya masuk?" Gerry memastikan.


Satpam berbicara lagi. Pada akhirnya di izinkan masuk.


"Boleh masuk pak!" satpam segera membuka gerbang lalu segera menutup usai mobil tersebut masuk ke dalam halaman.


Adinda merasakan panas dingin, apakah dirinya di terima di tempat ini di tambah lagi ternyata suami Adhisti adalah anak sahabatnya yang ia suruh menggantikan dirinya menikah dulu.


Sesampainya di depan rumah tersebut, Gerry dengan sigap mengeluarkan kursi roda meski Adinda sudah bisa berjalan dan sedikit bisa bicara namun karena ia takut terjadi apa-apa pada istrinya maka dari itu ia menyuruh sang istri untuk tetap duduk di atas kursi roda.


"Pa ...." Mendongak dan menatap wajah suaminya.


Gerry mengerenyitkan dahinya saat mendengar sang istri berbicara dengan sangat gugup sekali.


"Takut Pa!" meremas jari jemarinya.


Adhisti sedang menyiapkan pakaian kerja untuk suaminya dan Endaru masih membersihkan dirinya lalu ia keluar setelah selesai, terlihat ia begitu tampan dan mempesona setelah mandi apalagi jika ....


Adhisti sedang membayangkan yang bukan-bukan padahal baru tadi malam ia menikmati buaian dari suaminya tapi pagi ini saat melihat sang suami demi kian hasratnya jadi terpancing, sebagai wanita normal ya bisa jadi tapi ini di khususkan pada suami yang ia cintai bukan milik orang lain.


"Kenapa menatapku seperti itu, mau ini?" tanyanya yang langsung membuka jubah handuknya dan terpampang nyata.


Wajah Adhisti merona, sesaat kemudian sebelum ada ketukan pintu yang mengganggunya.


Tok

__ADS_1


Tok


Tok


"Ada yang mengetuk, cepat ganti baju Aru." Adhisti segera berlari secepat mungkin.


Endaru hanya tersenyum menatap wajah malu-malu Adhisti yang terlihat sangat menawan wajahnya.


Suara pintu terbuka, keriet.


"Eh mbak Nita, ada apa?" Adhisti membetulkan jilbab yang ia gunakan.


"Ada tamu mbak Adhi, pasangan suami istri yang kemarin lagi!" jawabnya berbisik.


Adhisti kali ini di hadapkan masalah besar, nanti harus jawab apa jika Endaru tanya ini dan itu di tambah lagi ia hari ini tidak akan berkerja ke kantor dan memilih kerja dari rumah dan rapat dari rumah.


Adhisti membalikkan kepala dan melihat apakah suaminya sudah selesai memakai pakaian kerjanya, terus Oma Melati.


Adhisti menggigit bibir bawahnya, haduh ... bagaimana ini jika dirinya benar-benar putri kandung dari keluarganya yang hilang itu secara beberapa waktu lalu Reno memberikan pesan singkat berupa foto jika sang kakak ipar adalah mantan dari Papanya Endaru dan yang lebih parahnya jika sampai Endaru tau, bagaimana ini.


Endaru sudah rapi dengan kemejanya, terlihat tampan. Namun Adhisti tidak mau terbuai dengan ketampanannya ia harus berpikir jernih bagaimana menjelaskannya pada sang suami.


"Aru ...." Manjanya.


"Kenapa sayang? masih mau lagi seperti tadi malam," tanpa memperdulikan yang lain.


Nita yang masih berada di luar pintu menahan malu sendiri mendengar ucapan bosnya itu.


"Bukan itu, ayo ... kebawah dan sepertinya ada masalah di bawah." Menarik lengan suaminya.

__ADS_1


Nita mengikuti sepasang suami istri untuk turun ke bawah tapi dengan tujuan yang berbeda. Ryan yang hari ini ingin memberikan berkas pada Endaru ia urungkan saat ada sebuah mobil yang sudah masuk dan terparkir di depan rumah tidak jauh dari pintu masuk ke dalam rumah.


__ADS_2