Istri Yang Disimpan

Istri Yang Disimpan
27. Hati atau galon


__ADS_3

...SELAMAT MEMBACA...


Adhisti keluar dari kamar dan enggan menatap kamar itu seusai menutup pintu. Rasanya nyawa milik Adhisti berterbangan dan tidak mau kembali lagi ke tempat semula.


Nita yang melihat Adhisti turun langsung menghampirinya.


"Mbak Adhi." Nita tersenyum sambil membantu Adhisti berjalan.


"Mbak Nita, jika nanti ada istrinya tuan Endaru yang sesungguhnya. Kamu harus perlakukan dia dengan sangat baik ya, seperti kamu memperlakukan saya seperti ini sekarang," Adhisti memberi amanah dan langsung membuat Nita bungkam dan tidak dapat berbicara apa-apa lagi.


"Mbak Adhi bicara ngelantur ya, jangan bercanda mbak gak lucu." Nita menampilkan senyum jenakanya.


Tapi Adhisti semakin bersedih, Nita seperti kakak baginya sekarang.


"Saya tidak bercanda mbak Nita, saya serius," Adhisti tergopoh-gopoh berjalan ke arah kursi ruang keluarga.


'Apakah sebercanda ini takdir hidupku, bahkan aku saja yang menjalaninya tidak paham sampai detik ini.'


Adhisti menatap seluruh penjuru rumah, pasti ia akan sangat-sangat rindu dengan suasana ini. Suasana di mana hanya ada kesunyian tanpa ada orang yang berbicara jelek mengenai dirinya.


Nita terkejut dengan perkataan Adhisti.


"Tapi, apa masalahnya? kenapa mbak Adhi berucap demikian?" Nita jadi bingung sendiri di buatnya.


"Ini kenyataan yang ada mbak Nita, dia kembali dan saya harus pergi dari sini. Lagian kita berdua belum punya buku nikah, jadi bisa pergi kapan saja sesuai keinginan masing-masing!" jawaban Adhisti memang benar adanya.


"Apa Pak bos mengizinkan anda pergi mbak Adhi?" lagi-lagi pertanyaan yang membuat bingung Adhisti.


"Tidak tau, yang saya tau dia tidak menginginkan saya!" Adhisti duduk di sofa ruang keluarga berwarna abu-abu putih, begitu juga Nita.

__ADS_1


Nita hanya menganggukkan kepala, entah dia paham atau tidak. Adhisti sedikit lega sudah berbicara seperti ini pada Nita, setidaknya saat hari itu tiba ia tidak bingung lagi berbicara seperti apa pada Nita, di tambah lagi Nita orang yang super cerewet saat sudah lepas kontrol saat berbicara.


Endaru sedari tadi mendengar keluh kesah Adhisti tentang masa depannya di rumah dan hatinya.


'Aku akan membuka hatiku Adhi, bantu aku secara perlahan untuk meyakinkannya lagi.' Endaru berucap dalam hati.


Terdengar kurang gentleman tanpa berani berucap secara langsung di depan orangnya.


"Adhi." Panggilnya langsung membuat Adhisti dan Nita terkejut, bahkan Nita tidak sempat berdiri dan masih duduk di samping Adhisti atas permintaannya sejak awal menjadi asisten pribadi Adhisti di tempat ini.


"Tuan," Adhisti berdiri dan memberi hormat pada Endaru.


"Saya ingin berbicara berdua dengan Adhi, tolong ya Nita." Endaru meminta izin.


"Silahkan Pak bos, saya permisi dulu," Nita beranjak pergi sedangkan Adhisti mati gaya di tempat.


Percakapannya dengan Nita barusan di dengar semua atau sebagian, terus harus bersikap seperti apa sekarang diam atau bagaimana. Adhisti bingung sendiri, tau begini ia tidak berbicara panjang lebar pada Nita.


Endaru menganggukkan kepalanya.


Adhisti hanya mampu menatap jari jemarinya dan tidak mampu menatap wajah tampan Endaru.


"Bantu saya Adhi." Endaru menggenggam erat jari jemari Adhisti.


Rasanya getaran hati masuk begitu saja, seperti pertama kali masuk ke tempat tak berpenghuni seperti rumah kosong atau Rumah Sakit kosong yang sudah lama tidak di tempati.


Dag


Dig

__ADS_1


Dug


"Bantu apa tuan? dan kenapa wajah anda begitu dekat dengan saya." Adhisti memundurkan wajahnya.



Cup


Satu kecupan mendarat di bibir Adhisti.


Adhisti mengerjab-ngerjabkan matanya, seraya tidak percaya dengan tindakan Endaru barusan. Mimpikan? atau hayalan?


"Bantu saya untuk mengisi hati saya yang kosong seperti galon tanpa ada air di dalamnya Adhi," jawaban Endaru lucu sekaligus aneh.


Sejak kapan ada gombalan seperti ini, galon pula di sangkut-sagkutkan. Kasihan sekali galon jadi korban hatinya yang kosong.


"Puft ..., apa tuan sadar dengan ucapan anda?"


Endaru menganggukkan kepalanya.


"Baik, jika saya bisa mengisi hati tuan seperti air galon maka saya akan bantu tapi sedikit saja ya."


"Ko sedikit? apa tidak mau sampai full isinya," Endaru menggelitik perut Adhisti.


Mereka tertawa bersama, rumah ini terasa ramai jika ada suara-suara yang sudah lama sunyi tak berpenghuni.



__ADS_1


...BERSAMBUNG...


......Ayo dong ramaikan karya Emak, dengan cara kasih hadiah dan vote seikhlasnya ya. Terimakasih......


__ADS_2