Istri Yang Disimpan

Istri Yang Disimpan
34. Perhatian tapi gengsi


__ADS_3

...SELAMAT MEMBACA...


Endaru mengepalkan tangannya.


"Ryan, ayo ikut gue." Endaru hendak pergi namun pergelangan tangannya di cekal Tisha.


"Endaru, aku mohon jangan pergi. Aku ... aku ...." Tisha tiba-tiba pingsan di tempat.


"Lo tolongin dia." Endaru menunjuk Ryan untuk menangani Tisha, entah ia berakting atau nyata. Endaru segera pergi dari rumah yang terasa sangat panas dan tidak nyaman.


"Tapi ...," belum sempat ia menolak ada panggilan dari Mega istrinya.


"Halo beb, ada apa?" Ryan sedang mengintruksikan salah satu pembantu yang ada di tempat ini untuk menolong Tisha lebih dahulu.


"Pulang beb, dedek bayinya kangen sama Papanya!" jawab Mega yang sudah cemberut di balik telponnya.


Ryan menghembuskan nafas beratnya.


"Iya, tunggu sebentar. Pulang mau di bawakan apa?" Ryan menanyai istrinya.


"Makanan berbau coklat beb, apa saja yang penting coklatnya banyak dan lumer!" seketika wajahnya langsung bersinar-sinar.

__ADS_1


Rumah Sakit.


Adhisti merasakan tidak enak badan saat Dokter memeriksa kakinya yang memar.


'Sakit banget lagi, aduh ... mau teriak takut Dokternya kabur. Untung Dokternya muda dan tampan jika enggak aku sudah teriak ini, malu dong di depan orang ganteng teriak-teriak.' Adhisti terkagum-kagum sambil mencuri pandang ke Dokter muda itu.


Endaru yang sedari tadi menatapnya ingin sekali membumi hanguskan Dokter yang berpenampilan sempurna di depannya.


"Ehem ...." Deheman Endaru membuyarkan imajinasi Adhisti.


Ia terkejut dengan keberadaan Endaru, sejak kapan ia duduk cantik di sofa itu? kenapa ia sampai tidak sadar dengan kedatangannya.


"A-- ru," dengan terbata Adhisti berbicara.


Usai di periksa tidak terjadi apa-apa pada luka memar di kaki Adhisti dan tidak perlu menginap di rumah sakit. Endaru sebenarnya ingin Adhisti di rawat inap di rumah sakit untuk memastikan saat pemulihan kakinya ia tidak ceroboh. Tapi Adhisti menolak dengan alasan.


"Aku mau pulang Aru, apa kamu mau aku setiap hari bertemu Dokter ganteng dan tampan seperti Dokter Reno barusan." Ucapan Adhisti langsung di setujui dari pada banyak orang cuci mata melihat istri mungil rahasianya.


"Ayo pulang, jangan bahas Dokter ganjen," Endaru menarik tangan Adhisti dan terlupa jika kaki Adhisti terluka.


"Aw ... sakit Aru, bisa tidak usah menarikku sampai begini?" Adhisti menahan sakit.

__ADS_1


Aru sebenarnya gengsi tapi ia juga tidak ada pilihan terpaksa ia mengendong di istri mungilnya dari pada di sentuh orang lain tubuhnya.


"Ayo!" Endaru jongkok.


"Untuk apa? kenapa kamu jongkok Aru. Tidak usah aku masih bisa berjalan, asalkan tidak kamu tarik dengan kuat. Em ... supaya kamu tidak terekspos media Aru." Mengingatkan pada Aru betapa jahatnya dunia digital sekarang.


Sesuatu aib yang seharusnya tidak terungkap tetaplah harus di simpan dan di jaga, meski harus mengorbankan atau berkorban pada diri sendiri.


"Oke, ayo jalan," Endaru berjalan lebih dulu sedangkan Adhisti di belakangnya Endaru dan di belakang Adhisti barulah body guard Endaru yang hebat dan setia.


Perjalanan pulang kali ini Endaru menggenggam erat tangan Adhisti.


"Aru, kenapa? kenapa kamu menggenggam tanganku terus menerus?"


"Tidak apa-apa, maaf Adhi membuat kamu terluka!" jawaban Endaru terlihat tulus dan dari hati terdalamnya.


'Perhatian tapi gengsi, lucu.' Adhisti tersenyum-senyum sendiri dalam hatinya.



__ADS_1


...BERSAMBUNG...


Emak up sedikit ya sebab Emak sakit maag dan tetap usaha up, Emak kalau selesai nulis langsung up jadinya gak punya bab cadangan, harap maklum ya jika up nya gak selalu tepat waktu. Terimakasih ya sudah membaca karya Emak.


__ADS_2