Istri Yang Disimpan

Istri Yang Disimpan
87. Malam pengantin tidak harus +


__ADS_3

"Aduh ... aduh ... ampun sayang, kamu jangan gini dong katanya kakinya bengkak. Mau aku sentuh kakinya atau tempat yang lain." Bercandanya kelewatan sampai Adhisti berhenti seketika.


"Kakiku," hendak menangis sebab kakinya masih berdenyut ngilu sepertinya ada cairan di beberapa ujung jari kakinya.


"Kenapa? sakit yang mana." Panik juga Endaru.


Ia melihat kaki Adhisti yang benjol dan mulai keluar cairan di dalamnya, pasti sakit sekali saat mulai pembengkakan dan mengeluarkan cairan jika meletus atau sobek pasti aduh ... sakitnya gak ketulungan di tambah lagi saat kena air jelas sakitnya luar biasa saat di buat jalan.


Endaru meniup-niup kaki Adhisti, bukannya malah membaik yang terjadi justru sebaliknya bertambah sakit dan perih bagian yang mulai mengembung dan berisi cairan bening.


"Stop ... stop Aru, jangan di tiup lagi. Tambah perih lukanya." Menghentikan kegiatan Endaru.


"Beneran tambah perih?" serasa tidak percaya.


"Iya!" sambil mengalihkan kakinya menjauh dari Endaru.


"Mau kemana, sayang." Endaru juga terperanjat untuk siap siaga mendampingi Adhisti.


"Mau ke toilet, kebelet buang air kecil," berjalan pelan-pelan padahal ia sudah tidak tahan ingin buang air kecil, terpaksa berjalan hati-hati untuk ke kamar mandi.


"Aku bantu ya, sepertinya kamu kesusahan sayang untuk ke kamar mandi." Menawarkan diri.


"Tidak usah," tangannya mengisyaratkan menolak.

__ADS_1


"Baiklah, hati-hati sayang jalannya takut lantai kamar mandi licin." Melambaikan tangannya.


Adhisti segera masuk ke dalam kamar mandi, sakit ternyata buat ke kamar mandi di tambah lagi saat terkena air pedih rasanya.


Malam ini bukan menjadikan malam terpanjang untuk sepasang pengantin justru sebaliknya malam yang penuh dramatis, kaki gak bisa kesenggol saat terkena selimut Adhisti langsung terbangun dan membuat goncangan di tempat tidur.


"Sakit banget lagi." Adhisti kebingungan dengan rasa nyeri di kakinya.


"Kita pergi ke Rumah Sakit ya," menawarkan Adhisti pergi ke tempat itu.


Adhisti menggeleng.


"Kenapa?"


"Gak nyaman atau mau malam pertama dengan aku nih." Godanya sambil mencolek dagu Adhisti.


"Apaan sih enggak ya, lagian udah pernah malam pertama juga ya ... kalau sekarang terjadi sudah beda namanya bukan malam pertama sebab orangnya masih sama, tapi kalau pasangannya beda baru malam pertama bagi pengantin," jelasnya terdengar panjang lebar dan tegas di telinga Endaru.


Endaru membayangkan jika dunia pernikahannya terbalik, ia yang harus mengandung buah hati dan dirinya jugalah yang harus merawat rumah dan mengerjakan semua pekerjaan rumah, sedangkan Adhisti yang berkerja. Enggak ... enggak jangan sampai itu terjadi, bisa-bisa rumah jadi kacau balau di buat oleh dirinya sendiri.


"Jadi beneran gak ada ehem nya gitu malam ini?" Endaru pura-pura sedih.


Adhisti tau jika suaminya sedang pura-pura bukannya meladeni justru Adhisti membiarkannya, lagian capek banget hari ini terus ngapain harus malam pertama. Tapi ... jika mendadak di talak malam ini bagaimana, oh ... no ... tidak tidak ini tidak boleh sampai terjadi.

__ADS_1


"Ya sudah, ayo lakukan Aru. Aku bisa menahan rasa sakit di kakiku ini." Membuka pakaian atasnya namun Endaru menghentikan kegiatan Adhisti yang sudah di tengah jalan.


"Jangan," sambil menggelengkan kepalanya.


"Kenapa? aku tidak mau kamu talak Aru. Sebab aku menolak permintaan suamiku." Tertunduk sedih.


Endaru menangkup kedua pipi Adhisti dan menatap matanya dalam-dalam dengan penuh cinta dan kasih sayang yang begitu melimpah.


"Adhi, jangan bilang lagi dengan kata-kata talak itu Adhisti. Kamu tau, kamu adalah wanita yang aku perjuangkan. Tidak mungkin aku akan melepasmu begitu juga kamu yang tidak akan mungkin juga meninggalkan aku, jadi jangan berpikir yang negatif ya. Aku tidak meminta sekarang, sebab aku tau jika meminta hal seperti ini bukannya harus dengan cara baik dan tidak merampasnya, aku tidak mau kamu terluka dan aku terkesan seperti orang pemerko5a saja. Pahamkan sampai sini?" Endaru melepas tangannya dari pipi Adhisti.


Adhisti sampai terharu air matanya tidak dapat terbendung lagi bahkan kini sudah mengalir deras di kedua sudut matanya.


"Eh, kenapa menangis sayang. Kenapa?" mengusapnya bergantian.


"Kamu benar-benar jadi panutan dan pimpinan yang harus aku ikuti, Aru!" masih sesenggukan ia bicara.


"Iya, aku juga ingin melihat istriku ini menutup badannya dan auratnya." Sebuah permintaan tulus dari dalam hati.


"Iya Aru, aku juga ingin. Aku hanya ingin suamiku saja yang melihat bagaimana diriku ini, berias hanya untuk suamiku dan memakai wangian hanya untuk suamiku. Bantu dan bimbing aku ya Aru," tersenyum sambil memeluk erat tubuh suaminya.


"Baiklah, ayo kita sama-sama menuju jalan yang benar ke Surganya Allah."


Adhisti sungguh tidak menyangka mendapatkan Endaru sebagai suaminya, ia melengkapi hidupnya dan juga mengajarkan dirinya menjadi lebih baik lagi dan yang paling menyenangkan ialah sama-sama menuju ke jalan yang baik dan benar serta senantiasa memperbaiki diri.

__ADS_1


__ADS_2