
...SELAMAT MEMBACA...
Usai permainan yang tidak terlalu lama dan juga tidak terlalu sebentar, Endaru dan Adhisti sama-sama masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri, tanpa adanya nafsu berlebih cuma mandi saja.
"Aku bantu keringkan rambut kamu ya." Endaru menawarkan diri.
"Tapi, punya kamu juga masih basah Aru," menengok ke arah belakang.
"Gampang." Mengambil hair dryer dan mulai mengeringkan rambut Adhisti, belum juga setengah kering Endaru menahan wangi dari vitamin rambut agar tidak keluar.
Hacing.
Hacing.
Hacing.
"Tuhkan ... kamu jadi bersin-bersin. Ngeyel sih sok kuat padahal setelah keramas kamu tidak pernah membiarkan rambut basah dan langsung di keringkan." Adhisti mengomel.
Ia langsung mengambil alih hair dryer tersebut dan mengecilkan suhu AC supaya lebih hangat suhunya.
"Iya ... iya ... kamu selalu benar dan aku salah dan aku gak kuat jadi laki," terdengar rendah hati namun kurang ikhlas kesannya.
"Bicara kamu terdengar aneh tau." Adhisti mengacak-acak rambut Endaru dengan gemasnya, kenapa rambutnya begitu lembut dan tebal.
__ADS_1
Ups pikiran Adhisti berkelana kemana-mana jika menyentuh rambutnya, teringat kejadian sekitar satu setengah jam yang lalu.
"Jangan lama-lama mengeringkannya, jangan-jangan kamu jatuh cinta dengan rambut bagus aku." Ledeknya yang pas ngena ke hati.
"Tidak," mengalihkan pandangannya dan mematikan hair dryer yang ia gunakan barusan.
"Benarkah? tapi kenapa kamu tersipu jika kamu tidak jatuh cinta, hem?" Endaru senang sekaligus menggoda Adhisti.
"Gara-gara panas hair dryer makanya jadi merah wajahku!" Adhisti berjalan ke arah laci meja rias dan mengembalikan benda tersebut ke tempat asalnya.
•
•
Tisha sungguh marah dan kecewa dengan penolakan Endaru padanya, apakah ada wanita lain yang sudah mengisi hatinya sekarang.
"Endaru, apa pun yang terjadi kamu harus dengan aku. Meski harus dengan cara yang tidak pernah kamu bayangkan." Sambil mengepalkan tangannya.
Tisha menyusun ide-ide di dalam otaknya, ia tidak mau gegabah dalam mengambil tindakan saat melangkah. Seperti seorang Dokter yang menyelamatkan pasiennya, penuh perhitungan dan kewaspadaan yang penuh.
"Baiklah, besok aku ke rumahnya saja. Tapi jika dia tidak ada aku mendekati Papanya saja." Sambil tersenyum penuh makna.
Pagi hari.
__ADS_1
Adhisti seperti biasa ia memeluk tubuh suaminya atas permintaan Endaru tentunya, bahkan ia mau bergerak saja susah apalagi saat ia ingin pergi ke kamar mandi, penuh perjuangan sekali.
"Aru, bangun. Aku sudah gak tahan ingin pergi ke kamar mandi." Adhisti menahan air kencingnya.
"Em, gak mau," mempererat pelukannya.
"Aku gak mau sampai ke Dokter gara-gara kencingku tidak lancar, apa kamu mau itu aku di lihat Dokter tampan?" jurus jitu di keluarkan lagi, Endaru tidak suka jika istrinya menyebut dan mengagumi Dokter tampan.
"Sana pergi, tapi cepat kembali setelah selesai buang air kecil!" jawabnya melepaskan dekapan eratnya.
"Iya ... iya ... secepatnya kembali, asal kamu gak cerewet terus Aru." Adhisti menutup pintu dengan keras, ia kesal dengan sikap dan posesif suaminya ini.
'Dasar Aru, lengket seperti perangko ada-ada saja sikapnya.' Sambil menggelengkan kepalanya berkali-kali.
Adhisti sedikit kesusahan saat buang air kecil, sebab ia menahan kencingnya tadi.
"Tuhkan sakit, gara-gara di tahan sih. Untung gak parah, minum air putih dulu deh supaya lancar lagi saat buang air kecil." Selesai dari kamar mandi Adhisti membiarkan Endaru memanggil-manggil namanya, ia lebih memilih kesehatannya dari pada kebucinan dia.
Endaru menyilangkan tangannya, benar-benat di abaikan keberadaannya.
"Silahkan lanjutkan marahnya, aku mau mandi dan sarapan. Perutku berdemo sejak tengah malam tadi." Sambil melambaikan tangannya menuju kamar mandi dan langsung di kunci begitu saja.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1
...Jangan lupa jaga kesehatan ya, jangan begadang mulu saat baca novel. Love love untuk semua, terimakasih banyak....