
...SELAMAT MEMBACA...
"Maafkan Papa Aru." Malik bersalah sangat-sangat bersalah akan hal itu.
"Sekali lagi saya dengar anda menyebut nama saya dengan sebutan itu, saya tidak akan pernah datang lagi ke rumah ini. Panggilan Aru hanya almarhum Mama yang boleh menyebutnya," Endaru beranjak pergi dengan malas dan pikiran yang sudah kacau balau bahkan berantakan di seluruh tubuh dan hatinya.
"Nak, apa kamu tidak ingin makan malam dulu dengan Papa? Papa rindu sekali." Ucap lirih Malik saat menatap punggung putranya yang sudah menjauh pergi.
Endaru tak bergeming, ia melanjutkan langkah kakinya dan pergi keluar dari rumah ini.
Pikiran dan hatinya masih memendam amarah pada sang Papa, meski sudah memaafkan sejak lama tapi ingatan itu masih membekas ibarat kata menancapkan paku di dinding lalu di cabut dengan paksa pasti akan membekas bekas dari paku tersebut.
Tes, Endaru mengusap air mata yang sedikit turun di pelupuk matanya. Apakah sedih jika di tanya, tentu iya jawabnya. Kenapa takdir seperti ini dan ujiannya kapan hari bahagia itu datang, semenjak Mamanya tiada harinya sudah hancur dan suram, semua itu gara-gara dia.
•
•
Endaru segera masuk ke dalam mobil, untung saja body guard atau kedua pengawalnya mengikuti dirinya dengan mobil yang berbeda.
__ADS_1
"Dasar pria brengse* bandit tua. Sial ... sial ... sial ...." Endaru mengumpat berkali-kali sambil memukul stir mobilnya.
Ucapan Mamanya saat masih hidup selalu ia terapkan dalam hidupnya, untuk menghormati orang tua.
Malik yang meratapi kepergian putranya, ia sebenarnya sangat ingin memeluk Endaru lagi seperti dulu. Tapi takdir belum berpihak padanya, ini adalah karma yang ia terima dari perbuatannya.
Pukul 22.45 WIB
Endaru menatap ke seluruh penjuru ruangan, sepi tidak ada orang hanya beberapa orang yang berkerja malam sisanya mungkin istirahat di belakang rumah dan taman kediaman ini.
"Nita, kemana dia?" Endaru membuka kamarnya.
Endaru membuka pintu kamarnya.
•
•
Endaru menatap sofa dan ternyata si mungil sudah tidur dengan sangat anggun dan cantik sekali. Dengan sigap iya mengendong tubuh mungil wanitanya, memang beberapa waktu ini Endaru terasa nyaman dan hangat saat berdekatan dengan Adhisti.
__ADS_1
Endaru meletakkan tubuh mungil Adhisti di tempat tidur, rasanya ingin sekali memakan Adhisti saat dia menggeliat dan menunjukkan kakinya yang mulus dan bersih itu.
Saat di dalam kamar mandi ia langsung menyalakan shower dan mengguyur tubuhnya yang masih berbalut dengan kemeja kerjanya. Ia menunduk sambil menatap rintikan air yang keluar, seperti ini hidupnya selalu jatuh dan jatuh lagi tanpa ada yang mau menerima dan menampungnya dalam suatu tempat seperti wadah dalam hati.
"Benar-benar membuat orang ***** mendadak jika terus-terusan seperti ini. Lebih baik besok menyuruh orang untuk membelikan baju lebih tertutup lagi." Endaru segera menuntaskan hasratnya sendirian lalu ia mandi.
Handuk sepinggang menghiasi tubuh bagian bawahnya, terlihat sangat menggoda mata. Adhisti yang mendengar Endaru keluar dari kamar mandi setelah mandi panjangnya yang lama.
Adhisti berpura-pura tidur tapi malah ketiduran di tempat tidur Endaru. Pagi-pagi ia merasakan sesuatu yang pernah ia sentuh secara tidak sengaja, tapi ia mengganggap itu hanya bunga tidur saja dan melanjutkan tangan nakalnya.
"Sebegitu nikmatnya ya menyentuh dadaku." Endaru menatap Adhisti sambil tersenyum.
Adhisti tersadar langsung membalikkan tubuhnya dan bersembunyi di balik selimut putih tebal.
'Haduh malunya aku, sampai ke anak cucu ini.' Adhisti membuka pelan selimutnya dan langsung tancap gas ke kamar mandi.
Endaru tertawa lepas saat melihat ke konyolan Adhisti yang bahkan kepalanya menatap pintu kamar mandi dengan kerasnya.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1
...Dukungannya ya jangan lupa, biar Emak semakin semangat up nya. Terimakasih sudah meluangkan waktu membaca karya Emak....