Istri Yang Disimpan

Istri Yang Disimpan
58. Pertemuan


__ADS_3

...SELAMAT MEMBACA...


Endaru tersenyum kecut saat ia memasuki rumah megah milik Akasha.


'Kalah tajir nih jadinya, pantesan banyak yang nempel seperti lem.'


Ryan sudah biasa meski ia tidak sekaya Endaru atau Akasha baginya sudah cukup mengelilingi rumah-rumah mewah. Banyaknya pekerjaan yang ia pegang membuat ia selalu melakukan visi misi, baik jadi tukang bersih-bersih atau satpam dan lainnya.


"Endaru, Lo yakin jika Adhi ada di tempat ini? bukannya Akasha punya banyak apartemen dan juga mansion dan vila." Ryan banyak berbicara.


"Diam, gue pusing ini," Endaru mulai panik saat ada beberapa body guard dan penjaga mengikutinya dari tadi.


Adhisti duduk di depan meja rias dan sedang di dandani oleh MUA ternama.


'Seperti mau menikah saja di dandani seperti ini.'


"Mbak bolehkan saya bertanya?" Adhisti menatap MUA dari pantulan kaca.


"Tanya apa mbak, tentang riasan! apa ada yang salah dengan keterampilan saya merias wajah?" malah balik menanyai.


"Tidak ada, cuma ini mau ada acara apa." Sambil menunjuk dress yang sangat cantik yang berada di dekat MUA.

__ADS_1


Sang MUA tersenyum.


"Supaya mbak lebih fresh dan cantik," jawaban yang terdengar merendahkan sekali di telinga Adhisti.


'Ya iyalah gak fresh lagi, wong sudah gak gadis ko. Pasti hawanya gak fresh meski dandan pakai ini itu kecuali yang kulit sejak lahir bagus dan sehat.' Adhisti membantin dan memanyunkan bibirnya.


Endaru tersenyum kecut saat melihat mantan istri yang di lepas semalam, dia terlihat sangat cantik sekali padahal kemarin-kemarin juga cantik.


"Kenapa kesini?" Semakin berani saja ternyata.


"Cuma memastikan saja, jika kamu tidak di permainkan dia!" Menunjuk bingkai foto besar yang terpajang di salah satu dinding ruang pribadi.


Benar apa yang di bilang Adhisti, memang dirinya tidak baik saat kesan pertama tapi setidaknya ia tidak main wanita sana sini.


Endaru mati gaya.


"Ya sudah jika baik-baik di sini." Hendak pergi namun sang pemilik rumah datang.


"Kenapa terburu-buru Bapak Endaru?" sok manis di depan semua orang padahal dalam dunianya sendiri dia kejam tanpa perasaan apalagi menyangkut bisnis.


Endaru membalas dengan senyuman.

__ADS_1


"Saya hanya memastikan Adhi baik-baik saja dan tidak di sakiti!" Endaru kembali duduk padahal rumah ini hawanya sudah tidak tenang seperti ada makhluk halus.


"Dia aman di tempat ini dan saya jamin tidak ada yang lecet sedikitpun, tidak seperti di tempat anda." Sindiran yang langsung ngena ke hati.


JELEB.


"Baik kalau bapak bisa di andalkan menjaga Adhi, kalau begitu saya pamit dulu," tanpa meminum minuman yang ada.


Ryan juga ikut bergegas, tugasnya sekarang terus mensuport Endaru agar ia semangat dan bangkit lagi membantu perusahaannya yang hampir rata dengan tanah sebab ulah orang yang tidak suka dengan dirinya.


Setelah kepergian Endaru dari tempat ini Adhisti sedih sekali, apa benar-benar tidak ada artinya dirinya di dalam hati Endaru. Rasanya sakit sekali saat mencintai orang tapi orang itu tidak membalas perasaan, ya jika dia punya pasangan itu wajar jika tidak kenapa tidak memberinya cinta justru luka yang di berikan.


'Mencintai orang sendirian itu seperti orang mau tenggelam ke lautan namun masih ada pelampung di badan, setengah badannya sudah tenggelam di air tapi setengahnya lagi masih di udara, sedangkan pelampung itu cinta yang menyelamatkan dunianya. Tapi jika pelampung ini di biarkan terus menerus akan kempes dan tidak dapat di gunakan lagi dalam artian orang akan tenggelam, tapi berbeda dengan orang yang bisa berenang dan mencari bantuan, pasti selamat.' Adhisti hanya membatin saja.


"Mencintai dia?" to the points sekali pertanyaan Akasha.


"Iya Om, kalau begitu izinkan saya pergi hari ini!" menunjukkan selembar cek yang ia pegang.


"Saya hantar." Menawarkan diri.


"Tidak perlu, terimakasih sudah menampung saya tadi malam dan atas makanannya. Nanti kalau uangnya sudah cair saya ganti," Adhisti tersenyum lebar, ia pikir dirinya akan sulit keluar dari tempat ini nyatanya begitu mudah.

__ADS_1


__ADS_2