
...SELAMAT MEMBACA...
Tuk
Adhisti menyentil kuat dahi Endaru.
"Jangan-jangan apa, pikiran negatif mulu ke aku. Apa tidak capek berpikiran buruk ke aku, aku saja lelah loh di jelek-jelekkan orang padahal aku tidak punya dosa apa-apa ke orang itu," Adhisti berapi-api.
Ryan terkejut lagi dengan sikap berani Adhisti, benar-benar wanita tangguh pantas saja Endaru tidak bisa lepas dan selalu memiliki perhatian khusus dan lebih pada Adhisti, ternyata ia seistimewa ini.
"Lagian kamu sih gak mau pakai uang aku, apa sebegitu tidak sukanya dengan uang sampai-sampai tidak ada riwayat penarikan uang, biasanya cewek itu kalau di kasih uang langsung ijo matanya entah uang halal atau sebaliknya." Sok merasa benar.
Bukannya di terima justru Adhisti bertambah emosi.
"Kamu pikir semua wanita sama, hah. Mata duitan gitu," sambil menjewer telinga Endaru dengan kuat bahkan tangan Adhisti sambil berputar hampir 180 derajat.
"Kenapa tidak, bukannya semua gila uang dan harta." Menarik telinganya dari cengkraman Adhisti.
"Oh," hanya oh saja jawaban Adhisti, ia sudah tidak ada mood untuk berdebat dengan Endaru.
'Kenapa sih ada makhluk hidup seperti Aru, saat berucap sangat manis namun tersemat kekejaman dan merendahkan orang lain, tapi lucu kenapa aku bisa suka dengan orang seperti dia. Sulit di tebak cara berpikirnya di tambah perhatian dia buat orang salah kaprah mengartikannya.' Adhisti mencuri-curi pandang wajah Endaru.
__ADS_1
Endaru kini fokus pada ponsel pintarnya, sebegitu sibuknya ia sampai tidak sadar jika ada seorang wanita yang terpesona akan dirinya yang diam seribu bahasa dengan pemikat yang sudah menempel sejak ia lahir ke dunia.
"Aru." Panggil Adhisti namun tidak di jawab oleh yang punya telinga.
'Tuhkan kebiasaan kalau di panggil gak respon, apa daun dan gendang telinganya rusak?' Adhisti membantin lalu mencolek pipi Endaru.
"Apaan sih." Dengan ketus Endaru menatap Adhisti dan malas melayani wanita yang ada di sampingnya.
"Ketus banget, Aru. Apa tidak bisa sedikit saja gak ketus, ya sudahlah dari pada kena semprot pestisida dari mulut mu," Adhisti menatap ke arah luar jendela mobil dan melihat ke sana kemari.
"Memangnya mulut ku ini seperti pestisida apa? bukannya bibir ini selalu memberikan cinta di tubuh kamu." Bisiknya di telinga Adhisti.
"Kamu sedang memikirkan apa sih Aru, dari tadi sepertinya kamu terkena masalah?" Adhisti curiga.
"Tidak ada, dan itu bukan urusan kamu. Kamu urus saja masalah kamu sendiri dan jangan ikut campur dengan masalahku kali ini!" ia kembali fokus pada ponselnya.
Adhisti memilih diam.
Sesampainya di rumah, Ryan sudah berpamitan pulang lantaran Mega mengeluh perutnya tidak nyaman dan membuat Ryan sangat hawatir dengan kondisi istri dan juga bayinya.
Endaru mendapat panggilan dari Akasha.
__ADS_1
"Ngapain lagi sih orang ini telpon, gak punya kerjaan apa?" Endaru bad mood langsung mengangkatnya.
📞 "Hallo, ada keperluan apa ya sampai-sampai Bapak Akasha menelpon saya di jam segini dan bukan telpon ke sekretaris saya?"
Akasha tersenyum.
📞 "Sepertinya saya harus membatalkan kerja sama diantara kita Bapak Endaru!"
Endaru sudah bisa menebak jika Akasha akan membatalkan kerja samanya, melihat sikap Akasha yang begitu nafsu dengan istrinya pasti ia akan mencabut investasinya di perusahaan.
📞 "Tidak masalah Pak, jika anda tidak berinvestasi ke perusahaan saya. Terimakasih sebelumnya."
📞 "Oke Endaru, tapi jika kamu ingin investasi dari saya kamu harus memberikan istri kamu ke saya dengan baik-baik," persyaratan tergila yang pernah ia terima.
📞 "Saran yang bagus Bapak Akasha, tapi saya tidak tertarik dengan hal gila seperti itu. Melindungi istri adalah kewajiban saya sebagai seorang suami." Endaru mematikan saluran ponselnya sepihak.
Akasha tersenyum saat melihat ponselnya dan mengisyaratkan beberapa orang untuk menjatuhkan saham milik Endaru.
Adhisti yang tidak sengaja mendengar pembicaraan Endaru tersenyum-senyum seperti orang benar-benar di buat mabuk kepayang.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1