
...Selamat membaca di karyaku yang baru ini semoga betah....
...SELAMAT MEMBACA...
"Tuan ... apa benar saya harus menyuapi anda sekarang?" Adhisti merasa sangat malas.
'Tuhkan gak di jawab lagi, benar-benar menyebalkan dan membuat malas orang bergerak saja.'
"Saya tidak suka mengulangi ucapan, ayo suapi sekarang jika tidak saya akan habisi kamu sekarang di sini di tempat ini juga." Ancamnya berbisik.
"Maaf Tuan," Adhisti mulai menyuapi satu sendok ke mulut Erdana.
Baru kali ini ia merasakan nikmat dari makanan yang ia makan, ternyata seperti ini rasanya di suapi seorang wanita dalam hidupnya. Andai Ibunya masih ada di dunia ini, tapi Sang Maha Pencipta begitu sayang padanya dan mengambilnya lebih dulu sebelum Endaru tumbuh besar dan mengetahui kasih sayang yang ibunya berikan.
"Ini hukuman karena kamu berani mau kabur dari rumah ini kemarin, meski kamu tidak menemukan pintu rumah ini."
"Apa salahnya jika saya mencari pintu rumah ini, saya juga ingin menginjak rumput yang ada di depan rumah. Lihat apa kamu tidak kasihan dengan telapak kakiku yang sudah mulai pecah-pecah karena tidak pernah menginjak tanah," Adhisti memperlihatkan kakinya.
Memang benar kakinya sedikit pecah-pecah, tapi memang ini sengaja Adhisti buat. Beberapa hari ia tidak menggunakan alas kaki atau sendal ia lebih memilih kakinya langsung terkena lantai licin ini supaya segera pecah-pecah kulit di telapak kakinya.
'Wanita ini sedang mengujiku ternyata, jika aku izinkan seperti apa senangnya dan apa yang aku dapatkan.'
__ADS_1
"Jika di izinkan keluar, apa yang aku dapat dari kamu ini?" Endaru menyentuh ujung rambut Adhisti.
"Em ... dapat imbalannya nanti saat saya boleh keluar, setuju tidak!" Adhisti memperlihatkan jari kelingkingnya untuk berjanji.
"Baik saya setuju tapi ingat jangan melanggar janji." Dengan mudah Endaru mengiyakan.
Sedangkan Adhisti bahagia sekali sampai-sampai ia kegirangan di atas pangkuan Endaru.
DDRREETT
DDRREETT
"Hallo, ada apa?"
Seseorang di balik telpon meminta uang yang sudah di sepakati waktu itu. Adhisti meremas kuat lengan Endaru, Endaru yang paham dengan sinyal ini langsung mematikan ponselnya secara sepihak.
"Kenapa? sakit hati?" Endaru memancing pertanyaan yang sangat menyebalkan sekali.
"Tidak!" dengan gelengan kepala. "Tapi saya mohon, apa boleh tidak usah memberikan uang sedikit pun untuk dia." Adhisti menekuk wajahnya ia nampak murung dan kecewa jika mengingat orang yang ia cintai dengan tulus tapi berhianat.
"Ternyata istriku meminta ini, baiklah saya sebagai suami yang penuh tanggung jawab tidak akan memberikan dia uang secuil pun," mencium dahi Adhisti dengan lembut.
__ADS_1
Secara otomatis wajah Adhisti memerah dengan perilaku Endaru yang romantis dan sepertinya tulus tapi entah beberapa detik yang akan datang, sepertinya kembali sombong dan semena-mena.
"Aku kenyang, pergilah dengan Nita keluar rumah. Tapi ingat sebentar saja, setelah itu masuk ke kamar saya." Endaru membiarkan istri mungilnya itu pergi jalan-jalan sebentar di sekitar rumah ini.
"Terimakasih suamiku," memberikan kecupan singkat di dekat bibir Endaru.
Endaru terkejut dengan tingkah lucu istri mungilnya ini, ternyata dia juga bisa menyenangkan hati jika di perlakukan baik.
'Sepertinya aku mulai nyaman dengannya, ya sudahlah jalani saja dulu jika cocok di lanjutkan saja jika tidak aku bebaskan saja dia.' Endaru menaiki anak tangga dan menuju ke dalam ruang kerjanya.
Banyak pekerjaan yang harus ia tangani beberapa hari ini, belum lagi besok ia harus menikah secara sah di Negara ini dengan wanita yang baru ia temui belum ada 2 minggu umur pertemuannya.
"Apa ini keputusan yang tepat? jika nanti aku .... Hah, sudahlah jalani saja dari pada pusing sendiri." Gumam lirih Endaru sambil mengecek berkas-berkas yang sudah siap di meja kerjanya.
Sedangkan Adisti bisa tersenyum lebar saat ia keluar, ternyata benar pintunya di balik vas bunga tapi entah bagaimana Nita memencetnya dan langsung bisa keluar, sepertinya hanya orang-orang khusus dan kepercayaan yang bisa keluar masuk rumah ini.
'Kalau begini caranya tidak dapat keluar sendiri dari rumah ini, terus saat sudah keluar juga tidak dapat masuk lagi. Pusing sendiri aku dengan orang kaya ini, apa tidak sayang beli peralatan seperti ini. Aku juga tau semua perabot rumah ini mahal tapi masa iya harus di isolasi juga, rasanya benar-benar di penjara dalam kastil.'
...BERSAMBUNG....
...Ayo dukungannya biar makin giat up nya dan terimakasih jejaknya....
__ADS_1