Istri Yang Disimpan

Istri Yang Disimpan
77. Gadis ceroboh


__ADS_3

...SELAMAT MEMBACA...


Adhisti mengusap-usap jarinya yang di obati Endaru, rasanya banyak bunga dan kupu-kupu yang berterbangan di hatinya.


"Kenapa tersenyum-senyum sendiri Adhi, seneng banget ya aku obati lukanya? sampai-sampai di lihatin terus plesternya." Duduk di samping Adhisti.


Kursi dari susunan bambu sangat nyaman untuk di duduki meski terkadang ada suara kriet-kriet yang melanda.


"Iya, aku suka sekali dengan pemandangan disini sejuk dan nyaman!" menatap hamparan sawah yang hijau banyak dedaunan yang tertiup angin.


"Kenapa sih kamu selalu ceroboh saat bertindak, sepertinya kosan kamu yang sekarang ini dalamnya seperti kapal pecah tidak seperti ruang tamu dan teras yang bersih dan rapi." Tuduhan yang langsung mengena di hati Adhisti.


"Jahat banget, mentang-mentang aku orangnya gampang ceroboh saat bertidak dan kurang jaga waspada dan kebersihan," berdiri dan lebih memilih berdiri di dekat pohon besar.


"Ngambek nih aku ledekin, lagian aku kan cuma asal menebak saja bukan berarti aku berpikiran negatif tentang kamu Adhi. Jangan ngambek dan marah dong Adhi." Memohon.


"Iya gak marah, nih lihat aku tersenyum nih lebar banget senyumnya," di paksa tersenyum.


"Nah begini baru benar Adhisti si wonder women yang patut di perjuangkan cintanya dan tidak berhak di duakan atau di beri harapan palsu." Endaru masih saja sok manis.


"Ch, gak sadar diri jika yang di ucapkan itu menyebutkan dirinya sendiri," Adhisti berbicara sesuai dengan fakta.


"Kalau aku beda, kenapa aku waktu itu menyelesaikan hubungan kita."


"Apa coba alasannya, apa sama dengan waktu itu untuk mendapatkan ku dengan cara yang baik dan benar?" tebakan Adhisti memang benar.

__ADS_1


"Ini kamu tau dan hafal bahkan di luar kepala hafalnya!" cengengesan.


"Pengen aku tampol wajahmu pakai sendal." Mengambil sendalnya dan hendak memukul Endaru namun tidak jadi takut seperti yang ada di berita-berita waktu dulu gara-gara di tolak cinta dan terluka wanita jadi korban, mengerikan dan sadis cara menghabisi korbannya.


"Jangan dong please, nanti kamu berpaling jika aku kurang tampan," menutupi sebagian wajahnya.




'Haduh ini orang kenapa gak daftar jadi aktor saja dari dulu sia-sia punya bakat namun di pendam saja lebih baik di salurkan sebagai hobi sampingan.'


"Biarin, biar gak ada cewek-cewek yang kegenitan saat lihat kamu. Tuh ... banyak yang mengeluarkan air liur saat menatapmu, apa kamu ini pakai sesuatu untuk memperkuat pesona kamu?"


Adhisti mengangguk saja ia paham dengan pembicaraan ini, memang kita tidak seharusnya memakai sesuatu dan tidak melakukan sesuatu yang justru menjebak kita dalam dunia syirik dan musyrik.


Brugh


Baru juga melangkah Adhisti sudah jatuh tersungkur ke tanah lebih parahnya lagi badannya tersangkut di pohon pisang.


"Aduh ... sakit." Tapi apa boleh buat badannya terjepit dan ia sedikit kesusahan untuk menarik tubuhnya yang berada di tengah-tengah pohon pisang.


"Dasar gadis cantik yang ceroboh, hobi banget neng jatuh? kenapa gak jatuh di pelukan Abang sih neng?" guyonan Endaru terasa garing di telinga Adhisti.


"Tolongin dulu Kenapa sih Aru, sakit tau." Adhisti mengeluh sebab badannya terasa sakit.

__ADS_1


"Sorry ... sorry lupa sayang, lagian kamu ada-ada saja Adhi kenapa sih selalu seperti ini, jika tidak ada aku gimana kamu bisa hidup sampai sekarang hem?" menarik tubuh Adhisti tapi sebelumnya ia menarik pohon pisang lebih dulu dan sedikit mau roboh pohonnya.


"Terimakasih sudah menolong, tapi buktinya aku bisa hidup tanpa kamu Aru!" jawabnya berlalu pergi.


Kenapa cuma seperti ini balasannya gak ada romantis-romantisan seperti yang ada di film-film.


"Iya percaya." Endaru menerima telpon yang sedari tadi berdering nyaring di kantong celananya.


Adhisti tidak ikut-ikutan mendengar apa yang di bicarakan, mungkin tentang perusahaan dan teman-temannya dari pada pusing mengurusi urusan orang lain lebih baik mengurus diri sendiri.


Selesai berbicara Endaru mendekati Adhisti.


"Ayo pulang." Ajakannya mendadak.


Adhisti yang sudah nyaman ada rasa kecewa di hatinya.


"Ya sudah ayo," mengalah saja lagian dia yang ngajakin pergi dia juga yang berhak menentukan pulang kapan saja.


Saat perjalanan pulang Endaru kurang fokus dalam perjalanan sebab mendadak dapat kabar dari Ryan jika ada masalah di kantor dan butuh dirinya untuk segera datang


BRAG


Menabrak sesuatu


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2