
Adhisti hendak di bantu berdiri oleh Ryan namun ia menolah sebab Ryan bukan mahramnya dan semenjak Adhisti menggunakan pakai tertutup ia juga tidak seperti dulu lagi jika ada yang menolong ia terima.
"Aku bantu, Adhi." Ryan mengulurkan tangannya.
"Tidak kak, aku bisa sendiri. Kalau begitu aku pulang ya kak," Adhisti yang masih lemas berusaha berjalan dan masuk ke dalam mobil, pantas saja kelakuannya beberapa hari ini aneh dan membuat orang lain penasaran jadi inilah jawabannya yang sesungguhnya, dia menyembunyikan sakitnya. Tapi kira-kira sakit apa dia sampai-sampai istrinya tidak tau sama sekali tentang dirinya.
Ternyata apa yang di ucap Ryan tidak sama sudah satu bulan Endaru tidak kembali dan tidak memberikan kabar pada dirinya, dimana dia sekarang kenapa dia begitu tega dengan dirinya yang sedang menantikan kehadirannya.
"Kak Mega." Adhisti sedang mengunjungi Mega yang berada di perumahan elit.
"Adhisti, duduklah dulu. Ayo," sambutnya dengan baik dan ramah tamah, perutnya semakin membesar usianya sekitar 5 bulanan kurang lebih tapi sudah terlihat membuncit dan bulat.
Mega menangkap wajah sedih Adhisti, pasti gara-gara Endaru yang tidak memberikan kabarnya. Aneh sekali dia, pergi kemana sih bahkan body guard nya saja tidak tau keberadaannya. Sedangkan Ryan entah bohong atau tidak ia juga berkata tidak tau Endaru dimana, terakhir kali yang ia tau Endaru masih di Singapura untuk perawatan dan pemulihan. Perawatan dan pemulihan apa lagi ini, bukannya hanya operasi di bagian itu saja kenapa sampai satu bulan bahkan ini sudah lewat dari satu bulan. Atau jangan-jangan ia ada penyakit lain yang orang lain tidak di beri tau, pasti ini alasannya ia menghilang.
"Iya kak, kak aku gak marah ko jika Endaru pernah melakukan operasi vasektomi. Tapi ... kenapa ia tidak kembali, terus dia ada dimana sih Kak sebenarnya?" pertanyaan yang sama lagi di tanyakan oleh Adhisti.
"Sabar Adhi, suamiku juga sedang mencari dia Adhi!" menenagkan Adhisti.
Adhisti mengangguk lalu ia berdiri dari tempat duduknya.
"Mau kemana? makanlah dulu Adhi." Mega menawarinya.
"Tidak Kak, aku pulang dulu. Oh ... ya kak jangan beritahu Endaru ya kak jika aku sudah tau ia pernah melakukan operasi itu," Adhisti berpamitan pulang.
__ADS_1
Ia tidak pulang, Adhisti berjalan-jalan sebentar untuk keliling perkotaan. Pikirannya kacau tapi ia tidak menggunakan sopir, ia menggunakan sepeda motornya ia ingin bebas dan bergerak normal seperti orang lain pada umunya tak lupa ia memakai masker dan juga jaket serta helem untuk pengamannya saat ia berada di perjalanan keliling perkotaan.
Sudah ribuan SMS yang ia kirim dan ratusan telpon yang ia panggil namun sang pemilik enggan untuk mengangkat atau membalas pesan singkat, kenapa ini terjadi jika hendak menyelesaikan semua hubungan ini.
'Aru kamu dimana, apakah kamu sudah makan atau kamu tidur nyenyak Aru. Tidaklah kamu ingat jika ditempat ini dan di kota ini ada seorang wanita menantikan kehadiran kamu Aru, aku rindu kamu Aru.'
Di sebuah villa duduk seorang laki-laki yang melamun, ia merutuki kebodohannya kenapa ia tidak waspada saat hendak kembali ke tanah air.
"Bodoh ... bodoh ... bodoh ...." Memukul kepalanya berkali-kali sampai ia merasakan sakit di bagian kepalanya.
