Istri Yang Disimpan

Istri Yang Disimpan
97. Mulai terkuak


__ADS_3

Adhisti tersenyum tapi yah di dalam hati masih bingung, baru dua kali saja ia bertemu dengan sepasang suami istri ini tapi kenapa ia merasa tidak asing dengan mereka berdua. Adhisti menepis saja angan-angan yang ada di dalam pikirannya.


Sebenarnya Adhisti sedikit tidak asing dengan wajah wanita ini, kenapa wajahnya seperti Adinda. Ya ... benar wajah Adinda mantan calon istri Malik Papanya Endaru tapi benar atau tidak, jika benar coba nanti di pancing sedikit tentang masa lalu semoga suami yang ada di sampingnya tidak keberatan.


'Coba aku pancing saja deh, tapi sebelum itu aku mau Nita tidak mendekati kami saat mengobrol nanti.' Adhisti ingin mengorek juga tentang masa lalu wanita yang tengah duduk di atas kursi roda.


"Mbak Nita, tolong ya. Kami ingin berbicara sebentar saja." Adhisti membisikan pada Nita.


"Baik mbak. Kami akan mengawasi mbak dari jauh, permisi mbak," Nita berpamitan.


Gerry tidak heran jika pengawasan dari keluarga Septian akan seketat ini dan dimana-mana ada yang mengawasi setiap gerak gerik dari orang-orang yang berusaha mendekati keluarga Septian.


Di taman dekat Mini market.


Adinda terus saja menyunggingkan senyum di bibirnya dan ia tidak dapat memungkiri jika ada ikatan batin dengan gadis muda ini, tapi tidak tau apa gadis yang ada di depan dirinya ini merasakan hal yang sama dengan dirinya sekarang ini.


"Maaf Nyonya, ada apa anda ingin berbicara dengan saya?" Adhisti menatap sepasang suami istri yang ada di depannya.


"Adinda, katanya kamu ingin bertemu dengan dia. Aku tinggal sebentar ya." Gerry memberikan kecupan di dahi Adinda.


Adinda mengangguk.


"Saya titip sebentar istri saya ya, saya mau membeli sesuatu." Gerry menitipkan sang istri untuk berbicara sebentar.

__ADS_1


Bukannya tadi baru belanja terus maksudnya apa coba ini, apa masih kurang belanjaannya. Adhisti sebenarnya tidaklah nyaman jika berbicara pada orang asing di tambah lagi ekspresi wajah suaminya wanita ini tidak enak di lihat alias galak sekali wajahnya. Tapi mungkin bagi orang lain tegas ya wajahnya tapi tidak bagi Adhisti.


'Ya Allah selamatkan hamba mu ini dari orang-orang yang berniat melukai hamba ini Ya Allah.'


Menggenggam erat tangannya di bawah meja, sekarang ini Adhisti merasa cemas dan hawatir. Jaman sekarang apapun bisa di lakukan bahkan demi keuntungan, sebab ia pernah merasakannya dihianati kekasihnya sampai detik ini tapi untungnya suami yang menyelematkan kehidupannya.


Adinda menanyakan dimana Adhisti tinggal dulu, Adhisti begitu ragu pada wanita paruh baya tersebut. Kenapa wanita ini sok kenal sok dekat dengannya, dan terus menerus bertanya melalui layar tab yang ia gunakan. Adhisti sendiri tidak bisa terlalu akrab dengan orang luar dan membatasi interaksi dengan orang lain, agar tidak terjadi kesalah pahaman seperti dulu. Pernah ia di jelek-jelekkan orang gara-gara di tuduh mendekati anaknya yang baru saja jadi duda, Adhisti langsung menghindar padahal ia tidak ada hubungan sama sekali suka juga tidak. Apalagi Adhisti wanita muda pasti yang ia cari juga muda tidak seperti duda itu yang tampang saja di bawah rata-rata bukan di bawah rata-rata malah di bawah rata-rata masih bagus jika di tanya nilainya berapa gak sampai satu persen. (Bukan tulisan menghina orang)


"Maaf Tante, meski saya anak angkat dari kedua almarhum orang tua bukan berarti saya menjelek-jelekkan mereka. Saya memang anak yang ia adopsi saat saya lahir, tapi saya bahagia mengalami nasib seperti ini. Saya bangga dan tidak berkecil hati dan menjadikan pengalaman mereka jadi pelajaran berarti bagi saya." Adhisti sedikit meninggikan suaranya saat orang asing di depannya tanpa sengaja mengetik perkataan yang sedikit menyinggung orang tua angkatnya, sebaik mungkin ia menjaga aib kedua orang tuannya.


Adhisti tau jika orang tua angkatnya banyak skandal termasuk pernah merampok juga, tapi tentang penculikan bayi itu rasanya tidak mungkin terjadi mengingat mereka begitu baik dan membiarkan dirinya tinggal dan menikmati hidup dengan mengandalkan toko dan tidak di berikan kehidupan dari hasil tidak baik itu, berati bisa di ambil inti kisah yaitu semua demi kelangsungan hidup Adhisti kedepannya agar tidak terjadi sesuatu yang buruk.


📝 Maaf jika menyinggung, apa saya boleh tau wajah kedua orang tua kamu, Adhisti. Saya mohon 🥺🥺


Adhisti menghela nafas panjang, ternyata wanita paruh baya di depannya tidak mudah menyerah. Apa selama ini ia terus mencari keberadaan putrinya? mungkin iya di lihat dari ekspresi wajahnya.


"Nyonya Adinda, ada apa? kenapa anda tiba-tiba pingsan." Adhisti segera menolong dan berteriak.


"TOLONG ...." Adhisti berteriak.


Gerry yang mendengar teriakan seorang perempuan dan suaranya sepertinya di tempat tadi, yaitu taman.


"Adinda," langsung berlari begitu juga dengan Tejo dan Nita.

__ADS_1


Adhisti menopang kepala Adinda takut jatuh.


"Biar saya saja, terimakasih sudah menolong istri saya." Gerry segera mengendong sang istri menuju ke dalam mobil dan kembali ke rumah sakit.


Adhisti merasa bersalah langsung menyuruh Tejo untuk melipat kursi roda dan mengikuti kemana tuan tadi pergi, ternyata menuju Rumah Sakit yang kebetulan ada di depan mini market.


Adinda sedang di periksa kondisinya, oh ... ternyata suami dari nyonya Adinda adalah seorang Dokter.


"Maaf Tuan, bagaimana kondisi istri anda tuan?" Adhisti sangat hawatir.


"Tidak apa-apa, dia hanya kelelahan saja!" jawab Gerry tersenyum.


Adhisti mengerjabkan matanya, Dokter garang seperti ini bisa tersenyum ternyata. Kirain gak bisa senyum dan dingin begitu ternyata enggak.


"Alhamdulillah jika nyonya Adinda baik-baik saja, kalau begitu saya pulang dulu. Ini kursi roda milik istri anda dan juga ini untuk istri tuan, saya permisi." Adhisti hendak pergi namun di cegah lagi oleh Gerry.


"Maaf adik, bisakah kamu menunggu sampai istri saya siuman?" pertanyaan berat, tapi ia juga perlu pulang dan merawat suaminya sebab ini kewajiban dirinya sebagai seorang istri.


Adhisti berpikir lagi, iya atau tidak. Tapi nyonya tadi pasti pingsan gara-gara dirinya.


Tiba-tiba ia mendengar suara yang tidak asing di dengar.


"Adhi."

__ADS_1


***


Dukungannya jika suka, terimakasih banyak teman-teman yang berkenan mampir.


__ADS_2