
...SELAMAT MEMBACA...
BRAG
"ARU." Teriak Adhisti yang ketakutan bukan main.
Sejenak kehidupan berhenti dan tidak bergerak, Adhisti menatap nanar tubuh Endaru dan rasanya tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
MEEOONNGG
Adhisti mengerjab-ngerjab kan matanya, tidak salah lihat ada seekor kucing terbang di depannya lantaran ada yang membuangnya dari gedung tinggi sekitar 4 lantai. Suara kucing yang melemah di atas mobil Endaru, sepertinya kucing itu tidak mati cuma terkapar tidak berdaya.
"Adhi ..., aku nabrak kucing bukan nabrak tapi ada kucing yang jatuh di atas mobil?" Endaru merasa sangat bersalah dan juga panik sendiri.
Adhisti menganggukkan kepalanya.
"Bagaimana ini Adhi, bagaimana ini." Mengguncang badan Adhisti sampai Adhisti pusing.
__ADS_1
"Ya harus tanggung jawab Aru, pamali loh jika menabrak kucing gak tanggung jawab apalagi jika kucingnya sampai mati dan gak tanggung jawab katanya tuh bisa ...," belum selesai bicara mulut Adhisti di bungkam rapat oleh Endaru
"Hust ... jangan di lanjutkan, nakut-nakutin aku aja kamu ini Adhi." Keringat dingin membanjiri wajah Endaru dan ia segera keluar dari mobil dan menyelamatkan kucing itu.
Adhisti ingin keluar tapi Endaru sudah kembali masuk ke dalam mobil sambil membawa kucing yang ternyata berlumuran darah bahkan pakaian Endaru banyak bercak darah.
"Aru itu." Menunjuk bercak darah.
"Tidak apa-apa meski rasanya mau muntah, demi tanggung jawab Adhi, ayo ke Dokter hewan sekarang juga," menginjak pedal gas dan langsung berangkat menuju rumah sakit hewan terdekat jika ada atau sejenisnya yang penting bisa menyelamatkan hewan ini lebih dulu soal pingsan sebab darah ia tahan semoga gak pingsan di jalan, karena ada nyawa yang harus ia jaga selain kucing dan juga orang yang paling ia cintai dan sayangi.
"Semoga baik-baik saja kucing itu." Endaru mondar-mandir di depan ruangan pemeriksaan ia tidak berani masuk ke dalam.
Adhisti duduk termenung, ia juga berdoa semoga ya tidak terjadi apa-apa pada kucing itu, kasihan sekali jika nyawanya tidak tertolong padahal ia tidak bersalah sama sekali.
Ceklek
Seorang Dokter hewan menghampiri Endaru.
__ADS_1
"Dok bagaimana, bisa selamat tidak kucing itu?" Endaru berharap kucing tersebut masih hidup.
"Bisa selamat, tapi untuk sementara kucing itu di rawat dulu di tempat ini. Jika sudah sembuh baru boleh di bawa pulang dan di rawat di rumah.
Endaru sangat bahagia dengan kabar ini, syukurlah jika kucing itu selamat begitu juga dengan Adhisti juga gembira mendengarnya.
"Dok bolehkah saya melihatnya?" Endaru sedikit menengok ke arah pintu tempat kucing tersebut di rawat.
"Boleh-boleh silahkan!" jawaban sang Dokter.
Endaru dan Adhisti langsung masuk dan melihat keadaannya seperti apa.
"Kasihan sekali kamu, harus di bantu infus dan juga kaki kamu patah." Endaru tidak berani menyentuhnya sebab ia sangat kasihan pada kucing itu.
***
Maaf sebelumnya jika up sering telat, karena Emak sakit ya. Mohon doanya semoga lekas sembuh dan bisa menulis lagi seperti biasanya, terimakasih banyak ya sudah berkenan mampir dan memberi semangat.
__ADS_1