Istri Yang Disimpan

Istri Yang Disimpan
9. Pingsan


__ADS_3

...SELAMAT MEMBACA...


"Bukannya kamu yang bersemangat sekali istriku." Endaru tersenyum licik dan langsung menyentuh bagian dalam punggung Adhisti.


"Sepertinya aku datang bulan Tuan," Adhisti merasakan sesuatu keluar dengan deras dari area sensitifnya.


"Benarkah???" tidak percaya, tapi setelah Adhisti berdiri dari pangkuannya barulah ia tau jika Adhisti memang benar-benar datang bulan, pantas saja paha kanannya merasakan ada sesuatu yang hangat seperti pipis bayi yang baru lahir.


"Iya, benar tuan." Adhisti merasa sedikit canggung.


"Kamu ... kamu ... huek ... huek ...," Endaru menunjuk-nunjuk tubuh Adhisti dan segera masuk ke kamar mandi dengan mual-mual seperti orang hamil.


Sedangkan Adhisti tersenyum puas melihat wajah Endaru yang pucat pasi. Setelah berganti pakaian dengan jubah handuk dan terlihat sudah mandi tiba-tiba Endaru pingsan tepat di samping tempat tidur. Adhisti langsung berteriak dan membuat 2 body guard Endaru masuk karena pintu tidak di kunci untuk memastikan bosnya, benar saja ternyata bos mudanya pingsan.


Sedangkan istrinya ikutan panik dan menepuk-nepuk pipinya dengan berani, 2 body guard Endaru saling menatap satu sama lain. Selama ini Endaru tidak suka di sentuh meski dia keadaan pingsan kecuali saat ia masuk ke rumah sakit saat sakit parah. Sebab setelah bangun orang yang menyentuh wajah atau area terlarang lainnya pasti akan terkena imbasnya.


"Nona, jangan sentuh wajah pak bos." Ucap salah satu body guard Endaru.

__ADS_1


"Dia suamiku dan aku berhak menyentuhnya, apalagi dia dalam keadaan pingsan gara-gara aku," Adhisti memberikan tatapan dingin dan tegas.


Kedua orang itu langsung membeku di tempat dan segera membantu bosnya untuk berbaring di tempat tidurnya.


"Maaf nona, maaf atas ucapan saya yang lancang barusan." Sambil menunduk.


"Pergilah, saya bisa menangani ini," Adhisti memberikan minyak angin di dekat hidung Endaru dan menepuk-nepuk pipinya, namun sang suami tidak juga segera bangun.


'Sudah bangun belagak sok pingsan, aku tinggal saja kalau begitu.'


"Masih pingsan, betah banget pingsannya." Berpura-pura tidak tau jika Endaru sudah bangun. "Jika seperti ini diam dan anteng dia terlihat menggemaskan, sangat tampan." Hendak menyentuh hidung Endaru namun secepat kilat tangannya di cekal oleh Endaru.


"Dasar cari kesempatan dalam kesempitan, sepertinya jika aku tidak sadar lagi aku bisa kamu tiduri," ejek kan Endaru hanya di anggap angin lalu.


"Kepedean sekali, bukannya anda yang seperti itu kepada saya tuan." Adhisti berjalan menjauhi Endaru dan membaringkan tubuhnya di sofa empuk kesayangannya dari kemarin.


"Tapi fakta nyata Adhi, apa kamu mau mengelak dengan ucapanmu barusan," sambil memutar rekaman di ponselnya.

__ADS_1


Adhisti mengerutkan kedua alisnya.


"Hapus enggak." Dengan berani Adhisti menunjuk-nunjuk Endaru, baru kali ini ada orang yang begitu berani dengannya.


Endaru ingin lihat seberapa beraninya Adhisti pada dirinya.


"Enggak mau, kalau mau rekaman ini aku hapus. Puaskan aku malam ini," tersenyum licik dan berharap Adhisti menuruti perkataannya dan tidak membantah.


"Ya sudah, kamu simpan saja rekaman itu. Apa anda lupa dengan apa yang terjadi di paha kanan anda tuan?" Adhisti mengambil selimut dan bantal dari dalam ruang ganti.


"Tapi ...!" belum selesai menjawab Adhisti sudah lebih dulu memejamkan matanya, sepertinya dia mengantuk berat usai berdebat dari tadi.


Endaru berjalan mendekati Adhisti, ia sekuat tenaga untuk tidak bertingkah sembrono lagi meski orang yang berada di depannya sangat menggoda. Padahal ia tidak pernah seperti ini sebelumnya, apalagi saat banyak beberapa rekan bisnis dan anak-anak dari rekan bisnis keluarga Septian yang diperkenalkan.


...BERSAMBUNG...


...Sampai disini bagaimana karya emak, puas enggak atau kurang puas. Tinggalkan jejak dan dukungannya ya....

__ADS_1


__ADS_2