Istri Yang Disimpan

Istri Yang Disimpan
70. Malik mengunjungi rumah Endaru


__ADS_3

...SELAMAT MEMBACA...


"Hey dekil, jangan erat-erat meluknya kasihan Adhi yang kamu peluk sesak nafas." Menjewer telinga Endaru.


"Sakit Oma telinga aku," memegang telinganya yang barusan di jewer.


Adhisti jadi ingin tertawa melihat Endaru yang begitu luluh pada Omanya, mungkin kasih sayang yang tulus itulah yang menciptakan momen ini begitu nyata tanpa adanya kebohongan semata.


"Makanya jangan main nyosor, belum muhrim tau." Melati menekan setiap perkataannya.


"Tapi sudah pernah sentuh sana sini ko Oma, tapi itu kejadiannya beberapa waktu lalu. Sumpah Oma," mengangkat tangannya.


Melati tertawa nyaring sekali, ternyata cucu kesayangannya ini pandai membual saja. Karena Melati belum tau jika Adhisti adalah mantan istri siri Endaru yang di simpan jika tau entah murka sang Oma seperti apa.


Di taman samping rumah.


"Adhi kemarin kamu tau gak kalau kemarin itu hari sepesial aku." Memberikan teka teki.


"Sepesial???" Adhisti mengerutkan kedua alisnya.


"Gak percaya."


Sedikit ada keraguan di wajah Adhisti.


"Percaya Aru, hari di mana kamu ngajak aku serius kan untuk ke jenjang yang lebih tinggi yaitu pernikahan, itu kan yang kamu maksud sepesial Aru?" Adhisti benar-benar tidak tau jika Endaru sedang ulang tahun kemarin.

__ADS_1


Endaru tiba-tiba bad mood dan mengalihkan pandangannya.


"Ko ngambek sih, aku salah bicara ya Aru. Perasaan benar deh kemarin itu kita membahas hal sepenting ini yaitu pernikahan kita, atau jangan-jangan kamu ingin membatalkan lagi?"


"Buka masalah itu, tapi kemarin selain kita aku sedang berulang tahun Adhi!" pada akhirnya bicara juga.


"Benarkah? selamat ulang tahun Aru." Kecupan singkat di seluruh wajah Endaru kecuali bibir dan hidung.


"Kurang, mau lagi," manjanya gak ketulungan.


"E ... HE ... M ...." Melati datang dengan deheman yang keras.


"Jangan di turuti Adhi." Seraya berjalan mendekati Endaru dan Adhisti yang sedang asik dengan dunianya tanpa peduli yang lain.


"Tidak Oma, sudah cukup hadiahnya lagian Aru sudah puas kan?" sambil mencubit lengan Endaru yang kebetulan paling dekat dengan tangan kanannya.


"Iya ... iya ... Oma sudah puas dengan hadiahnya ko!" terpaksa menjawab padahal ia sebenarnya tidak rela jika hadiahnya cuma ini saja.


Nita ikut bahagia melihat momen ini tapi ia harus segera melapor pada Endaru untuk memberi tahukan jika Papanya datang ke rumah ini.


"Maaf Pak bos, em ... itu em ... itu." Nita gugup.


Melati langsung mendekati Nita.


"Santai saja Nita, ada apa? di kejar orang gila atau kecopetan saat belanja atau ada tamu?" Melati hawatir padanya.

__ADS_1


"Iya, Oma Besar Melati!" jawabnya tertunduk.


"Kebiasaan pakai sebutan besar, seperti saya ini orangnya gendut saja, panggil Oma Melati saja. Bisa tidak sih Nita tanpa adanya besar di tengah-tengah saat memanggil saya."


"Baik Oma Be ..., maaf Oma Melati. Di depan ada Bapak Malik," meremas sedikit ujung baju kerjanya.


Endaru yang tadinya asik bersenda gurau dengan Adhisti langsung diam seribu bahasa, kenapa Papanya datang kesini mau berupah atau mau apa dan dia langsung berdiri mendekati Melati.


"Oma, aku saja yang menghadapi Papa." Menghentikan Melati.


"Tidak, Dekil. Ayo kita sama-sama menemui laki-laki itu, ajak Adhi sekalian Dekil," Melati yang masih sehat berjalan tanpa bantuan tongkat tapi tetap di dampingi oleh suster kepercayaannya.


Malik menanti kedatangan putranya, meski datangnya terlambat tapi ia selalu berusaha untuk datang.


Malik tercengang saat melihat ternyata ada Adhisti dan juga Mamanya.


"Ma, bagaimana kabar Mama?" Malik mencium tangan Ibunya.


"Mama sehat Malik, kenapa datang kemari? biasanya kamu akan berkelit dengan seribu alasan ini dan itu." Melati mengintimidasi Malik.


Malik yang mendapat sambutan seperti ini hanya bisa tersenyum pada Ibunya.


"Ma ..., bukan begitu. Mama kan tau sendiri jika Malik banyak pekerjaan yang harus di urus di tambah lagi perkebunan yang ada di Desa, banyak yang harus di urus Ma apalagi sudah mau akhir pekan Ma," Malik hendak memeluk putranya namun Endaru menghindar, Malik terlihat kecewa dengan sikap yang di tunjukkan oleh sang putra.


Ternyata noda itu masih belum bersih dan bara yang ia ciptakan sepertinya tidak akan pernah padam meski waktu telah berlalu lama, Malik sadar jika ia salah bahkan sangat salah dengan sikap dan perbuatannya di masa lalu, tapi bukan berarti dirinya kuat menghadapi ini semua ini terlalu berat andai masa lalu dapat di putar ia tidak akan pernah melukai istri dan anak-anaknya karena obsesi masa lalu yang hanya akan jadi masa lalu bukan masa depan yang cerah justru momok bagi kehidupannya.

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


Berat berada di posisi seperti ini, pasti hati seorang anak akan terluka sekali.


__ADS_2