Istri Yang Disimpan

Istri Yang Disimpan
12. Jangan


__ADS_3

...SELAMAT MEMBACA...


Adhisti kemudian kembali ke tempat semula itu duduk yaitu sofa empuk di kamar Endaru.


'Hah ... memang yang paling nyaman sofa ini untuk beristirahat, sudah seharian gak ada kerjaan dan bosan sekarang ada tekanan tapi juga bosan.'


Endaru menatap tidak suka, kenapa ia tidak naik ke atas ranjang ini. Padahal banyak sekali wanita yang ingin tidur di sampingnya meski tidak mendapatkan cinta sedikitpun dari dirinya.


'Sepertinya aku kurang menarik hati? Apa dia lebih suka laki-laki buruk rupa? sepertinya iya!' Menerka-nerka saja Endaru.


Endaru hanya berandai-andai jika dirinya berubah total dari penampilan menarik jadi biasa-biasa saja bahkan jauh dari kata menarik untuk di pandang mata. Botol yang ia pegang lalu di buka dan mencium aromanya, lalu ia berjalan di dekat lemari kaca tersebut yang sudah ada gelas berbentuk balon yang ada tangkai dan kakinya atau gelas red wine yang ada di tempat tersebut. Endaru menuang wine tersebut lalu menggoyangkan wine itu dan mencium baunya seperti apa sebelum iya minumnya, ternyata aroma yang keluar dari wine tersebut keluar usai menggoyangkannya .


"Benar-benar seperti hidup ya rasanya." Endaru merancau tapi ia tidak mudah mabuk jika hanya mencicipi sedikit seperti ini, justru jika sedikit ia akan merasa mual dan tidak enak badan sebab ia sudah lama tidak meminumnya.


"Gadis ini, kenapa bisa tidur dengan nyenyak bahkan tubuh mungilnya ini. Kenapa bisa sangat menggoda?" Endaru menyingkap selimut Adhisti.


Adhisti terkejut saat Endaru menyentuh pahanya.


PLAK.


Tamparan mendarat di pipi Endaru.

__ADS_1


"Aw ... dasar gadis sialan." Endaru hampir membuat Adhisti kehilangan nyawa sebab ia mencekik leher Adhisti.


Endaru tersadar akan perbuatannya dan melepaskan tangannya dari leher Adhisti.


"Maaf," permintaan maaf Endaru membuat Adhisti terkejut bukan main, seorang Endaru bisa berucap sedemikian ajaibnya.


"Tuan, tidak seharusnya meminta maaf. Saya yang salah tuan, karena telah menampar anda secara tiba-tiba karena ... saya terkejut sekali tuan." Adhisti menundukkan kepala lalu ia mengangkat kepalanya dan menatap wajah Endaru secara intens.


Kecupan singkat mendarat di pipi kiri Endaru yang terkena tamparan.


'Ck gadis ini sedang merayuku, tapi kenapa rayuan ini membuat wajahku memanas.' Endaru menyentuh pipinya.


"Aduh ... takut, ampun tuan," Adhisti menyembunyikan wajahnya di antara kedua kakinya sambil berpura-pura ketakutan.


"Enggak ... kamu harus bertanggung jawan Adhi." Endaru membuka selimut Adhisti yang tengah melingkar di bawah selimut.


'Kenapa sekecil ini saat mengeratkan tubuhnya, pasti saat aku keluar dengannya dikira pedofil lagi, rumput tua suka yang muda.' Endaru menyentuh leher Adhisti dan ternyata tempat itu area sensitif dan membuat Adhisti kegelian.


"Ampun ... ampun ... geli tuan, aa ... ha ... ha ...." Ia tertawa terpingkal-pingkal sekarang, Endaru yang menjahili Adhisti ikut tertawa juga.


Untung kamar ini kedap suara jadi orang yang berada di luar ruangan tidak mendengar suara tawa baik itu Endaru maupun Adhisti jadi aman-aman saja.

__ADS_1


"Sudah tuan, ampun." Adhisti yang tidak kuat dengan godaan Endaru dan menyebabkan area bawahnya tambah deras saja dan penuh sekali, Adhisti beranjak pergi.


"Mau kemana kamu?" Endaru menatap kaki mungil Adhisti.


"Sudah bocor tuan, saya harus ganti ini dulu!" jawab Adhisti sambil tersenyum.


"Ya sudah sana-sana cepat di bersihkan." Usir nya yang sudah tidak tahan jika ada darah, ia teringat darah milik Adhisti yang menempel di pahanya kemarin.


Adhisti menatap tubuhnya, lalu ia memutuskan mandi sebab badannya lengket dan tidak nyaman untuk tidur. Sebelum mandi ia lupa membawa handuk dan hanya ada handuk pinggang milik Endaru, sejak kapan ia lupa menyiapkan kebutuhan ini. Sepertinya harus mengurangi beban pikiran yang tidak ada untungnya dan lebih baik berpikir bagaimana untuk membuat Endaru jengkel dan melepaskan dirinya untuk selama-lamanya.


Selesai mandi.


"Hah ..., maaf tuan." Adhisti terkejut begitu juga Endaru.


Endaru mendekati Adhisti, Adhisti yang mendapat perlakuan seperti ini panas dingin dan membuat aliran darahnya keluar begitu deras.


"Tuan ... stop." Adhisti menyentuh kepala Endaru. Endaru hanya tersenyum.


...BERSAMBUNG...


...Jangan lupa tekan love, like dan bintang 5 ya biar semakin giat dan semangat Emak ngetiknya ya....

__ADS_1


__ADS_2