Endaru termenung dengan nasibnya sekarang, bagaimana ia dapat pulang dengan kondisi badan yang seperti ini.
Ryan hari ini menemui Endaru di villa.
Kenapa ia tidak mau terus terang saja dari pada bersembunyi lantaran malu jika istrinya melihat kondisinya yang tidak sempurna lagi.
Adhisti yang berada di dalam mobil taxi memang sengaja mengikuti Ryan pergi kemana diam-diam untung Ryan tidak curiga padanya, saat masuk sebenarnya Adhisti sempat tertahan namun ia beruntung sebab di dalam tasnya ada surat nikah yang ia bawa yang hendak ia gunakan dan mau memfotokopinya tadi.
Adhisti menutup mulutnya dan ia merasakan sesak di dadanya saat melihat kondisi Endaru yang mengenakan kursi roda, sakit pastinya. Apalagi melihat kaki keduanya di perban.
"Gue kayak gini Ryan, apakah dia mau dengan kondisiku yang seperti sekarang. Kemungkinan kecil Ryan gue bisa sembuh." Negatif pikirannya.
"Iya ... aku memang tidak mau dengan kamu yang seperti ini." Tiba-tiba saja Adhisti bicara dan berjalan mendekati kursi roda Endaru.
__ADS_1
Ryan dan Endaru terkejut dengan kehadiran Adhisti yang mendadak seperti ini, sejak kapan dia ada di situ. Endaru menatap curiga jika sahabat baiknya ini yang sudah koar-koar kemana-mana tentang kondisinya sampai-sampai Adhisti di beritahu tempat ini.
"Sayang? sejak kapan kamu disini." Endaru panik bukan main.
Adhisti tersenyum.
"Jika aku tidak mengikuti kak Ryan dari beberapa hari yang lalu sampai sekarang, pasti kalian tetap menyembunyikannya bukan? kalian berdua ini tega sekali padaku, apa salahnya aku kalian menyembunyikan ini. Bahkan kak Mega saja juga gak tau, Aru apakah aku masih istrimu?" Adhisti berjalan mundur sambil berbicara ia kecewa pada Endaru yang dengan tega membohongi dirinya dan tidak memberi tau kebenarannya.
Apa salahnya jujur dan bicara apa adanya sampai tidak ada kesalah pahaman lagi, tapi ini tidak bersembunyi dan bersembunyi lagi seperti orang buronan polisi.
"Maafkan aku Adhi, maaf ... sayang. Aku mohon jangan pergi Adhi, aku jujur padamu. Tapi aku mohon jangan tinggalkan villa ini sayang." Sambil menggerakkan kursi rodanya.
Namun Adhisti tidak menyambut kedatangan Endaru dan ia tetap berjalan menjauh sampai ia di sebuah taman depan villa barulah ia berhenti dan menatap Endaru.
"AKU RINDU." Adhisti berlari dan langsung memeluk badan suaminya dan ia menangis sesenggukan.
Endaru juga menangis, ia pikir istrinya akan pergi dan meninggalkannya setelah tau kenyataan ia berbohong selama ini.
"Aku lebih merindukanmu sayang," menangkup kedua pipi Adhisti dan memberikan ciuman pada bibirnya, mereka berdua terbuai dengan rasa rindu yang mendalam.
Ryan jadi obat nyamuk, syukurlah jika mereka baik-baik saja sekarang pikirannya mendadak pada Mega. Jika Mega tau berita ini apakah dirinya masih di izinkan mengunjungi anaknya dan di izinkan satu kamar beda tempat tidur. Haduh ... mendadak jadi merenungi nasib, ia lalu duduk di sofa yang ada di tempat tersebut sambil memikirkan siasat apa nanti saat bertemu sang istri.
Adhisti dan Endaru duduk di salah satu bangku taman tepat di bawah pohon yang rindang mereka berbicara masalah serius tentang pernikahan mereka kenapa harus bersembunyi jika melihat secara langsung saja bisa saling melengkapi dan memahami.
__ADS_1