
Adhisti yang sudah tidak tahan langsung merebut kotak tersebut dan memakan roti itu dengan lahapnya.
"Apa gak ada acara suap-suapan nih?" goda Endaru yang sudah tertawa terpingkal-pingkal sendiri saat melihat wajah Adhisti yang sudah bersemu merah.
"Enggak ada!" langsung menyendok makan dan masuk ke dalam mulut.
Endaru sangat gemas dengan pipi Adhisti yang menggembung saat makan, tambah cantik dengan wajah juteknya itu. Ia membayangkan jika Adhisti ngomel-ngomel lagi dan lagi, benar-benar hiburan tersendiri baginya.
Tok
Tok
Tok
"Masuk." Endaru seperti biasa lagi wajah dingin cuek dan yang pasti aura kepemimpinan yang kuat melekat pada tubuhnya.
Adhisti terpesona begitu juga dengan wanita yang sedang memberikan berkas padanya.
"Ini pak berkas yang bapak minta." Ucap wanita yang dari salah satu bidang pemasaran.
"Iya terimakasih, silahkan," menunjukkan pintu keluar.
Wanita tersebut beranjak pergi meski sedikit kesal saat ia tiba-tiba harus pergi dan itu semua gara-gara wanita yang sedang makan di sofa dengan gaya sok genit di depannya. Adhisti tersenyum sambil sedikit melambaikan tangannya.
Endaru berjalan mendekati Adhisti.
__ADS_1
Cup
Tiba-tiba Endaru mencium pipi Adhisti begitu saja, Adhisti berhenti memakan coklat itu saat tau diam-diam ternyata pipinya di curi seseorang yang tadinya ia pikir masih berkerja usai mendapatkan berkas tersebut.
"Aru, dasar pencuri." Memukul pelan lengannya.
"Gak apa-apakan, lagian kamu pacar aku calon istri aku," tersenyum sangat lebar.
"Terserah deh, biar kamunya senang dan bahagia. Terus kelanjutan hubungan ini apa Aru, gak mungkinkan kita cuma gini-gini aja sampai nanti?" Adhisti sebagai wanita tidak mau di gantung seperti jemuran.
Adhisti memang sedikit membahas tentang kejelasan hubungan ini, gak apa-apa orang berpikiran jika dirinya seperti wanita gak bener alias seperti wanita murahan. Sebenarnya ia juga gak mau ko bersikap demikian seperti menjatuhkan harga diri sendiri, tapi mau bagaimana lagi jika masalah ini tidak di bahas pasti dirinya akan segera di pinang orang lain dan orangnya jauh lebih baik lagi dari pada Endaru.
Sore hari.
Endaru terpaksa datang ke rumah Papanya dan membawa Oma Melati dan juga Adhisti.
"Tidak apa-apa Oma!" senyum di paksakan.
Genggaman tangan Endaru pada Adhisti sangat erat bahkan ia enggan untuk melepasnya. Melati merasa seperti orang ketiga dalam hubungan ini bagaimana tidak tangannya merangkul lengan cucunya sebelah kiri sedangkan yang kanan milik Adhisti.
Melati melepas pelukannya dan lebih memilih berjalan dengan tongkatnya meski keadaan kakinya tidak ada masalah sama sekali saat usia senja seperti sekarang.
Endaru menatap Omanya.
"Kenapa di lepas Oma?" jadi bingung sendirikan.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Dekil, takut ganggu jadi nyamuk dan orang ketiga!" jawabnya acuh dan berjalan lebih dulu.
Endaru mencerna kata-kata Omanya begitu juga Adhisti ikut terheran-heran mendengar jawaban Oma yang sedang naik daun perkataan itu orang ketiga maksudnya.
'Dasar para anak muda, jalannya lelet kalah Cepet sama nenek-nenek tua sepertiku. Cemen ....' Melati segera masuk ke dalam rumah dan langsung di sambut oleh sang putra.
"Ma." Mencium punggung tangan Mamanya.
"Aku mau duduk," Melati menepis bantuan dari Malik.
Malik menyambut suka cita atas kedatangan keluarga kecilnya, rasanya senang sekali menyambutnya setidaknya meski tidak rukun tapi biarlah orang lain melihat keluarga Septian baik-baik saja tanpa ada ganjalan di setiap kejadian yang menimpa keluarganya.
"Ayo masuk dulu." Malik menunjukkan ruang tamu yang besarnya lebih besar dari rumah Endaru, meski pernah datang kesini tapi waktu itu Adhisti tidak terlalu memperhatikan keadaan rumah ini sebab langsung masuk ke ruang keluarga bukan ruang tamu seperti sekarang.
Adhisti sedikit hawatir semenjak Oma Melati memberi tau jika mantan Papa Endaru mirip dengan dirinya, takut seperti novel-novel ya g ia baca yang gagal nikah terus malah nikah sama calon Papa mertua gara-gara mirip dengan mantan kekasihnya.
"Are you oke, Adhi?" bisiknya pelan.
"Iya, hanya sedikit hawatir Aru. Takut jika Papa kamu tiba-tiba tidak setuju dan merencanakan sesuatu, lagian aku bukan dari orang berada juga!" jawabnya hawatir.
Endaru merangkul pinggang Adhisti dan meyakinkan pada gadisnya jika ini akan baik-baik saja dan Papanya tidak akan menggangu untuk sekarang.
"Jangan hawatir Adhi, percaya sama aku sayang. Aku akan memelukmu sampai nanti dan tidak ada orang yang bisa merebut dirimu dariku untuk selamanya." Mengajak duduk di salah satu sofa panjang.
"Iya," sambil tersenyum dan menunjukkan bahwa dirinya benar-benar yakin dan tidak apa-apa.
__ADS_1
'Semoga kita selalu sama-sama Aru, tidak hanya kamu saja yang takut kehilangan tapi aku juga.'